<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>kamarkecil</title>
	<atom:link href="http://lodegen.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lodegen.wordpress.com</link>
	<description>di mana pikiran beristirahat</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Dec 2009 05:19:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='lodegen.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e320e167388088cb67439a7d35bf4b8b?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>kamarkecil</title>
		<link>http://lodegen.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://lodegen.wordpress.com/osd.xml" title="kamarkecil" />
		<item>
		<title>Ibu Ayu, I Cant do What u Did</title>
		<link>http://lodegen.wordpress.com/2009/12/16/ibu-ayu-i-cant-do-what-u-did/</link>
		<comments>http://lodegen.wordpress.com/2009/12/16/ibu-ayu-i-cant-do-what-u-did/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 05:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lodegen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[jamkesmas]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Lombok]]></category>
		<category><![CDATA[pasien miskin]]></category>
		<category><![CDATA[RS Sanglah]]></category>
		<category><![CDATA[SKTM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lodegen.wordpress.com/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[
Jumaendah, demikian nama gadis Ibu Ayu, 50 tahun. Sejak 2005, Ayu telah menemani  sedikitnya 100 pasien miskin dari berbagai wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat yang mencari pengobatan ke Bali. Pada Selasa (15/12), Ayu menemani Riyan Saputra, remaja 15 tahun dari Selong, Lombok Timur.
Riyan saat ini membutuhkan bantuan karena mengidap tumor kelenjar getah bening di lehernya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=357&subd=lodegen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/12/ibu-ayu-lombok-blog.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-356" title="ibu ayu-lombok-blog" src="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/12/ibu-ayu-lombok-blog.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" width="450" height="600" /></a></p>
<p>Jumaendah, demikian nama gadis Ibu Ayu, 50 tahun. Sejak 2005, Ayu telah menemani  sedikitnya 100 pasien miskin dari berbagai wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat yang mencari pengobatan ke Bali. Pada Selasa (15/12), Ayu menemani Riyan Saputra, remaja 15 tahun dari Selong, Lombok Timur.</p>
<p>Riyan saat ini membutuhkan bantuan karena mengidap tumor kelenjar getah bening di lehernya. Riyan terlihat lemah dengan benjolan besar di leher kirinya. Besarnya hampir menyamai ukuran kepala remaja kelas III SMP ini. Ia dirawat di kamar kelas III RS Sanglah Denpasar setelah Rumah Sakit Mataram menyerah dan merujuknya ke Denpasar.<span id="more-357"></span></p>
<p>Sri Hartini, Ibu Riyan minta bantuan Dinas Sosial di Lombok untuk mendampingi ke Denpasar, namun gagal. “Dinas sosial bilang tak bisa bantu karena biayanya besar,” keluh Sri.</p>
<p>RS Mataram, menurut Sri tidak memiliki alat kemoterapi. Karena itu dirujuk ke Denpasar. Ia terlihat masih kebingungan membaca rekam medis Riyan dan jenis obat-obatan yang tertulis di sejumlah dokumen yang dipegangnya.</p>
<p>Dari informasi mulut ke mulut, ia mengetahui ada Ibu Ayu, perempuan dermawan yang kerap membantu pasien-pasien miskin yang dirujuk ke Denpasar. Ayu menyanggupi permintaan Sri.</p>
<p>“Sayang sekali, Riyan sudah divonis tumor stadium III dan penyakitnya sudah sangat parah. Saya terlambat mengetahuinya,” ujar Ayu. Namun, Ayu masih bersemangat dengan mengurus administrasi surat miskin untuk Riyan dan mencarikan tempat kos di Denpasar. “Riyan akan menjalani kemoterapi dan akan sangat mahal kalau bolak balik Denpasar-Lombok,” katanya.</p>
<p>Benjolan tumor di leher kanan Riyan memang sudah terlihat delapan bulan lalu. Benjolan itu diobati selama 1,5 bulan di Lombok dan sempat hilang. Tiba-tiba tiga benjolan sekaligus malah muncul di leher sebelah kiri. Kini sudah sangat besar karena didiamkan dengan alasan takut ke Bali sendiri.</p>
<p>Ayu mengakui sebagian besar pasien yang didampinginya adalah pasien dengan tumor atau kanker yang tak bisa diobati di Lombok. Pasien pertama yang dibantunya adalah anak kecil berusia 8 bulan dengan tumor di kepala.</p>
<p>Ayu menyimpan sejumlah nomor telepon wartawan media lokal di Bali untuk menggalang bantuan bagi pasien yang didampinginya di RS Sanglah. “Saya tidak punya banyak uang dan butuh donasi sukarela,” katanya.</p>
<p>Ikhwal kegiatan pendampingannya ini karena anak perempuannya kerap sakit ketika kecil. “Saya kesulitan bolak-balik mengobati anak saya, jadi saya selalu trenyuh melihat peristiwa seperti ini,” tambah Ayu.</p>
<p>Ketika mengantar Riyan, Ayu tumben didampingi suaminya, Kamaluddin ZA yang telah pensiun sebagai dosen di Universitas Islam Indonesia. “Anak-anak saya juga sering ke Bali tapi bukan untuk liburan. Namun nganter pasien juga,” katanya sambil tertawa.</p>
<p>Banyak pasien miskin yang butuh pendampingan, menurut Ayu untuk mengurus administrasi surat miskin, pengurusan obat, dan pengurusan operasi. Karena itu Ayu dengan fasih hapal nama-nama dokter bedah dan dokter penyakit dalam di RS Sanglah.</p>
<p>Pengabdian Ayu memperlihatkan masih sulitnya warga mengakses sarana kesehatan khususnya untuk kasus darurat dan berbiaya tinggi.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lodegen.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lodegen.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lodegen.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lodegen.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lodegen.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lodegen.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lodegen.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lodegen.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lodegen.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lodegen.wordpress.com/357/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=357&subd=lodegen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lodegen.wordpress.com/2009/12/16/ibu-ayu-i-cant-do-what-u-did/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d73e7677c0e0e3fe5145a6f9086e8205?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lodegen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/12/ibu-ayu-lombok-blog.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ibu ayu-lombok-blog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Koin untuk Rasa Keadilan</title>
		<link>http://lodegen.wordpress.com/2009/12/07/koin-untuk-rasa-keadilan/</link>
		<comments>http://lodegen.wordpress.com/2009/12/07/koin-untuk-rasa-keadilan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 05:35:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lodegen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lodegen.wordpress.com/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Ayo bantingan untuk membayar atas rasa keadilan yang dilukai oleh pejabat negara kita
http://koinkeadilan.com/

       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=354&subd=lodegen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ayo bantingan untuk membayar atas rasa keadilan yang dilukai oleh pejabat negara kita</p>
<p>http://koinkeadilan.com/</p>
<p><a href="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/12/koinuntukprita.png"><img class="alignnone size-full wp-image-353" title="koinuntukprita" src="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/12/koinuntukprita.png?w=266&#038;h=266" alt="" width="266" height="266" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lodegen.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lodegen.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lodegen.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lodegen.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lodegen.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lodegen.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lodegen.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lodegen.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lodegen.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lodegen.wordpress.com/354/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=354&subd=lodegen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lodegen.wordpress.com/2009/12/07/koin-untuk-rasa-keadilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d73e7677c0e0e3fe5145a6f9086e8205?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lodegen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/12/koinuntukprita.png" medium="image">
			<media:title type="html">koinuntukprita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku, Dagang Lumpia, dan Anaknya</title>
		<link>http://lodegen.wordpress.com/2009/11/24/aku-dagang-lumpia-dan-anaknya/</link>
		<comments>http://lodegen.wordpress.com/2009/11/24/aku-dagang-lumpia-dan-anaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 09:12:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lodegen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[dagang lumpia]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lodegen.wordpress.com/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[
Selasa ini adalah hari tergopoh-gopoh yang kesekian kali. Baru mau nyantai nonton, ada telepon, “Luhde, ini ada pemeriksaan hewan di maruti sekarang,” ujar suara Iluh wartawan enerjik tivi ini di seberang sana. Untung jarak dari rumah dekat, langsung aku tancap gas. Untungnya lagi, si Bani udah siap “disetor” ke bude pengasuhnya di depan rumah. Tinggal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=349&subd=lodegen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/11/blog-dagang-lumpia.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-348" title="blog dagang lumpia" src="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/11/blog-dagang-lumpia.jpg?w=480&#038;h=640" alt="" width="480" height="640" /></a></p>
<p>Selasa ini adalah hari tergopoh-gopoh yang kesekian kali. Baru mau nyantai nonton, ada telepon, “Luhde, ini ada pemeriksaan hewan di maruti sekarang,” ujar suara Iluh wartawan enerjik tivi ini di seberang sana. Untung jarak dari rumah dekat, langsung aku tancap gas. Untungnya lagi, si Bani udah siap “disetor” ke bude pengasuhnya di depan rumah. Tinggal isi kotak makan siangnya dan dadah-dadah ma Bani bentar. Sampai di Maruti, foto-foto kambing dari berbagai pose dan baju penuh bau kambing. <span id="more-349"></span></p>
<p>Dari Maruti dengan agak sembrono naik motor, menuju gudang Sloka di Noja Ayung. Mau urus laporan keuangan dan laporan pajak sama Intan. Walau Sloka duitnya cekak yang penting manajemen keuangannya rapi dan jelas. Hehehe..</p>
<p>Baru saja sampai lima menit di gudang. Yup, sekre Sloka itu gudang yang kita sewa dua tahun. Mataku tertumbuk pada surat undangan dari YMK. Selasa pagi ini mestinya ada yang ke Hotel Nikki untuk diskusi Polmas. Hwa&#8230;. si Tulang inget gak ya? Nelpon tulang, dan dia lagi di Tabanan. Katanya dah mendelegasikan ke Intan, tapi kan si Intan bilang hari ini ke bukit.</p>
<p>Menanggung beban sebagai manajer operasional Sloka, tanpa pikir panjang aku geber lagi si honda bebek merah tua itu balik ke Gatsu Tengah. Masak orang dah ngundang, kita seenaknya ga dateng tanpa konfirmasi, pikirku. Ga bertanggung jawab banget lah. Coba kalau kita yang digituin, gimana rasanya?</p>
<p>Cuma sejam di sana (mungkin ga nyampe sejam) karena tempat duduknya dah penuh juga, cabut ke Sloka lagi. Ketemu Intan untuk menuntaskan soal keuangan itu. Lagian jam 1 ada jadwal hearing rabies. Sejam di Sloka, ngebut pake si bebek merah lagi ke DPRD Bali. Parkir si bebek sekenanya dan kasar, olahraga siang naik tangga ke lantai III. Aku nggak mau melewatkan sesi perkenalan, karena akan ribet ngecek nama-nama narasumbernya lagi ntar.</p>
<p>Aku buka pintu tempat rapat biasanya itu, dan kosong. Noone and nothing left. Tanya ke salah seorang petugas, katanya dah selese karena jadwalnya jadi jam 10. Wakz.. Pelajarannya adalah jangan mempercaya jadwal sidang dewan di meja depan. Mestinya dikasi tanda bintang kecil dengan tulisan jadwal bisa berubah sewaktu-waktu.</p>
<p>Hidungku kembali bersin-bersin seiring semilir angin yang makin kencang. Badan meriang. Otak tegang.</p>
<p>Aku berlari lagi menuju si bebek merah yang 10 tahun kutunggangi tanpa belas kasian. Maklum dia seringkali kotor dan jarang kubelai dengan kanebo. Mikir, ke Sloka lagi melanjutkan utak atik lap keuangan dengan Intan atau pulang aja.. Yang jelas, aku butuh air jahe panas mengusir bersin.</p>
<p>Jam 2 sore, dan aku memutuskan pulang dengan otak masih berikir soal Sloka, IPC, rabies, foto, dll. Melewati Drupadi, Hayam Wuruk lalu Kenyeri menuju Gatsu tengah.</p>
<p>Setengah jalan kenyeri dengan kecepatan 50 km/jam, ekor mataku menangkap seorang perempuan muda pedagang lumpia yang menggandeng balita kecil laki-laki. Ia menyeret bocah itu dengan tangan kananya di trotoar.</p>
<p>Otakku berhenti berpikir soal kerja-kerja itu dengan seketika. Blank! Jiwaku juga langsung kosong. Desiran angin kalah dengan detak jantungku. Tiba di lampu merah Kenyeri, aku memutuskan menyalip sebuah sedan dari kiri dengan sembrono dan balik mengejar bayangan si ibu dan balitanya itu.</p>
<p>Aku harus bertemu muka dengan si ibu. Aku harus melihat dengan close up wajah si ibu dan balitanya yang membuat jiwaku mengejan. Tentu tak sulit mengejar mereka dengan motor.</p>
<p>Aku berhenti di seuah gang kecil, si ibu dan balitanya 10 meter lagi tiba di depan mataku. Ia menyebut namanya Yuli dan Wildan, balitanya yang berusia 3 tahun. “Bu, beli lumpia 3000 ya, dibungkus,” begitu alasanku agar mereka mau kusapa sebentar.</p>
<p>Wildan kecil langsung duduk tertib di jalanan ketika ibunya memotong-motong lumpia. Ia akan menuju Pantai Sanur, untuk hilir mudik menawarkan lumpia yang yang dijunjung di atas kepalanyanya itu ke pengunjung pantai hingga sore bahkan petang hari.</p>
<p>Wildan tiap hari diajak berjalan kaki dari Kenyeri sampai Sanur (naik angkot sekali). “Saya jualan sambil ngasuh anak, di rumah tidak ada orang,” sahut Yuli ringan. Wildan yang hanya pakai sandal jepit tanpa jaket. “Dia sudah biasa menemani saya jualan,” kata Yuli lagi. Aku tanya, apakah dia sering menangis di jalan atau merengek? Yuli hanya menjawab dengan senyum. Wildan kecil menuju bebek merahku dan bermain ala naruto sendirian. Bocah manis ini komat kamit sendiri, ciat&#8230; ciat&#8230;</p>
<p>Usai menerima tiga lembar ribuan, Bu Yuli mengibas-ngibaskannya ke lumpia daganganya untuk penglaris. “laris&#8230;laris..” serunya pendek nyaris tak terdengar. Lalu dengan sigap ia meraih tangan kanan Wildan dan kembali mereka berlalu dengan penuh semangat.</p>
<p>Apa sih yang dicari? Bekerja sambil menyeimbangkan dengan kerja sosial sudah. Bahkan hampir seluruh hidup, pekerjaanku menuntut memikirkan kepentingan orang lain. Apa yang membuat tergopoh-gopoh dan memaki? Pencapaian? Apresiasi? “Selalu ingat melihat ke bawah, jangan ke atas,” begitu kata orang tua. Kalimat magis yang bisa membuat tangisku pecah.</p>
<p>Kalau melihat ke atas, angkasa sungguh tak berujung. Di atas langit ada langit. Temen dapat gaji 10 juta sebulan, eh masih ada lagi yg gaji pokoknya 2 juta. Lalu ada Anggodo yang kata koran bisa bagi-bagi suap milyaran, secara rutinkah?</p>
<p>Pencapaian prestasi kerja, demi kepentingan membantu semakin bayak orang tentu takkan usai. Namun, perasaan kurang duit mulu coba dikurangi. Jangan malah menjadi-jadi kaya iklan mini pesbuk yang konyol. Wildan dan Ibunya adalah barier baru lagi dalam lembaran hidupku.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lodegen.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lodegen.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lodegen.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lodegen.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lodegen.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lodegen.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lodegen.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lodegen.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lodegen.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lodegen.wordpress.com/349/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=349&subd=lodegen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lodegen.wordpress.com/2009/11/24/aku-dagang-lumpia-dan-anaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d73e7677c0e0e3fe5145a6f9086e8205?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lodegen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/11/blog-dagang-lumpia.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">blog dagang lumpia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mai Ngeblog Pang Sing Belog</title>
		<link>http://lodegen.wordpress.com/2009/11/20/mai-ngeblog-pang-sing-belog/</link>
		<comments>http://lodegen.wordpress.com/2009/11/20/mai-ngeblog-pang-sing-belog/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 04:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lodegen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[BBC]]></category>
		<category><![CDATA[HUT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lodegen.wordpress.com/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=346&subd=lodegen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/11/udangan-ultah-bbc-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-345" title="udangan ultah BBC-2" src="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/11/udangan-ultah-bbc-2.jpg?w=603&#038;h=258" alt="" width="603" height="258" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lodegen.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lodegen.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lodegen.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lodegen.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lodegen.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lodegen.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lodegen.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lodegen.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lodegen.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lodegen.wordpress.com/346/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=346&subd=lodegen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lodegen.wordpress.com/2009/11/20/mai-ngeblog-pang-sing-belog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d73e7677c0e0e3fe5145a6f9086e8205?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lodegen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/11/udangan-ultah-bbc-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">udangan ultah BBC-2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berbagi Kejengkelan di BBC Tak Pernah Rugi</title>
		<link>http://lodegen.wordpress.com/2009/11/17/berbagi-kejengkelan-di-bbc-tak-pernah-rugi/</link>
		<comments>http://lodegen.wordpress.com/2009/11/17/berbagi-kejengkelan-di-bbc-tak-pernah-rugi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 09:46:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lodegen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[BBC]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lodegen.wordpress.com/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[
Akhir-akhir ini saya suka menyimak kata demi kata postingan di BBC. Mungkin tabiat ini mulai muncul seminggu terakhir. Tak syak, saya selalu gatel buka milis BBC tiap 15 menit kalo lagi ngenet. Padahal, belum ada posting-posting baru, tapi dasar gatel gimana dong.
Saya bingung, kenapa sih rajin banget buka folder bernama baliblogger itu di email saya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=342&subd=lodegen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/11/banner-bbc-2-tahun.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-343" title="banner BBC 2 tahun" src="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/11/banner-bbc-2-tahun.jpg?w=480&#038;h=342" alt="" width="480" height="342" /></a></p>
<p>Akhir-akhir ini saya suka menyimak kata demi kata postingan di BBC. Mungkin tabiat ini mulai muncul seminggu terakhir. Tak syak, saya selalu gatel buka milis BBC tiap 15 menit kalo lagi ngenet. Padahal, belum ada posting-posting baru, tapi dasar gatel gimana dong.</p>
<p>Saya bingung, kenapa sih rajin banget buka folder bernama baliblogger itu di email saya. Padahal sebalumnya saya jarang buka gmail, email yg saya pake di milis BBC.</p>
<p>Ndak tau, mungkin baru sekarang ketahuan. Sumbernya adalah perang kata-kata. Perang di sini bukan artian debat an sich. Bisa juga sambung rasa atau umpan balik postingan aja. <span id="more-342"></span></p>
<p>Karena BBC terdiri dari berbagai orang dengan kultur, cara bekerja, bidang kerjaan, dll yang sangat beragam, memungkinkan ada multi tafsir.</p>
<p>Misalnya nih, soal thread, “apakah kamu seorang blogger?” Ada yang menanggapi secara idealis, ada juga yg merasa kecut karena pernyataan yang terlalu serius. Trus, untuk tread paling hot saat ini, “blogger perempuan keledai” juga asik.</p>
<p>Budaya milis dan online memang sangat rentan konflik. Kita dipaksa menulis perasaan dengan keterbatasan kata-bahasa. Padahal, seringkali usai ngetik kita merasa, “bukan gitu maksudku” Tapi kok bahasannya jadi panjang.</p>
<p>Sialnya lagi, sangat gampang copy paste apa yang diketik orang, untuk dibahas lagi. “Nih, aku copy lagi apa yang kamu bilang sebelumnya.” Alamak, sangat sulit menghindar dari hal seperti ini. Ini budaya tulis, kawan. Jadi semuanya terekam dengan lengkap dan sempurna. Bak kelopak bunga mawar yang utuh di batangnya.</p>
<p>Tak hanya di milis BBC, juga di milis lain yang saya ikuti. Ini yang membuat saya kadang-kadang lama nulis respon untuk hal yang serius. Namun sebaliknya, budaya tulis bisa buat orang spontan.</p>
<p>Misalnya salah satu temen BBC, Anima, yang spontan dan honest kalo komentar. It doesnt make me hate u, mate. Hahaha&#8230; Anima buat grup di pesbuk untuk menampung orang yang “hate anima because he’s honest and direct.” So Anima.</p>
<p>Moral cerita ini adalah, pemuda Indonesia sudah selayaknya terus didorong ikutan milis-milis untuk belajar mengurangi “basa-basi” dan ewuh pakewuh ala SBY. Ini spontanitas yang memberi penghargaan untuk orang lain. Ngasi apresiasi dengan spontan.</p>
<p>Yah, nikmati saja BBC apa adanya. Dari yang suka online tapi emoh offline, persekutuan anggota pasif, yang suka online plus offline, dll. BBC toh hanya sebentuk semangat, setitik energi.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lodegen.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lodegen.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lodegen.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lodegen.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lodegen.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lodegen.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lodegen.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lodegen.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lodegen.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lodegen.wordpress.com/342/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=342&subd=lodegen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lodegen.wordpress.com/2009/11/17/berbagi-kejengkelan-di-bbc-tak-pernah-rugi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d73e7677c0e0e3fe5145a6f9086e8205?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lodegen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/11/banner-bbc-2-tahun.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">banner BBC 2 tahun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Galungan Sunyi di Pulau Menjangan</title>
		<link>http://lodegen.wordpress.com/2009/10/20/galungan-sunyi-di-pulau-menjangan/</link>
		<comments>http://lodegen.wordpress.com/2009/10/20/galungan-sunyi-di-pulau-menjangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 01:32:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lodegen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[wisata bali]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Menjangan]]></category>
		<category><![CDATA[Galungan]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lodegen.wordpress.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[
Dua ekor rusa (cervus timorensi) atau menjangan sedang berdiri dengan tenang di dalam Pura Taman Kelenting Sari, Pulau Menjangan, Buleleng, Rabu (14/10). Dua rusa jantan sebesar kuda poni ini seperti penjaga pura. Tanduknya tinggi dan kokoh. Mereka adalah tuan rumah di pulau ini.
Para rusa hanya mengamati ketika sejumlah pengunjung menaruh sesajen di tugu-tugu persembahan, menghidupkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=340&subd=lodegen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-339" title="rusa-menjangan-1" src="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/10/rusa-menjangan-1.jpg?w=480&#038;h=320" alt="rusa-menjangan-1" width="480" height="320" /></p>
<p>Dua ekor rusa (cervus timorensi) atau menjangan sedang berdiri dengan tenang di dalam Pura Taman Kelenting Sari, Pulau Menjangan, Buleleng, Rabu (14/10). Dua rusa jantan sebesar kuda poni ini seperti penjaga pura. Tanduknya tinggi dan kokoh. Mereka adalah tuan rumah di pulau ini.</p>
<p>Para rusa hanya mengamati ketika sejumlah pengunjung menaruh sesajen di tugu-tugu persembahan, menghidupkan dupa, sampai memulai persembahyangan di Hari Raya Galungan itu. Kehadiran kedua rusa liar ini membuat pengunjung pura terhibur.<span id="more-340"></span></p>
<p>“Mereka penjaga pulau ini. Kita harus menghormatinya,” ujar Ni Nengah Ariani, salah satu warga Denpasar. Ariani memberikan buah-buahan dari sesajen usai persembahyangan. Kedua rusa melahap buah-buahan itu dengan cepat.</p>
<p>Selain Pura Taman, ada sejumlah pura besar lainnya yang dikunjungi rombongan Ariani. Ada jalan setapak yang memandu pengunjung ke deretan pura-pura dan tempat pemujaan di pulau ini. Misalnya Pesraman Kebo Iwa, Pendopo Agung Dalem Patih Gadjah Mada, dan Pura Segara Giri.</p>
<p>Selain Ariani, ada sejumlah rombongan yang berpakaian adat lainnya. Di sepanjang jalan setapak pohon-pohon mengering, tanah berwarna cokelat dan sangat keras. Hanya burung camar di pesisir laut yang menemani perjalanan pengunjung.</p>
<p>Penjaga pura mengatakan sudah enam bulan ini Pulau Menjangan kering tanpa setitik pun hujan. Berbeda dengan sejumlah tempat di Pulau Bali, yang berjarak sekitar 30 menit menggunakan perahu bermotor sebelah timurnya. Beberapa kali Denpasar hujan deras namun cepat berganti dengan panas terik.</p>
<p>“Beberapa rusa menyeberang lautan ke Pulau Bali karena tanaman kering dan rusa sulit mendapat makanan disini,” ujar Jero Mangku Gede Sarjana, salah seorang pengelola pura yang berjaga hampir tiap hari di Pulau Menjangan. Ia mengatakan ada sekitar 80 ekor rusa yang bertahan hidup di pulau saat ini.</p>
<p>Sarjana harus bolak-balik menyeberang tiap hari karena ditunjuk melakukan pemujaan di Pura Segara Giri, Pulau Menjangan. Ia tinggal di Desa Sumber Klampok, yang dekat dengan Menjangan.</p>
<p>Sarjana hanya menginap di pura jika ada upacara besar selama berhari-hari. “Tidak boleh ada yang tinggal dan membuat rumah di pulau ini,” katanya. Pulau Menjangan memang termasuk teritori Taman Nasional Bali Barat (TNBB), hutan lindung yang dikelola negara.</p>
<p>Hingga kini, Pulau Menjangan masih terlindungi dari pihak yang ingin membuat fasilitas wisata. Berbeda dengan daratan daerah TNBB lain yang tak bisa steril dari rambahan investor pariwisata.</p>
<p>Sarjana ingin Menjangan tetap steril dari penduduk, perumahan, pondok wisata, atau warung-warung makanan. “Biarkan hanya rusa yang hidup tenang disini. Jangan diganggu dengan kegiatan manusia kecuali persembahyangan,” pintanya.</p>
<p>Sementara I Wayan Yasa, warga adat yang menjadi sopir perahu motor mengatakan desa adat kerap memonitor pulau dan perairan Pulau Menjangan . “Pecalang (personil keamanan adat) beberapa kali patroli laut untuk memonitor perairan dan Pulau Menjangan. Desa adat yang harus aktif menjaga lingkungan,” katanya.</p>
<p>Yasa mengaku pernah ikut patroli. Desa Adat Sumber Klampok yang mengelola Taman Wisata Labuan Lalang, lokasi penyeberangan ke Menjangan. Petugas kemanan adat juga melakukan patroli untuk mencegah pengebom ikan dan karang yang mengancam ekosistem laut.</p>
<p>Pulau Menjangan adalah salah satu dari beberapa pulau kecil yang termasuk Provinsi Bali. Lainnya adalah Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, dan Pulau Serangan yang kini sudah menyatu dengan daratan karena direklamasi.</p>
<p>Luasnya sekitar 6000 hektar. Karena steril dari aktivitas manusia, perairan Menjangan relatif bersih dari limbah, sehingga karang-karang terlihat di dasar laut dangkal demikian juga ikan-ikan hias.</p>
<p>Tak heran beberapa rombongan turis yang menyelam atau snorkeling sangat mudah dijumpai di beberapa titik. Mereka menggunakan jasa perahu-perahu bermotor yang dikelola desa adat.</p>
<p>Labuan Lalang di Taman Nasional Bali Barat dapat dicapai baik dari Kota Denpasar maupun dari Pelabuhan Gilimanuk. Dari Denpasar melalui Tabanan jaraknya sekitar 135 kilometer. Sementara dari Gilimanuk sekitar 15 kilometer.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lodegen.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lodegen.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lodegen.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lodegen.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lodegen.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lodegen.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lodegen.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lodegen.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lodegen.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lodegen.wordpress.com/340/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=340&subd=lodegen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lodegen.wordpress.com/2009/10/20/galungan-sunyi-di-pulau-menjangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d73e7677c0e0e3fe5145a6f9086e8205?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lodegen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/10/rusa-menjangan-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rusa-menjangan-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kuta Karnival dan Fasilitas Publik</title>
		<link>http://lodegen.wordpress.com/2009/10/04/kuta-karnival-dan-fasilitas-publik/</link>
		<comments>http://lodegen.wordpress.com/2009/10/04/kuta-karnival-dan-fasilitas-publik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 05:23:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lodegen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[kuta karnival]]></category>
		<category><![CDATA[legian]]></category>
		<category><![CDATA[pantai kuta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lodegen.wordpress.com/2009/10/04/kuta-karnival-dan-fasilitas-publik/</guid>
		<description><![CDATA[
Merayakan Kuta lewat Kuta Karnival tahun 2009 ini saya jadi teringat dengan keinginan saya menemukan hasrat warga Kuta di balik gemerlapnya. Saya kutip kembali catatan saya tempo hari.
Kemacetan parah kembali terjadi di Jalan Legian, Kuta, awal pekan ini. Kendaraan sama sekali tidak bisa bergerak di sejumlah jalan menuju Legian. Terlihat dua kelompok warga yang bersiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=335&subd=lodegen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-337" title="traffic jam-ngaben di kuta" src="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/10/traffic-jam-ngaben-di-kuta.jpg?w=480&#038;h=320" alt="traffic jam-ngaben di kuta" width="480" height="320" /></p>
<p>Merayakan Kuta lewat Kuta Karnival tahun 2009 ini saya jadi teringat dengan keinginan saya menemukan hasrat warga Kuta di balik gemerlapnya. Saya kutip kembali catatan saya tempo hari.</p>
<p>Kemacetan parah kembali terjadi di Jalan Legian, Kuta, awal pekan ini. Kendaraan sama sekali tidak bisa bergerak di sejumlah jalan menuju Legian. Terlihat dua kelompok warga yang bersiap melakukan prosesi ngaben (upacara kremasi) di dua titik berbeda. Iring-iringan perempuan membawa sesajen berbaris di sepanjang jalan.</p>
<p>Sepeda motor saja sulit melalui arak-arakan prosesi karena sepanjang Jalan Legian juga digunakan sebagai tempat parkir. Tanda larangan parkir yang tersebar di sepanjang jalan tak berguna. Malah sulit menemukan celah jalan yang tidak ada parkir kendaraannya.<span id="more-335"></span></p>
<p>Padahal, sejumlah tempat parkir telah ada di sela-sela rumah penduduk.</p>
<p>“Jalan Legian tidak mungkin bebas parkir. Sejumlah solusi gagal,” keluh I Nyoman Graha Wicaksana, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kuta, sebuah lembaga perwakilan warga.</p>
<p>Wicaksana mengidentifikasi ada tiga hal yang membuat regulasi yang ditetapkan setahun lalu itu gagal. Pertama, soal kebiasaan pengguna parkir yang sulit diubah untuk parkir di tempat khusus. Lalu, lahan di tempat parkir khusus terbatas, dan terakhir, penindakan bagi pelanggar tidak konsisten.</p>
<p>“Instansi pemerintah tidak melakukan tilang secara rutin, jadi tidak ada sanksi,” ujarnya.</p>
<p>Seringnya Jalan Legian macet total menurut Wicaksana membuat ketidaknyamanan warga. “Kalau ada upacara adat, warga tidak leluasa karena pasti macet total,” katanya.</p>
<p>Selain soal parkir, yang menjadi keluhan utama warga sekitar Kuta adalah kebisingan tempat hiburan malam. “Ditambah dengan perkelahian yang makin marak, kami sedang membuat acuan bagi pengelola diskotik di kawasan ini,” tambahnya.</p>
<p>Sejumlah hal yang masuk dalam gagasan penertiban ini adalah membuat surat himbauan mengenai pengelolaan konflik dan kebisingan. “Kalau manajemen tempat hiburan malam tidak menjamin untuk mengurangi dua hal itu, bisa disegel warga,” ancam Wicaksana.</p>
<p>LPM juga sudah membentuk tim Bantuan Kemanan Desa (Bankamdes) yang terdiri dari 30 orang warga Kuta. “Ini pengamanan swadaya yang tugas sepanjang hari,” jelasnya.</p>
<p>Ia melihat, banyak terjadi pelanggaran ijin diskotik di Kuta. “Mestinya hanya hotel bintang 5 yang bisa membuat diskotik di dalam areal bangunannya. Jadi keamanan pasti terjamin,” ujar Wicaksana.</p>
<p>Wicaksana juga kini mendapat banyak permintaan warga untuk penyediaan fasilitas publik di Kuta. “Kami jantung pariwisata Bali, namun tidak punya taman kota dan arena bermain untuk anak. Mencari tempat untuk olahraga dengan nyaman juga sulit,” keluhnya.</p>
<p>I Gede Suparta, Lurah Kuta, mengatakan Kuta semakin over kapasitas. Data penduduk terakhir, seperti yang digunakan untuk Pemilu Presiden menyebutkan jumlah penduduk dengan KTP Kuta sebanyak 11.700 orang. Sementara jumlah penduduk pendatang yang membayar iuran sebanyak 11 ribu orang.</p>
<p>“Over kapasitas sampai lima kali lipat. Jadi wajar muncul ketidaknyamanan, terutama karena pariwisata berdampingan dengan rumah-rumah penduduk,” ujar Suparta. Jumlah penduduk itu, belum ditambah dengan jumlah pekerja usaha jasa dan dagang di Kuta yang tinggal di luar Kuta.</p>
<p>Kabupaten Badung terdiri dari enam kecamatan, Kuta, Kuta Selatan, Kuta Utara, Petang, Abiansemal, dan Mengwi. Kecamatan Kuta terdiri dari lima kelurahan dan desa. Di antaranya Kuta, Seminyak, dan Legian. Kelurahan Kuta terdiri dari 12 desa dinas. Jalan Legian dan kawasan Pantai Kuta adalah daerah terpadat yang dikelola Kelurahan Kuta.</p>
<p>Kembali ke Kuta Karnival (KK), apa yang bisa diberikan event tahunan ini untuk peningkatan fasilitas publik Kuta secara umum? KK selama ini dilaksanakan di tepi pantai Jalan Raya Kuta.</p>
<p>Saya lihat, KK juga melibatkan sebuah LSM lingkungan local sepanjang pelaksanaannya namun berfokus pada sampah.</p>
<p>Fasilitas public yang banyak dimanfaatkan adalah sempadan pantai. Saya kira panitia KK perlu memberikan edukasi pada pengunjung mengenai statistic sempadan pantai Kuta dan permasalahannya. Misalnya ketika proyek reklamasi Pantai Kuta berlangsung, banyak pengunjung pantai heran kenapa ada eksavator hilir mudik di pantai.</p>
<p>Eksavator itu mengeruk dan meratakan pasir yang diambil dari belahan pulau lain di Bali. Nah, KK bisa merangsang warga untuk bertanggung jawab pada ekosistem pantai karena ternyata pantai bisa tergerus dan abrasi. Seperti mantan pantai tersohor lain di Bali, Candidasa atau Matahari Terbit.</p>
<p>Kegiatan edukasi yang lebih fun adalah edutainment ecomarine. Saya membayangkan satu space khusus untuk anak-anak soal ini. Tak hanya untuk pagelaran KK, tapi selamanya. Ini yang saya maksud KK bisa membuat sejarahnya sendiri untuk Kuta. Memberikan pondasi dasar, upaya meningkatkan fasilitas publik.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lodegen.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lodegen.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lodegen.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lodegen.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lodegen.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lodegen.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lodegen.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lodegen.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lodegen.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lodegen.wordpress.com/335/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=335&subd=lodegen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lodegen.wordpress.com/2009/10/04/kuta-karnival-dan-fasilitas-publik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d73e7677c0e0e3fe5145a6f9086e8205?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lodegen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/10/traffic-jam-ngaben-di-kuta.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">traffic jam-ngaben di kuta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Potong Gigi Massal</title>
		<link>http://lodegen.wordpress.com/2009/09/29/potong-gigi-massal/</link>
		<comments>http://lodegen.wordpress.com/2009/09/29/potong-gigi-massal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 23:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lodegen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[mepandes]]></category>
		<category><![CDATA[PHDI Bali]]></category>
		<category><![CDATA[potong gigi massal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lodegen.wordpress.com/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[
Sebanyak 135 orang mengikuti upacara mepandes (potong gigi) secara bersamaan di kantor Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Minggu, Denpasar.
Mereka berasal dari berbagai usia seperti remaja, ibu rumah tangga dan lintas strata sosial. Sedikitnya empat orang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. 
Untuk kali pertama PHDI Bali mengadakan potong gigi massal yang dikhususkan untuk warga miskin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=330&subd=lodegen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-332" title="potong gigi massal1-1" src="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/09/potong-gigi-massal1-11.jpg?w=480&#038;h=320" alt="potong gigi massal1-1" width="480" height="320" /><br />
Sebanyak 135 orang mengikuti upacara mepandes (potong gigi) secara bersamaan di kantor Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Minggu, Denpasar.</p>
<p>Mereka berasal dari berbagai usia seperti remaja, ibu rumah tangga dan lintas strata sosial. Sedikitnya empat orang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. <span id="more-330"></span></p>
<p>Untuk kali pertama PHDI Bali mengadakan potong gigi massal yang dikhususkan untuk warga miskin ini. Pendanaan diberikan Bank BNI Kantor Wilayah VIII sebesar Rp 70 juta rupiah melalui program corporate social responsibility (CSR).</p>
<p>Sejak jam 7 pagi, ratusan peserta potong gigi telah berkumpul di kantor PHDI untuk registrasi ulang. Kemudian mereka berjalan kaki ke kampus Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Bali, lokasi start mapeed atau berjalan beriringan menuju lokasi upacara, sekitar 100 meter.</p>
<p>Tiba di lokasi, sejumlah panitia memulai proses ritual kewajiban orang tua Hindu Bali ini. Misalnya madengen-dengen (natab), dan ngekeb (berdiam diri)</p>
<p>Satu per satu peserta kemudian dipanggil dengan pengeras suara menuju bale tempat mepandes. Tiap kloter 10 orang, yang dikerjakan masing-masing satu sangging. Sangging melakukan prosesi mengasah gigi dengan cepat, sehingga semua peserta usai mepandes kurang dari 3 jam.</p>
<p>Wajah-wajah ceria didampingi keluarganya tidur berjejer di bale yang telah disiapkan dengan bantal dan tikar.</p>
<p>&#8220;Untuk pertama kali PHDI mengadakan potong gigi massal ini karena banyak keluarga yang tidak mampu melakukannya sendiri,&#8221; ujar Made Raka Santeri, Ketua Panitia pelaksana dari PHDI Bali.</p>
<p>Raka menyebut banyak orang yang sudah menikah dipersilakan ikut serta karena belum mampu melakukannya ketika remaja. &#8220;Potong gigi sebaiknya dilakukan sebelum menikah untuk mengurangi sifat buruk menuju pernikahan. Namun kita tak bisa menutup mata, banyak yang terkendala dana,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Selain membebaskan biaya, PHDI dan BNI juga memberikan kain putih dan kuning sebagai seragam upakara dan biaya transport untuk peserta dari luar Denpasar.</p>
<p>Kaspar Kardjasa, Ketua Panitia dari BNI mengatakan pihaknya akan memfasilitasi potong gigi massal ini untuk tahun-tahun berikutnya. &#8220;Ternyata banyak warga yang kesulitan melakukan upacara agama. Kami berharap ini bisa membantu,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sebelumnya, BNI melalui program CSR telah melakukan khitan atau sunat massal.</p>
<p>Salah seorang peserta, Ni Ketut Gandriasih, 35 tahun mengaku lega akhirnya bisa potong gigi walau telah menikah dan punya empat anak. &#8220;Dulu orang tua katanya tidak punya biaya,&#8221; ujarnya didampingi suaminya.</p>
<p>Gandriasih merasa malu juga walau ia tak sendiri yang sudah menikah dalam rombongan potong gigi massal ini.</p>
<p>English version: http://www.thejakartapost.com/news/2009/09/28/mass-teeth-filing-ritual-hindus.html-0</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lodegen.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lodegen.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lodegen.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lodegen.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lodegen.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lodegen.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lodegen.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lodegen.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lodegen.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lodegen.wordpress.com/330/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=330&subd=lodegen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lodegen.wordpress.com/2009/09/29/potong-gigi-massal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d73e7677c0e0e3fe5145a6f9086e8205?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lodegen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lodegen.files.wordpress.com/2009/09/potong-gigi-massal1-11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">potong gigi massal1-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lalu, Bagaimana Nasib Ayu?</title>
		<link>http://lodegen.wordpress.com/2009/09/29/lalu-bagaimana-nasib-ayu/</link>
		<comments>http://lodegen.wordpress.com/2009/09/29/lalu-bagaimana-nasib-ayu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 22:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lodegen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[HIV/AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[HIV/AIDS di Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Odha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lodegen.wordpress.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Ni Putu Ayu, sebut saja demikian, bayi perempuan 18 bulan itu bersama ibunya telah dianggap meninggal oleh keluarga. Dua perempuan dengan HIV ini oleh balian atau “orang pintar” disebut tidak bisa sembuh dan memang dikorbankan untuk Pura Dalem di desanya di Karangasem.
“Biarkan saya mati, tapi jangan anak saya satu-satunya ini,” rintih Wati sebut saja demikian, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=328&subd=lodegen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ni Putu Ayu, sebut saja demikian, bayi perempuan 18 bulan itu bersama ibunya telah dianggap meninggal oleh keluarga. Dua perempuan dengan HIV ini oleh balian atau “orang pintar” disebut tidak bisa sembuh dan memang dikorbankan untuk Pura Dalem di desanya di Karangasem.</p>
<p>“Biarkan saya mati, tapi jangan anak saya satu-satunya ini,” rintih Wati sebut saja demikian, ibu Ayu, dalam Bahasa Bali, Selasa (16/9).</p>
<p>Ayu kini 1,5 tahun dan tergolek lemah di dipan kecil bersprei putih ruang anak Rumah Sakit Sanglah Denpasar ketika ditemui. Ia masih tak bisa duduk sendiri, jadi ibunya nyaris sepanjang hari menemani. Ayu sudah dua bulan di ruangan kecil khusus pasien kelas III, kelas termurah karena ibunya mengandalkan surat miskin.<span id="more-328"></span></p>
<p>Ihwal “kutukan” tak bertanggung jawab ini didapat Wati dan Ayu karena suaminya mendadak sakit kemudian meninggal. Disusul sakitnya Ayu, yang saat itu berusia 10 bulan.</p>
<p>Di mulut bayi kecil itu tumbuh jamur (candida), batuk-batuk, dan sesak nafas. Rumah sakit daerah Karangasem kemudian merujuk ke RS Sanglah karena tak mampu merawat.</p>
<p>“Anak ini tuberkulosis dan terus mengalami penurunan daya tubuh sehingga sangat lemah,” ujar dokter Ni Ketut Dewi Putri, dokternya di RS Sanglah. Di papan penunjuk identitas pasien, ditulis immunodefisiensi sekunder. Ayu sudah dalam kondisi AIDS.</p>
<p>Sementara Wati hingga kini belum pernah memeriksa CD4, karena baru tes HIV saja. “Saya tidak peduli, sekarang ngurus anak saja dulu. Saya hanya ingin memastikan ada yang mengasuh kalau saya meninggal,” seru Wati.</p>
<p>Padahal, kondisi Ayu lebih kritis. Bocah ini tak bisa minum susu dari botol. Berbulan-bulan air susu dialiri melalui sonde, pipa kecil yang menghubungkan wadah susu dan hidungnya. Berat badannya kurang dari tujuh kilogram.</p>
<p>Wati memiliki harapan besar untuk Ayu. Ia kini mengaku lebih tegar dan lupa telah dibuang keluarganya. “Saya juga tak bisa merawat Ayu di rumah neneknya di Karangasem. Rumah saja tidak punya, mandi pakai air hujan,” katanya.</p>
<p>Dokter di RS Sanglah telah memperbolehkan Ayu rawat jalan. Situasi rumah sakit tak terlalu baik bagi Ayu untuk memulihkan berat badan demikian juga secara psikologis.<br />
Wati ingin memulai merajut masa depan bersama anaknya. “Saya pernah bekerja di garmen. Namun saya harus bekerja di rumah karena tak mungkin meninggalkan anak,” ujarnya sambil terbatuk-batuk. Kondisinya bisa jadi makin memburuk kalau tak segera mulai terapi antiretroviral.</p>
<p>Prof dr. Dewa Nyoman Wirawan, Direktur Yayasan Kerti Praja (YKP) dan Istina Dewi dari Yayasan Bali+ berdiskusi untuk menyokong semangat Wati. Bali+, lembaga pendampingan Odha di Bali akan menyiapkan sebuah kamar untuk Wati dan Ayu.</p>
<p>Sementara YKP mencarikan peluang pekerjaan. “Terlalu banyak tantangan penanggulangan AIDS di Bali. Persoalan non medis dan masa depan Odha, selalu menjadi masalah yang sulit diadvokasi,” ujar Wirawan.</p>
<p>Koordinator Pokja Perencanaan, Monitoring dan Evaluasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali ini menyebut sedikitnya ada 150 anak yatim atau piatu terdampak HIV/AIDS di Bali. “Kami tidak punya data akurat, jumlah anak yang tercatat baru 70 orang di seluruh Bali,” ujarnya.</p>
<p>Menurut data Dinas Kesehatan Bali, hingga Mei ini kasus HIV dan AIDS sebanyak 2829 orang. Sebanyak 54 anak dengan HIV/AIDS berusia di bawah 14 tahun. Sebagian besar, yakni 50 orang anak tercatat terinfeksi sejak dilahirkan (perintal).</p>
<p>Wirawan mengatakan secara sosial ekonomi, sebagian besar dari 70 anak yatim atau piatu itu miskin dan tersebar di pelosok desa. Beberapa program bantuan pangan diberikan, tapi parsial.</p>
<p>“Bali membutuhkan rumah singgah,” ujar Wirawan. Menurutnya wajah AIDS harus diperlihatkan apa adanya, tanpa prasangka agar warga dan pemerintah melihat banyak yang tak berdosa jadi korban.</p>
<p>Ketika rumah singgah penuh dengan anak-anak korban HIV, barangkali baru warga tersentak dan tak lagi memalingkan wajah.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lodegen.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lodegen.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lodegen.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lodegen.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lodegen.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lodegen.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lodegen.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lodegen.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lodegen.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lodegen.wordpress.com/328/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=328&subd=lodegen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lodegen.wordpress.com/2009/09/29/lalu-bagaimana-nasib-ayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d73e7677c0e0e3fe5145a6f9086e8205?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lodegen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan dengan Kanker Serviks di Bali Meningkat</title>
		<link>http://lodegen.wordpress.com/2009/09/16/perempuan-dengan-kanker-serviks-di-bali-meningkat/</link>
		<comments>http://lodegen.wordpress.com/2009/09/16/perempuan-dengan-kanker-serviks-di-bali-meningkat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 07:26:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lodegen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[kanker serviks]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan reproduksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lodegen.wordpress.com/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[Risiko kematian perempuan di Bali akibat kanker leher rahim atau kanker serviks makin meningkat. Kini, angka kematiannya dua kali dibanding angka kematian ibu di Indonesia.
Prof dr I Ketut Suwiyoga, Kepala Instalasi Kebidanan dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana di Rumah Sakit Sanglah mengatakan insiden kematian akibat kanker serviks di Bali adalah 150 orang per 100 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=326&subd=lodegen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Risiko kematian perempuan di Bali akibat kanker leher rahim atau kanker serviks makin meningkat. Kini, angka kematiannya dua kali dibanding angka kematian ibu di Indonesia.</p>
<p>Prof dr I Ketut Suwiyoga, Kepala Instalasi Kebidanan dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana di Rumah Sakit Sanglah mengatakan insiden kematian akibat kanker serviks di Bali adalah 150 orang per 100 ribu penduduk. Atau sekitar 5000 orang. Sementara angka kematian ibu sekitar 82 orang per 100 ribu penduduk.</p>
<p>“Sebanyak 85% di antara pengidap kanker serviks meninggal karena sudah stadium invasif. Virus sudah menyebar karena terlambat dideteksi,” ujar Suwiyoga, Jumat. Jika virus telah menginvasi tubuh, akan menyebar ke pembuluh limfa dan darah yang mengakibatkan bengkak kaki serta nyeri.<span id="more-326"></span></p>
<p>Hanya 15% pengidap yang terdeteksi terpapar human papilloma virus (HPV), penyebab kanker serviks di Bali. “Sayangnya, kanker serviks ini jarang diketahui perempuan,” keluhya. Juga tidak ada regulasi khusus dari pemerintah mengenai ini. Rata-rata usia penderita adalah 42 tahun.</p>
<p>Tingginya angka kematian, menurut Suwiyoga karena HPV menyebar tanpa gejala. Tidak panas atau nyeri, bahkan tidak menimbulkan pendarahan. Kecepatan penyebarannya sangat tergantung kekebalan tubuh perempuan.</p>
<p>Gejala awalnya hanya keputihan, yang dianggap biasa perempuan. Penelitian terakhir di Indonesia pada 2004 menyebutkan dari 20 ribu perempuan yang dievaluasi, sebnayak 55% yang terpapar HPV. “Faktor geografis tak mempengaruhi, merata di perkotaan dan pedesaan. Di perkotaan malah lebih buruk karena ditambah penyakit akibat jamur dan bakteri lain,” kata Suwiyoga.</p>
<p>HPV menular melalui hubungan seksual. Sifat virus ini yang seperti reseptor, mengakibatkan sangat mudah muncul jika ada perlukaan di serviks. Misalnya aktivitas coitus.</p>
<p>Secara umum, kondisi immune perempuan Bali juga menurut Suwiyoga kurang baik hingga mengakibatkan rentannya terpapar HPV.</p>
<p>“Selama 30 tahun perang lawan kanker serviks di Bali, saya tak pernah menang,” ujar Suwiyoga.</p>
<p>Karena itu, upaya kini difokuskan di pencegahan dan pengobatan lesi kanker (pra kanker). Bekerja sama dengan Medical Center of Leiden University di Belanda, sebuah program See and Treat diluncurkan sejak 2007.</p>
<p>Targetnya penyuluhan perempuan dan menemukan virus pra kanker. Metode sederhana yang dipakai adalah tes asam dengan terapi IVA.</p>
<p>Sejak 2007, sebanyak 3061 orang (80%) tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, bidan di sleuruh kabupaten di Bali telah dilatih. Sebanyak 63.404 (66%) orang mendapat penyuluhan, dan lebih dari 21 ribu perempuan (60% dari target) mendapat pelayanan terapi awal pra kanker.</p>
<p>Namun program pencegahan masih mendiskriminasikan perempuan yang belum menikah. Mereka tidak masuk kelompok penjangkauan dan tidak mendapat pelayanan di RS Sanglah. Suwiyoga mengakui hal ini karena regulasi pemerintah.</p>
<p>“Ironisnya, semakin banyak remaja yang berhubungan seks sebelum menikah dan berisiko kena HPV juga,” ujarnya.</p>
<p>Data survei Kisara Youth Clinic di Denpasar per September ini menyebut sekitar 11% remaja usia 14-17 tahun di Denpasar telah melakukan seks pra nikah.</p>
<p>Selain tak menjangkau remaja, peningkatan kasus HPV di Bali juga karena sulitnya meminta perempuan untuk tidak malu memperlihatkan alat kelamin pada petugas kesehatan.</p>
<p>“Puluhan tahun menjadi bidan, masalah utama selalu sulit mengajak perempuan ke ruang pemeriksaan,” ujar Alit Ardani, seorang bidan yang kini bertugas di program See and Treat.</p>
<p>Selain itu, sebagain besar perempuan merasa tak terancam dengan kanker serviks karena jarang mendengar ada yang meninggal. “Kasus kematian perempuan akibat kanker ini jarang dibuka ke publik, jadi banyak perempuan tak pernah mendengar,” kata Alit.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lodegen.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lodegen.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lodegen.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lodegen.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lodegen.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lodegen.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lodegen.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lodegen.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lodegen.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lodegen.wordpress.com/326/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lodegen.wordpress.com&blog=1773968&post=326&subd=lodegen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lodegen.wordpress.com/2009/09/16/perempuan-dengan-kanker-serviks-di-bali-meningkat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d73e7677c0e0e3fe5145a6f9086e8205?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lodegen</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>