kamarkecil

Anak-anak Melawan Stigma dan Diskriminasi akibat HIV/AIDS

Posted on: November 3, 2007

Dipublikasikan di The Jakarta Post

Sarah, 10 tahun, terkejut ketika baru mengetahui ia telah berkolaborasi dengan sejumlah anak terdampak HIV/AIDS. Perempuan kecil ini menutup mulutnya dan dengan tergesa bertanya, ”kenapa anak kecil bisa kena AIDS? Kan cuma remaja yang bisa kena?” 

Tak berhenti disana, ia kembali berujar, “Kalau bersalaman bisa menular?” Sarah adalah salah satu dari 75 siswa musik Bali Violin School (Bavisch) yang mengikuti pre-konser bersama Paduan Suara Panji Sakti. Paduan suara ini terdiri dari 30 anak-anak terdampak HIV/AIDS yang berasal dari Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. 

Pre-konser yang dilaksanakan di Bali Handara Hokaido, sebuah resor di Bedugul ini adalah pemanasan menjelang konser amal bertajuk Bali Love and Care pada 9 Juni nanti. Tak hanya bermusik, ratusan anak-anak ini menghabiskan waktu setengah hari di Bedugul dengan bermain sambil berkenalan dengan HIV/AIDS.

Sarah misalnya. Ia dan Dian, temannya yang dua tahun lebih tua terus mengajukan pertanyaan soal HIV dan AIDS ketika diajak berbincang. Ia penasaran kenapa banyak anak-anak yang bisa kena dampak akibat penularan HIV. Beberapa anak dari Gerokgak yang ikut konser adalah yatim atau yatim piatu karena orang tua mereka meninggal akibat AIDS, fase ketika kekebalan tubuh hilang dan penyakit mudah masuk akibat HIV. 

Difasilitasi Bali Community Cares (BCC), komunitas yang peduli pada anak-anak terdampak HIV/AIDS, pre konser ini juga mengajak orang tua untuk memahami HIV/AIDS. Melalui anak-anaknya, mereka ikut serta dalam dialog lewat musik untuk mengurangi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (Odha).

Untuk pertama kalinya, 30 anak-anak paduan suara Panji Sakti berdiri di atas panggung menyanyikan dua lagu, Bungan Sandat dan I Have a Dream, diiringi orkestra mini dari Bavisch. Paduan suara ini pun baru terbentuk beberapa hari menjelang pre-konser dan hanya dilatih oleh instruktur satu kali. Chairul Anam, pemilik Bavisch datang sekali ke Gerokgak dan melatih cara bernyanyi dalam paduan suara. 

Tak heran, demam panggung melanda sejumlah anak-anak paduan suara. Gede Edi, 12 tahun, sampai menangis karena tiba-tiba pusing dan sulit bernafas. Edi kini menjadi yatim piatu karena infeksi HIV yang merenggut kedua orang tuanya.

Ibu Edi, Kadek Widiasih, meninggal setahun lalu karena acquried immune deficiency syndrome (AIDS). Widiasih hanya ibu rumah tangga biasa. Dia tidak pernah melakukan perbuatan beresiko tinggi menularkan virus penyebab AIDS, human immunodeficiancy virus (HIV), seperti hubungan seks berganti-ganti pasangan tanpa kondom atau memakai jarum suntik secara bergantian. Ibu satu anak itu tertular HIV dari suaminya, Wayan Sulatra yang meninggal tiga tahun lalu juga karena AIDS.

Seusai konser, mereka bermain sambil menambah pengetahuan soal HIV dan AIDS, yang dipandu dokter Oka Negara, salah satu aktivis HIV/AIDS di Bali. Menggunakan kertas warna warni dokter Oka memperkenalkan apa  itu HIV dan kenapa anak-anak bisa terinfeksi. Oka mengatakan banyak anak terinfeksi sejak bayi, karena ibu yang terinfeksi HIV tidak tahu cara mencegah agar bayi tak tertular. Salah satunya dengan tidak memberikan air susu ibu (ASI) karena itu adalah salah satu medium penularan langsung. Medium lainnya adalah darah dan cairan kelamin. 

Setelah mengetahui informasi dasar itu, Sarah dan Dian menjadi tak ragu bermain lebih intim dengan anak-anak yang terdampak HIV itu. Sarah yang semula agak ragu mendekat karena tak tahu, malah terlihat agresif bermain bersama sambil berpegangan tangan dengan empat teman barunya dari Gerokgak.

Sekilas peristiwa di pre konser ini tak berbeda dengan kondisi di Kecamatan Gerokgak. Ketika diketahui beberapa orang terinfeksi HIV, banyak penduduk yang mengucilkan Odha. Mereka yang terinfeksi HIV dianggap dikutuk atau kena sakit buatan (niskala).

Kemudian Yayasan Citra Usadha Indonesia (YCUI) melakukan penjangkauan dan terbukalah puluhan kasus lainnya. Kebanyakan kasus terjadi pada pasangan suami istri atau dampak hubungan heteroseksual. Menurut catatan YCUI, Gerokgak berpotensi melahirkan banyak anak-anak yang positif HIV, mengingat tingginya perilaku berisiko terinfeksi HIV di daerah ini. Semakin banyak Odha, membuat sebagian penduduk membuka mata bahwa epidemi ini sangat dekat dan menginfeksi siapa saja. Inilah yang perlahan mengurangi stigma dan diskriminasi akibat mitos soal HIV/AIDS.

Menurut Data Dinas Kesehatan Bali, hingga Februari 2007, terdapat 1368 kasus HIV/AIDS di Bali, 200 orang diantaranya di Buleleng. Gerokgak adalah daerah dengan prevalensi kasus HIV/AIDS tertinggi di Buleleng.

Semakin banyak kasus terbuka menyisakan tantangan baru soal perawatan anak-anak yang terdampak HIV, khususnya anak-anak yatim piatu. Karena itulah BCC melakukan advokasi dengan memberikan bantuan pangan, sandang, dan pendidikan bagi 23 anak-anak yatim atau yatim piatu di Gerokgak. Selain itu disiapkan arena bermain dan belajar bersama, agar kelak mereka menjadi corong pencegahan HIV di komunitasnya.

Salah satu caranya dengan melibatkan anak-anak dalam konser musik. Interaksi langsung anak-anak ini menjadi hal yang paling mudah dipahami orang tua mereka untuk mengurangi stigma dan diskriminasi pada Odha. Dan gesekan biola Sarah pun tedengar lebih merdu mengiringi paduan suara Panji Sakti.

3 Tanggapan to "Anak-anak Melawan Stigma dan Diskriminasi akibat HIV/AIDS"

HAIV emang ngeri yaaaaa…… q tkut dengarnya,,,

oyaa……jangan ampe kta tertular yach………ok

aku takut banget sama HIV, lagian penyakit itu bikin orang meninggal.jadi kita harus hati2 krn HIV/AIDS ada di sekitar kita

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

Jepret!

gajah rider

beauty shemale

master massage

master&mister

thai dancer2

budha

condom factory

Odith Sawasdee

Suhu kondom DKT Indonesia di Cabbages&Condoms

Wat Pho

More Photos

slide

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

RSS Bale Bengong

  • Pameran Lukisan Seni Brut Artist from Elsewhere
    Bentara Budaya Bali menghadirkan pameran dua perupa art brut, Dwi Putro dan Ni Nyoman Tanjung. Eksibisi yang digelar dalam tajuk “Artist From Elsewhere: Two Art Brut Artist from Indonesia” ini akan dibuka pada Jumat besok dan berlangsung hingga 27 Desember 2014. Lokasi pameran di Bentara Budaya Bali (BBB) di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A...
  • Menuju Bisnis Ikan Hias yang Berkelanjutan
    Indonesia termasuk dalam Negara Net Eksportir ikan hias. Hal ini karena nilai impor ikan hias Indonesia pada 2013 sebesar $ 12.390. Pendapatan ini memiliki selisih 0,04 antara nilai ekspor dengan impor. Untuk itu KKP akan menjadikan ikan hias sebagai isu strategis Nasional. Hal tersebut sejalan dengan program Nawa Cita Jokowi – Jusuf Kalla yaitu ]meningkatka […]
  • Reklamasi Teluk Benoa ala Investor dan Tim Ahli
    Pekan lalu ada seminar bertajuk Pro Kontra Reklamasi Teluk Benoa. Tapi tak ada perwakilan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) maupun penolak lain yang hadir. Padahal kursi-kursi di ballroom Hotel Inna Bali Jl Veteran Denpasar tampak penuh. Hadir tiga tim ahli yang mendukung rencana reklamasi hampir 700 hektar ini. Juga ada presentasi dari […]
  • Mendaki Gunung Tanpa Tinggalkan Sampah
    Akhir November lalu kami berdua menerapkan pendakian zero waste ke Gunung Agung. Hal ini perlu, mengingat masih banyak pendaki meninggalkan jejak sampah di sepanjang jalur. Lihat saja sepanjang jalur Pura Besakih, Gunung Abang, dan Gunung Batukaru. Pagi dini hari Agus mempersiapkan senter. Perlahan jalan meniti menuju tinggi ke timur arah puncak. Perlengkapa […]
  • Bersepeda Bali Jakarta Menolak Reklamasi Teluk Benoa
    Bersepeda tak hanya menyenangkan dan menyehatkan. Dia juga bisa untuk menyuarakan perlawanan. Inilah yang kami lakukan selama sepuluh hari, bersepeda dari Bali ke Jakarta sambil menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa, Bali. Dahulu, sepeda adalah moda transportasi sangat penting untuk berpindah tempat. Kini, kepopuleran sepeda semakin melejit pada saat libu […]

Blog Stats

  • 94,862 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: