kamarkecil

Good God

Posted on: November 15, 2008

Saya ingin mengkoleksi artikel seperti ini, untuk warisan saya nanti.
…………………

Gusti Allah Tidak “nDeso” Oleh: Emha Ainun Nadjib

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yangampeyan pilih?”

Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.” “Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya. “Ah, mosok Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun. “Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, “katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.

Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya : kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, ikut misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan social pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga
tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.

Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan. ()

4 Tanggapan to "Good God"

Na’udzubillah..

Yup saya setuju sekali, kadang kita masih terjebak ke dalam apa yang kita namakan “Wajib”.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

Jepret!

gajah rider

beauty shemale

master massage

master&mister

thai dancer2

budha

condom factory

Odith Sawasdee

Suhu kondom DKT Indonesia di Cabbages&Condoms

Wat Pho

More Photos

slide

November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RSS Bale Bengong

  • Dari Hand Shadows Theatre hingga Video Art
    Oktober ini, Bentara Budaya Bali menggelar serangkaian acara teater. Kegiatan tersebut terangkum dalam program pekan teater “Oktober Teater Bentara Budaya Bali” yang berlangsung pada 28 Oktober hingga 31 Oktober 2014. Pekan teater ini menghadirkan berbagai agenda; dialog dan diskusi buku teater, pementasan teater, pemutaran dokumenter, pertunjukan alih kreas […]
  • Terunyan Bukan Hanya Punya Mayat Berbau Wangi
    Desa kecil di pinggir danau ini menyimpan banyak keunikan budaya Bali Mula. Desa Terunyan merupakan sebuah desa kuno di tepi danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Kurang lebih 2 jam perjalanan darat dari Sanur, Denpasar. Desa ini merupakan sebuah desa Bali Mula dengan kehidupan masyarakat yang unik dan menarik. Bali Mula berarti Bali asli. Kebu […]
  • Fajar Merah: Saya Mengabdikan Diri untuk Seni
    Bumi adalah kita, kita adalah bumi. Jangan memaksa bumi untuk menderita. Bumi adalah kita, kita adalah bumi. Mari pahami bumi. Tampil mengenakan kaos merah dan memetik gitar, begitulah Fajar Merah menyanyikan lagu Bumi adalah Kita. Fajar Merah melantunkan karyanya di depan puluhan peserta Festival Usaha Komunitas Mandiri di Bali, beberapa waktu lalu. Karya F […]
  • Zushioda, Menu Jepang ala Kaki Lima
    Makin banyak restoran jalanan ala Jepang menyerbu Denpasar. Salah satunya Zushioda dengan slogan Japanese Street Sushi. Sebagai warung ala kaki lima, tempat bersantap ini menyajikan menu nikmat dengan harga terjangkau. Warung ini semacam franchise yang memiliki banyak cabang. Di Denpasar saja, warung ini memiliki empat cabang yaitu di Jalan Teuku Umar, Food […]
  • Agar Kita Tak Serupa Sapi di Suwung
    Coretan ini dibuat setelah berjalan-jalan di TPA Suwung. Masyarakat Bali kini sedang menghadapi perang besar. Satu kubu dimotori anak-anak muda dan barisan seniman sementara kubu lain dimodali pemodal besar. Perang ini dimulai dengan perang intelektual. Perang kajian. Para pakar beradu data dan analisis. Hasilnya dipaksakan seri!! Lalu perang spanduk dan bal […]

Blog Stats

  • 91,442 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: