kamarkecil

Tenganan, Desa Adat Disenangi Wisatawan

Posted on: Juni 8, 2004

-dimuat Media Indonesia 8 Juni 2004-

KEHENINGAN menyergap ketika menelusuri jalan setapak dari tanah yang bercampur dengan kerikil. Beberapa orang turis tampak sibuk memotret dan beberapa kali terlihat keluar masuk rumah penduduk yang berjejer berhadapan di sisi kanan dan kiri.

Inilah pemandangan yang rutin di desa adat Tenganan Pagringsingan di Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, sekitar 85 kilometer sebelah timur Denpasar.

Sepanjang jalan setapak, memang terdapat ratusan rumah berderet berimpitan. Hampir semua bangunan terbuat dari batu bata merah atau batu kali yang ditambal dengan tanah. Pintu masuk rumah penduduk itu sempit, hanya berukuran satu orang dewasa, dan bagian atas pintu menyatu dengan atap rumah yang terbuat dari rumbia.

Di tengah-tengah pelataran desa terdapat puluhan bangunan serupa bale-bale panjang. Bangunan tersebut dijajar simetris dengan rumah-rumah penduduk dan difungsikan sebagai sarana upacara adat masyarakat setempat.

Beberapa penduduk terlihat ngobrol santai. Sebagian pria bertelanjang dada dan hanya mengenakan kamen (sejenis sarung). Di sisi kanan dan kiri serta di depan rumah-rumah penduduk, beberapa meja kayu digelar berisi kerajinan tangan yang terbuat dari daun lontar. Di daun lontar tersebut diguratkan epos Ramayana (Ramayana Story) dan kalender Bali. Kalender Bali ini memuat penanggalan khas Bali seperti otonan (hari ulang tahun), lukisan dewa-dewa yang melindungi, hari baik, dan perilaku seseorang sesuai hari kelahirannya.

Menariknya, hampir seluruh rumah menempelkan sebuah papan bertuliskan nama usaha seperti halnya toko. Tetapi, anehnya tak tampak barang dagangan yang dijual dari luar. Mereka menggelar dagangan di dalam rumah. Inilah alasannya kenapa turis-turis terlihat keluar masuk rumah penduduk.

”Berjualan di dalam rumah adalah kesepakatan warga bukan karena awig-awig (peraturan adat Bali tertulis). Tenganan bukan objek wisata seperti kolam renang. Kita tidak memamerkan dagangan begitu saja,” ujar Kepala Desa Adat Tenganan Pagringsingan I Putu Suarjana.

Menurut Suarjana, ketika desa ini mulai dikenal masyarakat lokal dan internasional dan ramai dikunjungi tahun 1970-an, warga desa serta-merta menggelar berbagai macam dagangan secara bebas di sudut-sudut desa. Limpahan turis yang datang berduyun-duyun benar-benar dimanfaatkan warga untuk menambah penghasilan.

Kemudian, kata dia, masyarakat mulai paham akan karakteristik desanya yang dikenal sebagai desa kuno. Kondisi ini selaras dengan adat istiadat yang lekat sebagai keseharian warga, Desa Tenganan pun harus menerapkan jurus-jurus untuk menarik wisatawan.

”Sebagai objek wisata, daya tarik desa ini makin lemah, maka kita harus menerapkan kesepakatan ini,” terang Suarjana menunjuk gaya berdagang warganya.

Bau-bau komersial industri pariwisata yang lazim ditemui di objek wisata lain pun juga dihindari misalnya publikasi buku panduan dan penempatan guide. Alasannya, pengunjung diharapkan berinteraksi langsung dengan warga desa untuk mengenal adat istiadatnya, juga mampu mencitrakan secara utuh bahwa keunikan Tenganan adalah gaya hidup sehari-hari warga yang masih menjaga tradisi warisan turun-temurun.

Setiap harinya, tiga bulan belakangan ini jumlah pengunjung yang tercatat di buku tamu rata-rata 50 orang. Sebagian besar turis mancanegara berasal dari Amerika dan Jepang.

Suarjana menyebutkan, pada saat pariwisata masih booming sebelum adanya beberapa tragedi menghantam pariwisata Bali, ada sekitar 400 orang pengunjung per harinya. Merosotnya jumlah pengunjung ini tidak serta-merta mengurangi minat warga untuk melestarikan adat-istiadat.

Misalnya sekumpulan pemuda Desa Adat Tenganan Pagringsingan memelopori kerja sama untuk memaksimalkan potensi daerahnya dengan tiga desa tradisional Bali lainnya yaitu Desa Plaga, Sibetan, dan Nusa Ceningan. Dikoordinir oleh Yayasan Wisnu yang bergerak di bidang lingkungan hidup, keempat desa tadi membuat program ekowisata desa.

Desa ini dihuni oleh 650 jiwa penduduk. Untuk menjaga desa, kepemilikan tanah diatur secara ketat dalam peraturan adat. ”Sebagian besar tanah dikuasai desa untuk digunakan sepenuhnya oleh adat dan sebagian kecil milik pribadi dan bisa dipergunakan untuk keperluan adat serta tidak boleh dijual,” kata Luanan (sesepuh warga) Desa Adat Tenganan Pagringsingan Mangku Widia. (Luh De Suriyani)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Juni 2004
S S R K J S M
    Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

RSS Bale Bengong

  • Dek Alon Kembali Terpilih Memimpin Muntig
    Setelah dinyatakan lulus, Dek Alon melenggang bebas. Dek Alin menjabat sebagai Kelihan Banjar Dinas Muntig yang kedua kalinya. Sebelumnya, dia bertarung secara bermartabat dengan pesaingnya yaitu Ni Luh Putu Suparwati, istri calon anggota DPRD Kabupaten Karangasem. Mereka bertarung untuk memperebutkan satu kursi kepemimpinan untuk memimpin Banjar Muntig, Des […]
  • Ngiring, antara Pemberontakan Kultural dan Pelarian
    Semoga maraknya orang beragama bukanlah pelarian belaka. Makin sering kita lihat orang Bali berpakaian putih-putih dengan senteng atau kain yang dililitkan di pinggang berwarna poleng (belang) putih-hitam. Ada juga yang berpakaian mencolok dan berbeda dengan penampilan masyarakat pada umumnya. Mereka dengan atribut seperti itu sering dikatakan sebagai orang […]
  • Kalau Bisa Ditunda, Kenapa Buru-Buru Menikah?
    MBA adalah istilah lumrah sekitar 2006 silam. Waktu itu usia saya menginjak 24 tahun. MBA alias married by accident adalah istilah yang lumrah menjadi alasan orang menikah muda. Ini sampai menjadi standar dalam memilih jodoh di antara kawan-kawan saya. Kalimat khas yang masih membekas hingga kini adalah “coba dulu, baru […] The post Kalau Bisa Ditunda, Kenap […]
  • Seminar Konten Digital untuk Generasi Kreatif
    Ada lomba penyiar radio dan seminar nasional September ini. Komunitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMIK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana akan menggelar rangkaian kegiatan Communication Events (COMMET) 2017. Kegiatannya lomba penyiar radio dan seminar memproduksi konten digital. Rangkaian COMMET 2017 akan diawali dengan lomba […]
  • Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari
    Bali pada pertengahan 1990-an sangat bergairah dengan kegiatan sastra dan teater. Penyair-penyair muda juga tumbuh semarak. Salah satu penyair muda yang sangat berbakat pada saat itu adalah Putu Vivi Lestari. Selain menulis puisi, dia juga aktif di Teater Angin SMA 1 Denpasar. Saat itu, bersama teman-temannya, dia rajin menghadiri acara-acara […] The post Wa […]

Blog Stats

  • 125,827 hits
%d blogger menyukai ini: