Tulisan


Mahkamah Konstitusi telah menghapus pasal-pasal ancaman pidana bagi pencemaran nama baik dalam KUHP yang termasuk pasal karet karena kerap digunakan penguasa untuk memenjarakan pengkritiknya. Namun kini, Undang-undang No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang baru-baru ini disahkan malah berisi pasal-pasal terkait pencemaran nama baik dan penghinaan yang sangat membingungkan itu.

Isi UU ITE terkait ini mengancam semua pengguna dan penyedia informasi seperti pembaca, pembuat blog/web, pers, dan lainnya. Tak hanya itu, di DPR juga telah ada rancangan undang-undang Tindak Pidana Bidang Teknologi Informasi. Melihat judulnya, sangat jelas tujuan undang-undang ini.

Demikian rangkuman diskusi yang dilaksanakan Bali Blogger Community (BBC) di D’Palensa Cafe, Renon, Denpasar, Minggu (11/5). Diskusi interaktif ini menghadirkan pembicara I Ketut Jack Mudastra (Kabid Sistem Informasi Manajeman Badan Informasi dan Telematika Daerah (BITD) Bali, I Putu Hendra Brawijaya (Professional Web Desaigner, anggota BBC), dan Wayan “Gendo” Suardana (Ketua Persatuan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Bali. (more…)

Hampir 30 tahun ini Men Tunjung membawa kesegaran dari rumah ke rumah. Berbekal dua toples ramuan tradisional ia menyusuri jalan-jalan seputaran Denpasar. Peluhnya berbuah wangi kenanga di tubuh pelanggannya.

Sekitar pukul 10 pagi ia bersiap dari rumahnya di kawasan Batubulan, Gianyar, menuju sejumlah tempat tinggal pelanggan jasa kecantikannya. Men Tunjung sendiri tak menunjukkan citra sebagai seorang ahli kecantikan. Tubuhnya terbalut kamen (sarung tradisional Bali), baju kebaya lusuh plus sehelai handuk yang kadang terlilit di kepalanya. (more…)

Dimuat di The Jakarta Post

Nyaris tiap hari warga di Jl. Subak Dalem, Denpasar Utara mengeluh soal penumpukkan sampah tanpa pengelolaan di beberapa lahan kosong di daerah itu. Kadangkala sampai menyulut konflik antar tetangga. Seperti yang terjadi pada suatu pagi, 3 Desember lalu.

Bu Risma, 36 tahun, bersitegang dengan beberapa tetangga yang seenaknya menumpuk sampah di sisi timur rumahnya. Lahan kosong sebelah rumahnya itu kini hampir setengahnya tertutup timbunan berbagai jenis sampah. Kebanyakan sampah plastik seperti tas kresek, bungkus makanan ringan, dan sebagian lagi limbah sisa makanan.

(more…)

Beragam masakan dan penganan khas Bali yang biasanya agak sulit ditemukan kini bisa dinikmati di festival makanan, Denpasar Food Heritage Festival 2007 yang dilaksanakan 29-30 Desember ini di pusat kota. Misalnya sate kakul (keong sawah), lawar cumi, krupuk klejat (sejenis kerang), nasi sela (ketela), dan lainnya.

Sekitar 50 meter dari nol kilometer Denpasar, dekat Patung Catur Muka, empat belas stan berjajar. Hujan deras yang datang tiba-tiba sempat membuat panik sejumlah pedagang yang bersiap menggelar dagangannya di kawasan Jalan Veteran, depan Hotel Inna Bali.

(more…)

Dipublikasikan di The Jakarta Post

Sarah, 10 tahun, terkejut ketika baru mengetahui ia telah berkolaborasi dengan sejumlah anak terdampak HIV/AIDS. Perempuan kecil ini menutup mulutnya dan dengan tergesa bertanya, ”kenapa anak kecil bisa kena AIDS? Kan cuma remaja yang bisa kena?” 

Tak berhenti disana, ia kembali berujar, “Kalau bersalaman bisa menular?” Sarah adalah salah satu dari 75 siswa musik Bali Violin School (Bavisch) yang mengikuti pre-konser bersama Paduan Suara Panji Sakti. Paduan suara ini terdiri dari 30 anak-anak terdampak HIV/AIDS yang berasal dari Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. 

(more…)

Kamis, 25 Oktober kemarin menjadi hari kelahiran kembali Ida Bagus Satriya Sardjana. Master bidang Ilmu agama dan Kebudayaan itu terlahir kembali menjadi Ida Pedanda Gede Putra. Istrinya, Anak Agung Rai pun di-diksa, yang kemudian bernama Ida Pedanda Agung Istri. Inilah nama baru mereka. Sekitar seribu warga dan pejabat pemerintah menyaksikan puncak perayaan lahirnya seorang pemimpin agama Hindu.

Setelah 47 tahun, akhirnya Puri Pemeregan, Pemecutan, Denpasar Barat, kembali melahirkan seorang Ida Peranda, sebutan pemimpin umat Hindu dari strata brahmana. Ditandai dengan upacara Padiksan atau Askara, yaitu upacara penyucian diri untuk mencapai tingkatan Dwi Jati atau lahir untuk kedua kalinya.

Lahir pertama adalah dari rahim ibu, dan kedua kalinya dari Sang Guru Suci yang disebut Nabe. Ini adalah puncak kewajiban sebagai manusia, yang telah lepas dari kehidupan duniawai.

(more…)

Menikmati Sanur, untuk sebagian kalangan lebih memuaskan dari pada di Kuta. Pantai, hiburan malam, jasa kecantikan, dan hospitality-nya lebih beragam. Kita bisa memilih menyukai pantai dan tempat hiburan yang pikuk atau sunyi.

Pagi hari di Kuta, turis atau penghuninya masih terlelap. Sementara di sanur, pagi hari adalah momen yang menyenangkan. Sepanjang jalan Danau Tamblingan sampai Pantai Mertasari, para pelancong terlihat jalan kaki sambil terlihat sesekali ngobrol dengan masyarakat sekitar.

Trotoar jalan tak disesaki pedagang, jadi cukup lapang dan nyaman untuk jalan-jalan. Biasanya suasana pagi terlihat lebih meriah di sepanjang pantai di Desa Sanur. Matahari pagi  menghangatkan tubuh yang disapu angin laut. Sebagian pelancong memilih joging atau duduk memandang matahari yang menyembul di horison.

(more…)

The Jakarta Post, November 07, 2005

Australians, especially those whose lives were directly affected by the Bali bombing in 2002, were outraged by media reports just over a month ago that convicted bomber Ali Imron was spotted having coffee with a police officer at a Starbucks outlet in Jakarta.

The incident prompted the Australian government to lodge a protest with the Indonesian government and furor ensued in the Australian media.

Australia and the United States continue to maintain travel advisories, warning their citizens against visiting Indonesia in the light of the bombing outside the Australian Embassy in Jakarta on Sept. 9, 2004.

However, no matter what happens, Bali remains in the hearts of many international tourists.

(more…)

The Jakarta Post (Wednesday, 15 September 2004)

Luh De Suriyani, Contributor,
Karangasem

The twigs of a coconut tree in front of the small lodge in Candi Dasa beach, Karangasem regency, Bali danced violently in the wind.

The strong wind also whipped up some large waves that smashed the foundation of the building that directly faces the Bali strait. A part of the foundation was eroded by seawater, while the big stones that were piled up as a barrier were smashed into pieces.

(more…)

-dimuat Media Indonesia 8 Juni 2004-

KEHENINGAN menyergap ketika menelusuri jalan setapak dari tanah yang bercampur dengan kerikil. Beberapa orang turis tampak sibuk memotret dan beberapa kali terlihat keluar masuk rumah penduduk yang berjejer berhadapan di sisi kanan dan kiri.

Inilah pemandangan yang rutin di desa adat Tenganan Pagringsingan di Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, sekitar 85 kilometer sebelah timur Denpasar.

Sepanjang jalan setapak, memang terdapat ratusan rumah berderet berimpitan. Hampir semua bangunan terbuat dari batu bata merah atau batu kali yang ditambal dengan tanah. Pintu masuk rumah penduduk itu sempit, hanya berukuran satu orang dewasa, dan bagian atas pintu menyatu dengan atap rumah yang terbuat dari rumbia.

Di tengah-tengah pelataran desa terdapat puluhan bangunan serupa bale-bale panjang. Bangunan tersebut dijajar simetris dengan rumah-rumah penduduk dan difungsikan sebagai sarana upacara adat masyarakat setempat.

(more…)