kamarkecil

Satu Ton Banten Nganten, Lalu pengantennya?

Posted on: Desember 17, 2007

Hampir seminggu ini saya metulungan (bantu) ke rumah sepupu yang mau nganten (nikah). Suasananya chaos—horor banget yee–, seperti bakal ada tsumani besok trus orang2 sibuk menyelamatkan dokumen rahasia keluarga.

Seminggu itu ada sekitar tiga puluh orang (70% perempuan) yang rutin metulungan. Setiap orang sibuk dengan kerjaaannya. Suntuk sekali. Kecuali para pria yang bekerja sangat rileks, tak pernah mereka mendiskusikan apa yang dilakukan. Mereka malah bisa ngobrol bebas hambatan. Maklum pekerjaan mereka memang standar, membuat tusuk sate dari bambu dan merajang bumbu untuk pelenkap nampah (motong) babi.

Nah, mari kita melihat betapa chaosnya perempuan dalam rumah di kawasan Gatsu I ini. Ada empat kelompok perempuan dengan tipikal pekerjaannya. Di dapur, empat orang masak di dapur sempit itu berdesak-desakan, tanpa bicara satu sama lain. Di sebelahnya, satu kelompok lagi mejahitan (membuat prakarya janur untuk banten atau sesajen). Satu sama lain mengawasai pekerjaan temannya. Kalau ada yang sedikit saja salah menggores janur, langsung terdeteksi. “Eh, adi keto nues, sing dadi pelih,” begitu disiplinnya.

Kelompok lain merangkai banten. Wuih, kelompok ini paling panas. Saya masuk dalam kelompok ini—termuda dan tergoblok, jadi bekerja mengikuti apa yang dilakukan orang saja–. Sementara tujuh ibu setengah baya ribut-berdebat soal mekanisme perbantenan, saya melongong dengan mata nanar dan tidak berdaya sama sekali dengan dunia perbantenan yang begitu dahsyat.

Jam demi jam sang ibu-ibu pendekar banten ini merangkai buah, janur, beras, bawang, uang kepeng, benang tridatu, dan ramuan lain yang alamak…buanyak banget deh.

Tak heran perdebatan tak pernah berhenti, masing-masing banten sangat mirip ramuannya, tapi namanya beda dan peruntukannya juga beda. Ada satu ibu yang malah meminta persetujuannya dengan saya soal banten yang didebatkan. Dengan serius saya menjawab, “Hmmmmm…. (sambil manggut-manggut).” Si ibu mengira saya setuju dengan dia. Waduh, kacau juga.

Dalam seminggu, pendekar banten itu bekerja sambil berdebat selama tujuh jam sehari. Metulungan bisanya mulai jam 11 siang sampai petang. Betapa hebat energi perempuan-perempuan ini padahal, hampir semuanya sudah mulai menyiapkan dagangan dari jam 3 dini hari lalu berjualan sampai jam 11. Semua, kecuali saya yang pemalas—adalah pedagang nasi soto sapi karangasem di sejumlah pojokan Kota Denpasar. Saya adalah anak salah satu juragan soto yang termasyhur. Haha….

Oke, kita sudahi soal chaos buat banten yang menjadi latar belakang konteks tulisan ini. Di sela-sela perang banten itu, ternyata saya menyisipkan waktu untuk merenung. Ya, hanya merenung, kan tangan masih bisa nyusun sesajen. Saya perkirakan berat banten yang dibuat selama seminggu itu satu ton. Buktinya, kami butuh empat mobil pick up untuk mengirim banten ke lokasi pernikahan sepupuku.
Setiap banten dibuat dengan sangat cermat, tidak boleh ada yang menyalahi aturan dan sangat disiplin dalam hal kualitas bahan bahan yang dipakai. Misalnya, kalau pakai beras, jangan sampai beras yang jelek—walau banten ini nantinya tidak dimakan.

Masing-masing rangkaiannya memiliki nilai filosofi tinggi soal nilai-nilai gender, harapan bagi pasangan yang akan menikah, keajegan rumah tanggga, dan tentu saja kesejahteraan bagi mempelai nanti. Luar biasa, para tetua yang turun temurun mewariskan khasanah ini.

Sungguh kontras dengan kondisi psikis dan lahiriah calon pengantennya. Sepupuku dan calon istrinya menghadapi tekanan yang agak berat juga soal status mereka yang belum bekerja. Menurut saya, kedua penganten juga tak tahu apa nilai-nilai di balik banten sebagai sarana doa saat pernikahan secara agama nanti. Betapa sebenarnya harapan dan doa lewat banten yang dibuat kerabatnya dan didoakan oleh pemangku nanti adalah perenungan.

Saya sendiri baru menyadari hal ini—ketika perang banten terjadi. Kami, orang Bali sungguh perkasa di arena ritual namun tak berdaya di kancah spiritual. Kami tak pernah hirau dengan nilai-nilai dan doa yang disematkan dalam ribuan sesajen (yang dibuat dengan sangat khusyuk, mengorbankan materi dan energi melimpah). Setelah urusan ritual selesai, yang ada hanya kebingungan soal bagaimana mengelola rumah tangga. Ini yang saya temukan pada kakak-kakak saya yang telah menikah dan beranak pinak.

Waduh, kenapa kita selalu baru bisa merenung setelah perang usai ya…

Iklan

4 Tanggapan to "Satu Ton Banten Nganten, Lalu pengantennya?"

dear ibu, tulisan yang menarik. bahasanya juga bukan bahasa biasa, smart. salam buat pak anton ya.

ing bisa komen ne 😦

…ehm, ibu luhde,
setelah saya baca tulisan anda ini sudah cukup untuk mewakili orang Bali pada umumnya tetapi itulah gradasi real yang ada di Bali. Bagi saya cukup disederhanakan saja dgn kembali berupaya mendapatkan pencerahan dan kebijakan…toh kita tidak tahu kapan lahir(kembali) dan mati…

Bagus sekali tulisannya, ini realita. Ibu saya yg notabene juga seorang penjual banten sering cerita, banten juga terkadang mengikuti desa (tempat), kala(waktu), patra (keadaan), jadi bisa berbeda antara daerah satu dan yg lainnya. Satu tambahan lagi, terkadang juga tergantung siapa pemuput (mangku/pedanda)-nya, bantennya bisa berbeda juga. Duh… jadi tambah pusing kalau membayangkannya. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

RSS Bale Bengong

  • Transisi King Of Panda di “Desember”
    Transisi “Desember” King of Panda pada Desember ini. Transisi, itulah yang dialami King Of Panda band pop-punk asal Bali. Semenjak album Me Vs Space Army (2010) dirilis dan membuat King Of Panda menyabet penghargaan sebagai Band Pendatang Baru Terbaik (ICEMA Award 2010).  King Of Panda akhirnya memperkenalkan single baru yaitu Desember. King […] The post Tra […]
  • Leak Sanur dan Mike Marjinal Bersih Pantai
    Solidaritas komunitas di Bali dan Mike Marjinal dari bersih pantai dan konser himpun donasi kemanusiaan bagi pengungsi  erupsi Gunung Agung. Bertempat di Pantai Karang – Sanur,  Kamis sore, 14 Desember 2017 Komunitas Cank Nak Bali Nolak Reklamasi – Leak Sanur melakukan kegiatan beach cleanup, membersihkan pantai dari sampah-sampah terutama sampah […] The pos […]
  • Uniknya Pura di Nusa Penida Berbentuk Candi Jawa
    Arsitektur masa lalu merupakan hasil karya mutakhir pada masanya. Begitu pula dengan bangunan Pura Prajepati di Batununggul, Nusa Penida, Klungkung. Uniknya, pura ini tidak biasa pada umumnya lebih besar menjulang tinggi berbentuk candi ala Jawa. Pura itu terletak samping pojok utara Lapangan umum Sampalan, Desa Pakraman Dalem Setra Batununggul. Keunikan […] […]
  • Mt Agung awakening: an environmental stress relief
    The threat of a Mt Agung volcano eruption in Bali has made the headlines worldwide, creating a sense of fear leading to trip cancellations. Better say it first, it is relatively safe to visit Bali. If an eruption would happen, only a small part of the island would be impacted […] The post Mt Agung awakening: an environmental stress relief appeared first on B […]
  • Kampanye Anti Kekerasan Lewat Enam Belas Film Festival
    Film menjadi salah satu media kampanye antikekerasan. Enam Belas Film Festival Bali yang diselenggarakan YLBHI-LBH Bali bekerja sama dengan Enam Belas Film Festival telah diselenggarakan selama satu minggu di Denpasar dan Badung. Festival ini dibuka pada Sabtu, 2 Desember 2017 lalu oleh Direktur YLBHI-LBH Bali, Dewa Putu Adnyana, S.H., bertempat […] The post […]

Blog Stats

  • 128,237 hits
%d blogger menyukai ini: