kamarkecil

Calo Carbón atau Emisi?

Posted on: November 27, 2007

Wah, global warming ini memang bukan semata isu lingkungan. Yang lebih hot bukan perubahan iklimnya tapi perdagangan baru, emisi dan karbon. Brangkali nanti ada perusahaan yang buka usaha jasa menghitung emisi dan potensi penyerapan karbon oleh hutan Indonesia.

Inilah isu yang lebih seksi dibanding memikirkan advokasi masyarakat untuk mengubah gaya hidup berkaitan dengan pengurangan emisi ke udara. Indonesia, sekali lagi tak berdaya didikte Amerika Serikat untuk menerima kemungkinan menjadi makelar hutan agar Amerika dapat membeli emisi.

Hal ini dirangkum Pantoro Kuswardono alias Torri, Tim Substansi Perubahan Iklim Walhi Nasional pada diskusi yang dilaksanakan swadaya oleh Walhi Bali, Sloka Institute, dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Denpasar. Sejumlah wartawan mendiskusikan hal ini pada 24-25 November lalu di Desa Wisata Kertalangu, Kesiman, Denpasar.

International Panel on Climate Change (IPC), panel PBB yang tahun ini mendapat nobel perdamaian bersama Al Gore akan membahas sejumlah kerangka perjanjian ini di konferensi para pihak (COP-UNFCCC) di Nusa Dua awal Desember ini. Siapa yang akan menjadi artisnya? Tentu saja Amerika Serikat, negara yang kreatif sekali menawarkan solusi alternatif agar terus bisa menghindar dari kewajiban pengurangan gas polutan yang ditenggarai sumber utama climate change ini.

Dipaparkan Torri, Amerika akan membawa persoalan lingkungan, lagi-lagi ke urusan duit dan investasi baru. Ini tentu menggiurkan bagi negara berkembang yang kebetulan punya banyak hutan penyerap karbon seperti Indonesia.

Bagaimana bentuk perdagangan baru itu? Pertama soal perdagangan emisi. Negara yang tidak mau mengurangi emisi dalam negeri, seperti Amerika ini bisa membeli hak emisi negara lain. Artinya ia masih bisa terus mengeluarkan polutan industri jika negara lain yang dibeli emisinya tidak membuang emisi. Konyol sekali, tapi kenyataannya mekanisme ini bisa masuk ke skema rencana aksi global warming.

Amerika dinyatakan sebagai emitor terbesar, mengkonsumsi 26% minyak bumi dunia padahak penduduknya Cuma 5% dari populasi global. Ditambah lagi, 60% produsen minyak dunia berasal dari Amerika. Itu hitung-hitungan Torri. Jepang juga membeli hak emisi karena belum berhasil mengurangi emisi, sesuai kesepakatan.

Kedua, soal perdagangan karbon. Indonesia, tempat salah satu hutan tropik terbesar dunia tentu saja senang dengan skema ini. Dengan bangga Indonesia akan mulai perundingan dengan negara emitor dan delegasi IPC soal berapa tarif hutan Indonesia untuk menyerap karbon. Menurut Walhi, dari tarif pembuka, hutan kita dihargai sangat murah. Hanya Rp 5 rupiah per meter persegi.

Ajang UNFCC nanti akankah membuka berapa tarif baru hutan kita? Sungguh menyedihkan. Berapa pun harga jual hutan, skema perdagangan lingkungan ini malah menjungkalkan kepentingan pendidikan kelestarian lingkungan itu sendiri.

Ayo tanam 10 juta pohon, seperti ajakan ibu-ibu PKK pemerintah Indonesia pada 1 Desember ini. Biar di masa depan makin banyak untung dari perdagangan karbon kah? Ah, sungguh picik kecurigaan saya.

Lalu apakah kita mendukung delegasi Indonesia di UNFCCC? Siapa yang akan mengawal agar skema perdagangan lingkungan tidak menggadaikan problem bumi, tempat berpijak kita? Walhi sendiri bingung menjawab hal ini.

Ah, kalau begitu kitorang hanya bisa ikut tanam pohon, daur ulang sampah, biar makin terbuka peluang usaha calo karbon di masa mendatang.

1 Response to "Calo Carbón atau Emisi?"

ah….cm bisa narik napas panjang
ga bisa komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

RSS Bale Bengong

  • Joged “Ngangkuk” Tradisi Atau Komoditas?
    “Itulah pekerjaan. Saya profesional. Keluarga dan industri tahu saya bekerja sebagai penari joget. Bukan jual diri..”  Kerumunan dari kejauhan diiringi riuhnya suara gambelan rindik berpadu dengan teriakan penabuhnya menjadi penanda pentas joget sudah dimulai. Tidak hanya mengundang remaja dan orang tua dewasa, joget pun menjadi tontonan anak-anak hingga ibu […]
  • Tujuh Startup ini Akan Memudahkan Hidupmu
    Istilah startup sedang hangat dan terdengar seksi di Indonesia. Meskipun terbilang baru di dalam negeri, sudah banyak industri mulai terguncang dengan kehadiran startup dengan beragam servis untuk konsumen Indonesia. Misalnya saja industri transportasi umum. Layanan taksi mulai terguncang dengan hadirnya aplikasi yang memungkinkan mobil pribadi untuk beroper […]
  • Belajar bersama KASTI: Teknik SEO untuk Blog
    Blog ataupun website masih punya peminat.  Meskipun banyak orang telah beralih pada media sosial yang lebih ringkas dan cepat, tulisan panjang tetap memang lebih nikmat jika ditulis dalam blog, ketimbang media sosial. Lalu, bagaimana caranya agar blog dilihat orang? Blog yang berisi konten menarik tentu akan menemukan pembaca setia. Tapi, tentu tidak semudah […]
  • Fenomena Warung Muslim di Bali
    Saya dan istri pernah punya warung masakan Indonesia. Dalam hal penamaan, istri saya suka dengan kata Kita. Jadilah nama Warung Kita dengan diberi logo halal bulat. Segmentasi pasar warung itu adalah untuk semua orang. Semua agama, suku, ras ataupun golongan. Maka kami tidak sematkan kata muslim di nama warungnya. Kami beragama Islam dan bertanggungjawab pen […]
  • Sinema Bentara: Kisah Anak Segala Bangsa
    Juli ini, Sinema Bentara kembali hadir.  Sinema Bentara menghadirkan aneka tematik serta film terpilih lintas bangsa. Agenda ini tak sekadar penayangan film yang berulang, namun dipadukan juga dengan diskusi atau workshop sebagai transfer pengetahuan bagi publik lebih luas. Juli ini, Sinema Bentara kembali digelar dalam konsep Misbar atau layar tancap di ope […]

Blog Stats

  • 114,130 hits
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: