kamarkecil

Romantisme Sanur, Desa Wisata di Bali

Posted on: Agustus 10, 2007

Menikmati Sanur, untuk sebagian kalangan lebih memuaskan dari pada di Kuta. Pantai, hiburan malam, jasa kecantikan, dan hospitality-nya lebih beragam. Kita bisa memilih menyukai pantai dan tempat hiburan yang pikuk atau sunyi.

Pagi hari di Kuta, turis atau penghuninya masih terlelap. Sementara di sanur, pagi hari adalah momen yang menyenangkan. Sepanjang jalan Danau Tamblingan sampai Pantai Mertasari, para pelancong terlihat jalan kaki sambil terlihat sesekali ngobrol dengan masyarakat sekitar.

Trotoar jalan tak disesaki pedagang, jadi cukup lapang dan nyaman untuk jalan-jalan. Biasanya suasana pagi terlihat lebih meriah di sepanjang pantai di Desa Sanur. Matahari pagi  menghangatkan tubuh yang disapu angin laut. Sebagian pelancong memilih joging atau duduk memandang matahari yang menyembul di horison.

Sejumlah ruas pantai dinamai berbeda. Misalnya yang paling ramai adalah Pantai Sanur, lokasinya sekitar Bali Beach Hotel. Ada Sanur Sindhu, di dekat Hotel Inna Sindhu, Pantai Suwung, Pantai Matahari Terbit, Pantai Padanggalak, dan Pantai Mertasari. Pantai Sanur, paling banyak digunakan untuk mandi karena gelombangnya kecil, dan arus lautnya cenderung stabil. Masyarakat bahkan banyak memilih mandi sampai sejauh 500 meter dari bibir pantai karena airnya masih sepinggang,

Soal ceteknya air, dipengaruhi oleh reklamasi pantai yang setahun terakhir ini dilakukan oleh pemerintah dengan bantuan dana internasional. Pasir dari palung laut dikeruk untuk menambah ruas pantai yang mengikis akibat abrasi. Selain itu dibuatkan ceruk-ceruk penghalang ombak sehingga arus laut tenang.

Pantai sanur kini memang terlihat cantik. Pengunjung pun makin nyaman karena ruas pantai lebar, pasirnya putih, dan semakin banyak sarana rekreasi untuk keluarga. Sejumlah nelayan setempat ada yang menyewakan kano dan ban pelampung. Sebuah kano disewakan rata-rata Rp 5000, dan ban pelampung aneka bentuk Rp 3000-5000.

Terlebih dibangun beberapa bale bengong yang menjorok ke laut. Bale bengong adalah, sebuah bangunan tradisional Bali yang kerap dijadikan tempat ngobrol atau bercengkrama. Dari bale bengong, horison terasa depan mata.

Keramaian Pantai sanur kini, berbeda dengan masa lalunya. Ketika tahun 70-80an, sepanjang pantai dipenuhi perahu-perahu nelayan. Tangkapan ikan di daerah ini sangat terkenal. Ikan-ikan laut kemudian dijual ke Kota Denpasar atau hotel dan tempat hiburan setempat.

Masih ada sisa-sisa masa lalu yang dapat dinikmati. Jejak tradisional dan eksotika Sanur terekam di sejumlah lukisan karya seniman dalam dan luar negeri yang memilih mukim di Desa Sanur. Salah satunya Museum Le Mayeur. Museum ini terletak di tepi Pantai Sanur. Museum yang sederhana dan ramah ini menyimpan beragam lukisan corak realis.
Selain itu tak sedikit penulis asing yang mendokumentasikan Sanur dalam buku budaya atau panduan wisata. Misalnya Leonard Lueras, mantan wartawan Amerika Serikat yang membangun rumah di di sebuah gang kecil di Sanur. Leonard mengenang Sanur tempo doeloe dalam bukunya berjudul Sanur.

Bagi Leonard, Sanur telah memenuhi benaknya akan Bali. Keunikan budaya, tradisi, pruralisme, keindahan pantai, sampai magisme. Salah satu keunikan Sanur yang kerap menjadi bahan penelitian adalah ilmu magis atau pengleakan. Ini juga yang menjadi kemisteriusan Sanur.

Jika punya banyak waktu bersantai di Sanur, silakan mencoba jalan atau gang-gang kecil Sanur. Banyak gang yang terlihat tak berpenghuni karena penuh semak atau pepohonan rimbun. Kita akan dikejutkan dengan bangunan di baliknya yang banyak menyerupai vila. Arsitekturnya beragam dari berbagai negara, sesuai dengan penghuninya yang kebanyakan ekspatriat.

Nah bagaimana dengan kulinernya? Soal ini, Sanur juga lebih variatif dibanding Kuta. Barangkali di Kuta lebih glamour dalam penyajian dan cita rasa, tapi Sanur beruntung dengan banyaknya warung yang menjual makanan lokal.

Di ruas jalan Pantai Sindhu dan Mertasari terdapat sejumlah penjual makanan kaki lima khas lokal yang murah dan enak. Misalnya di Jalan Pantai Sindhu, ada nasi bali dengan lauk sapi, sepiring rata-rata Rp 5000. Ada juga nasi ayam, dengan harga yang sama. Meski kaki lima, kedua tempat makan ini seolah menjadi maskot kuliner lokal di Sanur. Sejumlah hotel akan merekomendasikan tamunya untuk mengunjungi dua warung ini jika mereka menanyakan makanan lokal.

Sanur Village Festival
Pada 15-19 Agustus lalu komunitas pariwisata Sanur merayakan sebuah festival untuk membangkitkan destinasi Sanur. Beragam aktivitas olahraga dan hiburan akan dihelat sepanjang hari.

Tradisionalitas Sanur dengan ikon jukung atau perahu nelayan serta tradisi setempat dipadu dengan ikon medernitas seperti musik jazz, dan makanan dari sejumlah negara yang disajikan oleh sejumlah chef hotel di Sanur. Tak heran bazzar makanan menjadi tempat yang paling ramai dikunjungi turis. Hmm, yummy…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RSS Bale Bengong

  • Merayakan Perpisahan Dua Monyet Kecil Secara Paripurna.
    Kicau burung hari ini terdengar begitu meriah, seperti gegap gempita para penonton sepak bola yang sedang merayakan gol ke gawang tim lawan, entah mereka sedang merayakan apa hari ini. Sepertinya mereka sedang berbincang tentang sesuatu yang saya sendiri tak tahu itu apa. Bicara soal burung, fauna yang begitu banyak ragam jenisnya ini, ada sebuah cerita... T […]
  • Pameran Kreatif tentang Pasar dan Kota Denpasar
    Interaksi dan kolaborasi para seniman dan desainer di DenPasar 2017. DenPasar adalah program baru di CushCush Gallery (CCG) yang bertujuan mengangkat kota Denpasar dalam pemetaan pergerakan seni dan desain di Bali. Dibentuk berupa pameran bersama yang akan dilakukan setiap tahun, DenPasar diharapkan dapat mewakili aspirasi-aspirasi generasi kreatif di masa k […]
  • Tahap Awal Pengelolaan Sampah di Tulamben
    Oleh Nyoman Suastika Pada hari Minggu, 21 Mei 2017 Bank Sampah Bersehati Tulamben mulai dibuka untuk pendaftaran nasabah, jumlahnya 40 nasabah. Tahap baru pengelolaan sampah di Dusun Tulamben, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem dimulai. Untuk tahap awal, operasional menabung di bank sampah akan dibuka setiap bulan pada hari Minggu ke-4. Pembukaan bank […]
  • Online To Offline Store Berrybenka Pertama di Bali
    Saat ini, offline selling yang berubah menjadi online selling merupakan hal yang biasa dan cukup terbilang sukses. Namun lain halnya dengan Berrybenka. Setelah sukses dengan penjualan secara online kini Berrybenka mengembangkan gerai offline di beberapa daerah di Indonesia. Sudah hampir 2 tahun Berrybenka fokus membuka gerai offline untuk menunjukkan keseriu […]
  • Dukungan untuk Program Perlindungan Air Tanah di Bali
    The Body Shop® Indonesia bergabung dengan IDEP dalam program perlindungan air tanah di Bali. Kami sangat senang karena IDEP memiliki pendukung perintis baru untuk program Penyelamatan Air Tanah Bali (BWP): The Body Shop® Indonesia. Disamping donasi yang diberikan, Body Shop® akan berkolaborasi bersama dengan IDEP mengembangkan BWP secara jangka panjang untuk […]

Blog Stats

  • 122,758 hits
%d blogger menyukai ini: