HIV/AIDS


Pada hari itu, karirku (ceilah) di Kulkul berakhir di tempat yang sama di mana aku memulainya lima tahun lalu. Hotel ex Radisson yang sekarang jadi Prime Plaza, Sanur, tempat memulai dan mengakhiri itu.

Pada 2004 itu aku baru aja merampungkan ujian skripsi. Saat itu jadi kontributor Harian Media Indonesia (MI) di Bali, dan aku lagi pakai jaket MI warna hitam pas ada acara Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali soal Komitmen Sanur. Babak penting penanggulangan AIDS di Bali, ketika pimpinan kabupaten dibukakan matanya soal epidemi HIV.

(more…)

Akhirnya tiba juga waktunya aku mencoba IUD alias alat KB pasang. Pagi tadi sekitar jam 9 aku dah nongkrong di Klinik PKBI, Gatsu IV.

Sesuai anjuran petugas jaga klinik PKBI saat pertama datang, aku disuruh pasang KB jenis ini pada hari ke-3 masa menstruasi. ”Biar gampang pasangnya. Kalau nggak, dokter pasti nggak mau pasang karena susah masukinnya,” begitu kata si ibu petugas pos pendaftaran.

Nah, inilah waktunya. Padahal aku udah takut karena telat menstruasi sebelumnya. Untung deh, ternyata tidak ada kesalahan penggunaan kondom. Hehe (more…)

foto-blog-psk1.jpgfoto-blog-psk1.jpg

Lokasi transaksi seks (lokalisasi?) itu nyata ada dan telah hidup menghidupi masyarakat sekitarnya sejak 1975. Di tengah pemukiman penduduk, sekolah dasar, SMA, SMP, tempat ibadah, hotel, dan remaja yang menikmatinya.

Daerah transaksi seks ini akrab disebut Carik, karena dulu berdiri di tengah-tengah sawah. Persawahan itu kini menjadi perumahan yang padat. Saking padatnya, ruas-ruas gang semrawut dan sepeda motor kesulitan melaluinya. (more…)

Kunjungan saya ke kantor KPA Bali, Jl Melati pada Senin (18/2) Februari lalu itu benar-benar menjadi klimaks. Sad ending. Penyesalan dan kekecewaan saya membuncah.

Padahal hari itu saya membawa semangat yang bertumpuk ke KPA. Saya merencanakan akan membuat beberapa artikel Lentera media cetak dengan tenang sambil makan siang. Saya mengemas makan siang dari rumah, lengkap dengan air minumnya. Tumben banget, padahal saya biasanya selalu minta air di Rai-IHPCP. Nggak tahu, mungkin saking semangatnya mau menghabiskan setengah hari itu di KPA. (more…)

 Kilas Balik 20 Tahun HIV/AIDS di Bali

Beberapa waktu lalu, seorang pria yang terinfeksi HIV meninggal di Rumah Sakit Sanglah. Kondisi tubuhnya tidak bisa menahan gempuran gejala penyakit akibat Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang telah lama menyerang kekebalan tubuhnya. Kekebalan tubuhnya cepat merosot karena pria ini tidak mendapat pengobatan sedikit pun.

Akibatnya, fase Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), suatu kondisi adanya sekumpulan gejala penyakit di tubuh, dengan cepat diidap pria muda ini. Sang istri menyesal karena terlambat tahu bahwa ada terapi pengobatan untuk orang dengan HIV atau AIDS (Odha) seperti suaminya.

Sampai si suami tergolek lemah berminggu-minggu di rumah sakit pun, keluarga mempercayai kerabatnya kena ilmu hitam (ada nak ririh). Mereka tak mau menerima anaknya dinyatakan positif HIV. Hanya sang istri yang mengakui dan dengan ikhlas terus merawat suaminya yang sudah sulit berbicara itu. (more…)

Luh De Suriyani

Sudah lebih dari dua kali Ibu Jero, 36 tahun, melakukan testimoni di kantor DPRD Bali dan kantor gubernur. Terakhir, saya melihatnya kembali diundang untuk testimoni di Kantor Gubernur Bali akhir Oktober lalu. Perempuan dengan HIV/AIDS (Odha) itu masih saja menanyakan hal yang sama. Kenapa saya harus kena HIV? Adakah perempuan lain yang juga kena?

Ibu Jero adalah petugas pengangkut sampah di daerah Denpasar Timur. Setiap kali diundang testimoni ia tidak bisa menceritakan secara langsung bagaimana ia hidup dengan HIV selama beberapa tahun ini. Dengan Bahasa Bali, Jero hanya bisa menjawab paling banyak dua kata setiap kali pertanyaan dilontarkan padanya untuk membuat dia bicara.

Sangat beralasan kenapa Bu Jero selalu linglung jika ditanya asal muasal virus HIV yang kini dalam tubuhnya. “Kenapa harus saya yang kini menjelaskan, padahal saya tidak tahu apa-apa. Tanya suami saya yang sudah meninggal,” tukas perempuan yang kelihatan lebih tua dibanding usianya itu.

(more…)

Dipublikasikan di The Jakarta Post

Sarah, 10 tahun, terkejut ketika baru mengetahui ia telah berkolaborasi dengan sejumlah anak terdampak HIV/AIDS. Perempuan kecil ini menutup mulutnya dan dengan tergesa bertanya, ”kenapa anak kecil bisa kena AIDS? Kan cuma remaja yang bisa kena?” 

Tak berhenti disana, ia kembali berujar, “Kalau bersalaman bisa menular?” Sarah adalah salah satu dari 75 siswa musik Bali Violin School (Bavisch) yang mengikuti pre-konser bersama Paduan Suara Panji Sakti. Paduan suara ini terdiri dari 30 anak-anak terdampak HIV/AIDS yang berasal dari Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. 

(more…)