kamarkecil

Memanusiakan Kambing untuk Menyejahterakan Perempuan

Posted on: September 11, 2009

IMG_7705

Sri Mardani, 43 tahun, ini lebih dikenal dengan nama ibu Sri Kambing. Nama belakangnya didapat sebagai penghormatan dan ikon warga Dusun Embung Rungkas, Desa Ketare, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Diawali dengan dua ekor kambing, Sri memberikan hak anak-anaknya untuk sekolah sampai kuliah, mencegah depresi ekonomi puluhan perempuan yang ditinggal suaminya menjadi buruh migran di Malaysia, penguatan ekonomi rumah tangga, dan menumbuhkan semangat warga dusun menjaga lingkungan.

Perjalanan usaha ternaknya menginspirasi banyak orang, dan membuat warga dusun setempat tak lagi terisiolasi secara ekonomi dan mental. Padahal Dusun Embung Rungkas hingga saat ini, masih terisolasi dengan jalan tanah yang bergelombang dan penuh kubangan jika musim hujan.

Mobil hanya bisa berjalan sangat perlahan. Di kiri dan kanan jalan tanah itu terlihat rumah-rumah dari gubuk kini mulai berganti menjadi batu bata. Dusun terlihat lebih riuh dengan suara embikan kambing dan obrolan perempuan-perempuan dusun sambil mengembalakan ternaknya.

Sebagian besar suami mereka meninggalkan rumah bertahun-tahun menjadi buruh migran di Malaysia. Di rumah-rumah penduduk hanya terlihat anak-anak dan ibu mereka.

Sekitar 1992, Sri merayu Satriawan Pahri, anak lelaki 4 tahunnya untuk membuka celengan tanah liatnya. Sri berencana membeli dua kambing, jantan dan betina untuk modal awal usaha ternak.

“Saya harus mulai buka usaha. Gaji suami sebagai pegawai negeri sipil honorer hanya Rp 17 ribu per hari. Anak saya bisa putus sekolah kalau terus begini,” ingatnya waktu itu. Anaknya yang mengapit celengannya diajak ke penjual kambing di desa. “Anak saya membelah sendiri celengannya di depan penjual kambing. Isinya Rp 33 ribu. Saya tambahkan untuk beli dua kambing Rp 58 ribu rupiah ketika itu,” kata Sri.

Kambingnya terus berbiak. “Kambing saya sakit, saya kasi puyer, pil untuk manusia. Kalau sakit perut saya kasi oralit. Saya terus putar otak dan mencoba semua,” katanya sambil tertawa lepas.

Secara perlahan Sri mempelajari perilaku kambing, bagaimana sikap kambing ketika makan, makanan yang disukai, jam tidurnya, dan strategi mengembalakannya. “Kambing tidak suka tidur kalau kandangnya kotor. Saya membersihkan kandang dua kali sehari, mengumpulkan kotorannya di pojok kandang dan malamnya dibakar. Asapnya mengusir nyamuk, kambing jadi tidur nyaman,” tuturnya.

Ia memberi makan kambingnya teratur dalam rentang waktu jam 10.00 sampai 14.00 Wita. “Embekan kambing itu alarm. Kalau kambing saya ngembek pertama artinya sudah jam 10 pagi. Jadi kambing saya jarang ribut karena sudah tahu jam makannya,” tambah Sri.

Pengembalaan kambing menurutnya hal yang sangat penting. Ia bergantian dengan kedua anaknya mengikuti kemana pun kambingnya pergi, selama berjam-jam sampai sekian kilometer dari rumahnya. Tak lupa Sri membawa daun turi, kesukaan kambing agar ternaknya tak makan tumbuhan orang lain. “Kalau kambing sudah capek, dia akan makan lahap dan cepat besar. Kambing tidak suka dikekang,” kata Sri.

Sri juga punya catatan khusus, Kartu Kambing Menuju Sehat. Sebuah catatan yang menjadi panduan trik-trik apa saja yang menjaga kambing sehat.

Salah satunya pemberian susu formula bagi anak kambing yang tidak mendapat air susu dari induknya. Karena puting susu kambing betina hanya dua, jika ada bayi ketiga, otomatis tak mendapat susu. “Semua anak kambing harus mendapat susu. Kalau tidak bisa mati. Anak kambing saya belum pernah ada yang mati,”ujarnya.

Usaha ternaknya yang maju, membuat tetangganya terbeliak. Sri merenovasi rumahnya dari anyaman bambu menjadi batu bata. Anak pertamanya pun kuliah. Suatu hal yang dinilai mustahil bagi warga disana ketika itu. Satriawan Pahri dewasa kini menjadi polisi di Lombok.

Pada 2004, kambingnya sudah 80 ekor.

Satu demi satu perempuan di dusun mengikuti jejaknya memelihara kambing. Mereka tak lagi termangu menunggu telepon dari suami yang menjadi buruh di Malaysia.

Inisiatif Sri dihargai sebuah lembaga bantuan pemerintah asing, Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Phase I untuk menyebarkan gagasan dan penguatan kelompok ternak.

Dukungan ini mengharap kolaborasi dengan pemerintah daerah setempat misalnya dalam pemeliharaan kesehatan kambing. “Kalau kambing saya sakit, sudah gampang memanggil dokter hewan dari Dinas Peternakan disini. Kalau tak punya uang, bisa ngutang dulu. Jadi tidak pakai obat manusia lagi,” ia tertawa.

Pada suatu hari di bulan Agustus lalu, belasan perempuan terlihat berkumpul di rumah Sri. Mereka berbincang mengenai rencana penjualan kambing jelang bulan Ramadhan. Wajah mereka terlihat berseri karena harga kambing dipastikan melambung. “Harga kambing paling murah Rp 800 ribu per ekor. Kalau yang bagus bisa Rp 2 juta per ekor untuk usia minimal 2 tahun. Musimnya panen kambing,” seru Sri.

Tanpa suami, perempuan-perempuan desa berkumpul dalam tujuh kelompok peternak. Tiap kelompok terdiri dari 10 orang, dengan sedikitnya 20 ekor ternak. Artinya saat ini sedikitnya 70 orang perempuan kini bisa mandiri walau tanpa suami, dari beternak sampai memutuskan harga jualnya.

“Ketika kuliah dan kini menjadi polisi, anak saya tidak malu mengembalakan ternak. Saya terus ingatkan kambing adalah jawaban doa dari Tuhan ditambah kerja keras agar kita tak terbelit kemiskinan,” Sri mengucapkan dengan nada tinggi.

Ia dan kelompok peternak menyepakati awiq-awiq (peraturan komunal di Lombok) hukum kambing yang dijunjung tinggi yakni dilarang menjual bayi kambing. Kambing hanya bisa dijual jika cukup umur untuk daging potong dan kebutuhan darurat.

Berbicara dengan Sri, adalah juga belajar cara memperlakukan kambing dengan rasa hormat. Setiap topik pembicaraan selalu muncul prinsip perawatan kambing yang ditularkannya pada peternak perempuan lain.

Misalnya secara alamiah ia mengetahui peyebab kenapa kambing sulit makan. Di antaranya karena rambut kambing sering menutupi matanya sehingga sulit melihat makanan. Karena itu ia rajin mencukur rambut kambingnya, bahkan kadang dikuncir.

Lalu, anak kambing yang tumbuh dengan susu formula pasti tabiatnya manja seperti manusia. Karena itu harus sering diperhatikan agar pertumbuhannya baik. Sejumlah kambing seperti ini bahkan kerap berperilaku seperti anjing. Misalnya menyambut Sri dan suaminya jika pulang.

Yang lebih penting lagi, kelompok peternak sepakat harus mulai meremajakan pohon-pohon turi sebagai pakan utama ternak di sepanjang pematang sawah. Konservasi lingkungan menurut Sri harus dilakukan karena lahan akan terus berkurang untuk mencegah kekurangan pakan ternak.

Kambing, ternak favorit jelang bulan Ramadhan dan hari-hari besar umat Muslim itu adalah penyelamat Sri dan puluhan keluarga di Dusun Kampu. Hal ini tak terlepas dari upaya memanusiakan kambing dengan perlakuan dan perawatan yang baik. “Saya akan selalu tanamkan, kambing adalah penyelamat hidup saya, anak-anak, dan warga disini,” katanya emosional.

5 Tanggapan to "Memanusiakan Kambing untuk Menyejahterakan Perempuan"

Ayo, kapan ibu2 di bali ternak babi? Hehe!

Pesan dari judul tulisan ini mulia banget. Perlakukan alam (binatang dan tumbuhan) secara manusiawi, maka mereka akan membuat manusia sejahtera. Saya percaya banget itu. :)

dulu pernah keluarga saya membudidayakan babi…tapi sekarang udah pada dijual…

setuju sama bli Pushandaka…perlakukan alam dengan baik maka alam pun akan membuat manusia sejahtera…

kapan2 ajak2 jalan mbok luh de..

pushandaka: ihhh kamu memang laki2 yang serius ya. cocok deh jadi diplomat… ameen!

eka: beneran ya ta ajak ke kampungku di karangasem. ini wisata kuliner

i’m touch… go peternak indonesia

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

Jepret!

gajah rider

beauty shemale

master massage

master&mister

thai dancer2

budha

condom factory

Odith Sawasdee

Suhu kondom DKT Indonesia di Cabbages&Condoms

Wat Pho

More Photos

slide

September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

RSS Bale Bengong

  • Dari Hand Shadows Theatre hingga Video Art
    Oktober ini, Bentara Budaya Bali menggelar serangkaian acara teater. Kegiatan tersebut terangkum dalam program pekan teater “Oktober Teater Bentara Budaya Bali” yang berlangsung pada 28 Oktober hingga 31 Oktober 2014. Pekan teater ini menghadirkan berbagai agenda; dialog dan diskusi buku teater, pementasan teater, pemutaran dokumenter, pertunjukan alih kreas […]
  • Terunyan Bukan Hanya Punya Mayat Berbau Wangi
    Desa kecil di pinggir danau ini menyimpan banyak keunikan budaya Bali Mula. Desa Terunyan merupakan sebuah desa kuno di tepi danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Kurang lebih 2 jam perjalanan darat dari Sanur, Denpasar. Desa ini merupakan sebuah desa Bali Mula dengan kehidupan masyarakat yang unik dan menarik. Bali Mula berarti Bali asli. Kebu […]
  • Fajar Merah: Saya Mengabdikan Diri untuk Seni
    Bumi adalah kita, kita adalah bumi. Jangan memaksa bumi untuk menderita. Bumi adalah kita, kita adalah bumi. Mari pahami bumi. Tampil mengenakan kaos merah dan memetik gitar, begitulah Fajar Merah menyanyikan lagu Bumi adalah Kita. Fajar Merah melantunkan karyanya di depan puluhan peserta Festival Usaha Komunitas Mandiri di Bali, beberapa waktu lalu. Karya F […]
  • Zushioda, Menu Jepang ala Kaki Lima
    Makin banyak restoran jalanan ala Jepang menyerbu Denpasar. Salah satunya Zushioda dengan slogan Japanese Street Sushi. Sebagai warung ala kaki lima, tempat bersantap ini menyajikan menu nikmat dengan harga terjangkau. Warung ini semacam franchise yang memiliki banyak cabang. Di Denpasar saja, warung ini memiliki empat cabang yaitu di Jalan Teuku Umar, Food […]
  • Agar Kita Tak Serupa Sapi di Suwung
    Coretan ini dibuat setelah berjalan-jalan di TPA Suwung. Masyarakat Bali kini sedang menghadapi perang besar. Satu kubu dimotori anak-anak muda dan barisan seniman sementara kubu lain dimodali pemodal besar. Perang ini dimulai dengan perang intelektual. Perang kajian. Para pakar beradu data dan analisis. Hasilnya dipaksakan seri!! Lalu perang spanduk dan bal […]

Blog Stats

  • 91,480 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: