kamarkecil

Pruralisme di Sulut: Kebajikan Fernando dan Bukit Kasih

Posted on: Januari 31, 2010

Fernando, remaja pria 14 tahun ujug-ujug menyambut dengan sangat ramah di pintu masuk Bukit Kasih, sekitar 50 km selatan Kota Manado, Sulawesi Utara. Keramahannya adalah kelihaiannya bercerita. Langkah kaki guide cilik di kawasan wisata alam dan spiritual di Desa Kanonang, Kecamatang Kawangkoan, Kabupaten Minahasa ini sangat ringan sepanjang menapak ratusan anak tangga. Sebuah tas kresek besar berisi lusinan kaos bergambar Bukit Kasih digamitnya santai.

Dari mulutnya meluncur tanpa henti hikayat Bukit Kasih, sebuah mitologi tentang kasih dan persaudaraan. Alkisah ketika bukit masih kosong ada seorang peri bernama Kerawa. Lalu ada anak dan ibu, Toar dan Lumimuut, yang kemudian disebut sebagai nenek moyangnya Minahasa. Kerawa memberikan sebuah tongkat untuk mereka, yang lalu dibagi dua bagian.

Anak dan ibu ini kemudian terpisah. Setelah beranjak dewasa, Toar kembali menemukan bukit itu, rumahnya dulu. Ia lalu bertemu seorang perempuan, Lumimuut yang dianugerahi awet muda oleh Kerawa. Anak dan ibu ini menikah tanpa menyadari ikatan darah di antara keduanya. Mereka lalu punya sembilan anak, yang disebar ke sembilan penjuru angin. Inilah hikayat yang dipercaya sebagai cikal bakal sembilan etnis yang ada di Sulawesi Utara.

“Toar dan Lumimuut dikutuk Kerawa jadi batu karena menikah. Itu dia dua batu berpelukan. Tidak boleh memukul batu itu, nanti sakit,” urai Fernando. Di sela-sela dongengannya, dengan tangkas Fernando menjawab pertanyaan orang-orang dewasa soal nama tumbuhan sekitar bukit.

Kawasan Bukit Kasih yang dulunya disebut Bukit Doa ini memang penuh varian tanaman. Bukit-bukit kapur dan bongkahan belerang di sana-sini. Asap belerang menggumpal bak awan dan tak pernah hilang.

“Sebelum ke Tembok Cina, latihan dulu di sini,” kata Fernando. Diikuti seringai masam orang-orang dewasa yang iri melihat langkah ringannya memandu pengunjung. Jika kita menaiki semua rute Bukit Kasih, sedikitnya ada 1000 anak tangga.

Bukit Kasih adalah simbol kebajikan Sulawesi Utara soal penghargaan pada kebergaman. Ada lima bangunan simbol lima agama dibuat ketika Bukit Kasih dibangun. Jika kita memutari bukit dari arah kiri, deretan bangunan bertembok putih itu dimulai dari Katolik, Budha, Hindu, Islam, dan Kristen Protestan.

Lima bangunan ini hanya simbol spirit solidaritas, karena banyak keyakinan dan kepercayaan lain juga di Sulut. Sejumlah pengunjung bersembahyang ke tempat ibadahnya masing-masing. Dewa Suardana, remaja asal Bali terlihat surprise melihat bangunan seperti pura dan langsung menuju tugu pemujaan umat Hindu di Bali ini. “Saya bahagia bisa bersembahyang bersama dengan teman di tempat ibadahnya masing-masing. Kebanggaannya lain,” kata Dewa.

Dalam bangunan pura sederhana itu, hanya ada satu tugu menghadap arah kaja kangin (tenggara atau timur utara), arah yang disucikan umat Hindu. Umat tak harus menggunakan pakaian adat atau membawa bunga untuk bisa bersembahyang. Bahkan tanpa atribut itu, mereka terlihat lebih khusyuk.

Sekitar lima meter dari tembok pura, beberapa lelaki terlihat mengambil air wudhu untuk memulai sholat di mushola. Mereka bersujud menghadap kiblat, mengucapkan syukur walau belum waktunya sholat ketika itu. Di dalam mushola, ada beberapa sajadah dan mukena lusuh tergantung di tali. Sangat kotor, tapi tak menghalangi niat menunaikan sholat.

Demikian juga umat lainnya. Bukit Kasih seakan memberi keteduhan dan kedamaian sempurna. Berbagai tata cara persembahyangan terlihat menyatu dengan keharmonisan alam. Keluar dari tempat ibadahnya masing-masing, pengunjung kembali menyatu di tangga-tangga beton untuk turun.

“Semua tanaman di sini tumbuh subur karena penuh kasih. Nanti saya akan pijat ibu dengan air belerang di bawah,” celoteh Fernando lagi. Benar saja, di ujung anak tangga terakhir, Fernando dan teman-teman sebayanya sudah menyiapkan ember-ember berisi air panas dari sumber air belerang sekitar bukit.

Selain air hangat belerang, pengunjung bisa menikmati kacang tanah, kacang Kawangkoan, hasil petani sekitar bukit yang gurih dan dimasak secara alami dengan menggunakan pasir. Bukan digoreng atau direbus.

Juga ada hidangan pisang goreng dengan sambal dabu-dabu yang pedasnya sedang. Ditambah secangkir teh hangat, makin membuat panjang waktu kunjungan ke Bukit Kasih. Diskusi ringan soal kehangatan alam dan solidaritas beragama terdengar di sejumlah kelompok pengunjung.


Jumlah penduduk Sulut sekitar 2,2 juta jiwa tersebar di 11 kabupaten dan empat kota. Menurut wikipedia, mayoritas warganya beragama Katolik (65%), lalu Islam (28,4%), Protestan (6%), dan lainnya.

Namun kini Sulawesi Utara memang makin mengkampanyekan diri sebagai daerah multikultur. Tak hanya disimbolkan tersebarnya ratusan bangunan suci di sepanjang jalan seperti gereja, masjid, dan lainnya. Tapi juga respon-respon warga. “Saya tak pernah memikirkan perbedaan. Kitorang samua basudara jo,” ujar Leni, perempuan paruh baya setempat sambil tertawa lepas. Frase Kitorang Samua Basudara dengan mudah ditemui di souvenir-souvenir khas Sulut, seperti tshirt dan topi.

About these ads

5 Tanggapan to "Pruralisme di Sulut: Kebajikan Fernando dan Bukit Kasih"

ooo ada yang begitu di sulawesi utara ya…. aku baru tau.
tapi 1000 anak tangga.. hadehh… ga ada yang nyewain kursi roda mbak buat aku? hiahia!!
dan Bukit Kasih, namanya bagus banget. :)

putri: yo ke manado.. aku blum ke bunaken.. pasti, deh someday. 1000 anak tangga bisa didiskon jadi separuh, karena ada jalan pintas. hehehe

[...] Back because your comments on that thread urged me to build this category. There are AndyPutera09, Luh De Suriyani, Anton Muhajir, Pria Purnama and Gustulank. Thanks guys. I will also write my experience and story [...]

hmmm peacefull place :)

[...] Benar saja. Lima menit kemudian sebuah mobil Starlet datang dan di dalamnya berisi Anton Muhajir, Lode, Bani dan Udin (keponakan Anton Muhajir). Tidak berapa lama muncul pasangan Lina dan Rahaji yang [...]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

Jepret!

gajah rider

beauty shemale

master massage

master&mister

thai dancer2

budha

condom factory

Odith Sawasdee

Suhu kondom DKT Indonesia di Cabbages&Condoms

Wat Pho

More Photos

slide

Januari 2010
S S R K J S M
« Des   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

RSS Bale Bengong

  • Urbanis Apartementus: Kehidupan Spesies Apartemen
    Dulu manusia hidup dekat supaya hangat, kini manusia hidup dekat dalam sekat. Begitulah spesies dalam film Urbanis Apartementus. Kelompok manusia urban yang tinggal di apartemen. Urbanis Apartementus adalah film panjang pertama karya Lingkar Alumni Indie Movie atau LAIM (laindiemovie.com). Mereka menggabungkan empat segmen cerita yang berbeda ke dalam sebuah […]
  • Foto Bali Tolak Reklamasi Art Event 2014
    Photo Oleh: Ida Bagus Gede Wibawa (GusWib)
  • Menjaga Curik dengan Awig-awig
    Jalak Bali, satwa endemik Bali makin menurun populasinya. Ia dicuri dan diperjualbelikan dari habitatnya di sebagian wilayah Bali Barat. Namun, pencurian dan memperdagangkan Jalak Bali tak terjadi di Nusa Penida, pulau di Kabupaten Klungkung. Justru, mereka terjaga dan hidup berdampingan dengan masyarakat. Kenapa bisa? Memasuki minggu ke dua di bulan Oktober […]
  • Terasering Ceking NOT FOR SALE
    Subak Terasering di Ceking, Tegalalang, Bali, membuat penasaran. Salah satu warisan dunia versi Badan Pendidikan dan Kebudayaan PBB UNESCO tersebut lebih menarik perhatian dari biasanya. Sebuah sign besar “Not For Sale” terpampang di sana. Sign “Not For Sale” memanjang di antara hantaran pematang sawah tersebut. Sign ini merupakan salah satu bagian karya sen […]
  • Anakku Arsa, Biar Sang Anugerah Terus Move On
    Ketika Arsa menemukan Perhimpunan Peduli Autisme Bali sebagai tempat belajar, hati kami mulai lebih tenang. Dia tak lagi minta pulang ke rumah. Tak lagi memasukkan seragam ke lemari. Lingkungan sekolah yang memberi rasa aman dan kondusif penting bagi Arsa setelah pengalaman buruknya berkali-kali (pula) di waktu lalu. Saat itu siswa di Perhimpunan Peduli Auti […]

Blog Stats

  • 90,981 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: