kamarkecil

NakNik: Kalau TPA Penuh, Sampah Dibuang Ke Lapangan Renon Aja…

Posted on: Februari 6, 2008

Aksi Anak-anak Memahami Sampah

Sinetron dan dongeng, dua hal yang menjadi kesukaan anak-anak kini. Kisah puteri dan pangeran tak pernah hilang dari memori anak-anak. Puluhan anak-anak di daerah Subak Dalem, Denpasar Utara juga memilih cara ini untuk memahami pendidikan lingkungan hidup.

Minggu, 3 Februari lalu 12 anak-anak yang tergabung dalam kelompok NakNik itu mementaskan drama yang berjudul “Kisah Puteri dan Pemulung”. Tokoh utamanya adalah Puteri dari Kerajaan Subak Carik yang mencari pasangan. Dari sekian orang pelamar, seorang pemulung memberanikan diri mendaftar.

“Aku adalah penyelamat bumi. Kalau tidak ada aku sampah-sampah bisa membuat banjir. Aku juga bisa menghasilkan banyak uang hanya dengan mendaur ulang sampah,” kata si pemulung yang diperankan Made Sudarsana bangga. Akhirnya pemulung ini dipilih Puteri karena sesuai dengan kondisi kerajaan yang membutuhkan penyelamat dari kepungan banjir.

Drama itu sungguh tepat dengan situasi lingkungan saat ini. Hujan deras sehari membuat banjir berhari-hari di ibukota Jakarta dan tempat lain di Indonesia.

Pentas anak-anak berusia 3-14 tahun ini juga menyentil orang tua mereka yang beberapa kali terlibat konflik penanganan sampah di Jalan Subak Dalem itu. Sebagian warga di Subak Dalem masih membuang sampah di tanah kosong, sungai, atau got di dekat rumah mereka. Sampah-sampah itu sebagiannya dibakar.

Inilah yang menjadi sumber sejumlah perselisihan seperti asap pembakaran dan sampah anorganik yang menyumbat got atau sungai. Sampai kini, persoalan ini belum terpecahkan.

Untuk mulai mengurai konflik itu, komunitas NakNik, kelompok anak-anak di Gang V Jalan Subak Dalem itu mengundang Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali. Dalam suratnya NakNik mengatakan masalah sampah akan menjadi persoalan lingkungan yang berat bagi warga di daerah pemukiman baru ini.

“Banyak yang buang sampah di sungai, padahal saya setiap hari mandi di sungai itu,” kata Gede Santika, 14 tahun. Bersama teman-temannya Gede membutuhkan sungai itu untuk mandi dan mencuci baju. Air besih yang didapatnya dari sumur bor diprioritaskan untuk memasak.

Gede dan teman-temannya begitu gembira setelah memastikan kehadiran PPLH Bali pada Hari Minggu itu. Mereka memutuskan untuk mempersembahkan drama untuk membagi kesepahaman soal pentingnya mulai bertindak untuk mengolah sampah.

Drama hasil latihan dua hari itu dipentaskan dengan santai dan atribut pendukung seadanya. Anak perempuan menyiapkan mahkota untuk sang puteri dari bunga kamboja. Sementara sejumlah orang dewasa menonton sambil tersipu malu.

Ida Bagus Nyoman Armasandiasa dan I Ketut Narta dari PPLH Bali kemudian mengajak anak-anak mengenal jenis-jenis sampah dengan kartu permainan. Anak-anak dibagi menjadi dua kelompok yang bersaing untuk memisahkan sampah menurut jenisnya, organik dan non organik.

Istilah ini agak sulit diingat anak-anak. Tapi setelah dijadikan bahan mainan, semuanya terlihat bersemangat. Sebagian besar salah mengelompokkan jenis sampah.

Jenis sampah organik diantaranya tusuk sate, ikan, kulit jeruk, daun pisang, dan kulit telur. Sedangkan anorganik misalnya kertas, besi, wadah air mineral, dan bungkus mi.

“Kertas kan organik, karena dibuat dari kayu,” sergah seorang anak pada pelatih dari PPLH Bali itu. Oleh Ketut Narta dijelaskan kertas sudah mengalami proses industri dari kayu menjadi bahan kertas sehingga dikelompokkan jadi sampah anorganik.

Anak-anak kemudian diajak berdiskusi bagaimana orang tua mereka memperlakukan sampah. Dengan riang mereka menjawab,”Sampah dibakar, dibuang ke sungai, dijual.”

Ketika ditunjukkan cara pembuatan kompos dari sampah organik, anak-anak sangat antusias. Cara pembuatannya seperti gaya permainan anak jaman dulu (medagang-dagangan) membuat mereka antusias.

Bahan yang dibutuhkan cuma tong sampah, kulit padi atau sekam sebagai peredam bau, dan air. Sayangnya, untuk jumlah sampah organik yang banyak, diperlukan mesin pemotong untuk mencacah daun-daunan atau sisa makanan lain. Pembuatan pupuk kompos hanya salah satu cara daur ulang sampah. Upaya sederhana untuk mengurangi tumpukkan sampah.

Sampah rumah tangga yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akhirnya juga akan menumpuk saja jika tidak diolah lagi. “Kalau TPA penuh, sampah dibawa ke Lapangan Renon saja,” Jennifer, anak 9 tahun menyela. Disambut tawa teman-temannya.

Sampah di seputar Kota Denpasar dibuang ke TPA Suwung, Jl Baypass Ngurah Rai. Gunung-gunung sampah setinggi hampir 10 meter dibiarkan terus meninggi. Instalasi pengolahan sampah belum sepenuhnya berfungsi. Pemilahan sampah secara rutin kini terlihat dilakukan oleh puluhan pemulung yang setia menunggu datangnya truk-truk pengangkut sampah.

Melihat kondisi itu, PPLH Bali mendidik masyarakat untuk melakukan pengolahan sampah secara mandiri. Misalnya dengan mengadvokasi masyarakat membuat pos-pos pengolahan sampah di sekitar tempat tinggalnya. “Deplot pengolahan sampah yang telah berhasil di Desa Sanur Kauh dan Sanur Kaja,” kata Armasandiasa, yang akrab dipanggil Gusman, bidang pemberdayaan masyarakat PPLH Bali.

Untuk mewujudkan deplot itu bukan perkara mudah karena kebiasaan warga yang tidak hirau dengan sampahnya sendiri. “Kami biasanya mendekati kelompok ibu-ibu. Kini di Sanur, deplot-deplot itu telah memperkerjakan 4-10 orang untuk mengumpulkan dan mengolah sampah,” kata Gusman.

Selain memenuhi undangan masyarakat yang tertarik dalam pengolahan sampah, PPLH Bali juga membuat program edukasi rutin ke sekolah tingkat dasar di Bali. Anak-anak dan remaja menjadi target pendidikan lingkungan.

“Kebiasaan orang dewasa yang tak peduli dengan lingkungan sulit diubah. Anak-anak bisa menjadi contoh perubahan dalam keluarga,” kata Ketut Mertha, salah seorang bapak yang menonton NakNik sore itu.

Iklan

4 Tanggapan to "NakNik: Kalau TPA Penuh, Sampah Dibuang Ke Lapangan Renon Aja…"

Halo LuhDe…
terimakasih atas sambutannya
saat launching baliblogger….
mohon maaf ngga bisa sampai selesai
maklum sudah janji sama anak2 di rumah
nganterin mrk ke gramedia jam 18.30Wita

Ok, semoga makin rame nih orang bali yg ngeblog…. apang sing belog 🙂

Oh ya, jl. subak dalem dimana ya?
pengen ikutan nih acara untuk pengembangan pendidikan anak-anak…
saya sangat antusias… kapan ada lagi ?

Suksma,
dayu puspa

bu puspa yang ayu: makin bergairah, karena makin banyak ibu rumah tangga yang ng-blog. hehe. Subak Dalem itu kawasan perumahan baru. Masuk lewat Gatsu I/XXIII trus belok kanan iutlah subak dalem.
Pokoknya tergnatung maunanya NAkNIk

saya setuju seX dengan kegiatan anak2 ini,
harusnya para perusak lingkungan itu banyak belajar dari anak2 itu.

kebanyakan orang jaman sekarang apalagi yg hidup dikota (maaf,extrim dikit) taunya hanya naruh sampah di depan rumah,tinggal bayar bulanan,udah selesai…

lamnal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

RSS Bale Bengong

  • Dek Alon Kembali Terpilih Memimpin Muntig
    Setelah dinyatakan lulus, Dek Alon melenggang bebas. Dek Alin menjabat sebagai Kelihan Banjar Dinas Muntig yang kedua kalinya. Sebelumnya, dia bertarung secara bermartabat dengan pesaingnya yaitu Ni Luh Putu Suparwati, istri calon anggota DPRD Kabupaten Karangasem. Mereka bertarung untuk memperebutkan satu kursi kepemimpinan untuk memimpin Banjar Muntig, Des […]
  • Ngiring, antara Pemberontakan Kultural dan Pelarian
    Semoga maraknya orang beragama bukanlah pelarian belaka. Makin sering kita lihat orang Bali berpakaian putih-putih dengan senteng atau kain yang dililitkan di pinggang berwarna poleng (belang) putih-hitam. Ada juga yang berpakaian mencolok dan berbeda dengan penampilan masyarakat pada umumnya. Mereka dengan atribut seperti itu sering dikatakan sebagai orang […]
  • Kalau Bisa Ditunda, Kenapa Buru-Buru Menikah?
    MBA adalah istilah lumrah sekitar 2006 silam. Waktu itu usia saya menginjak 24 tahun. MBA alias married by accident adalah istilah yang lumrah menjadi alasan orang menikah muda. Ini sampai menjadi standar dalam memilih jodoh di antara kawan-kawan saya. Kalimat khas yang masih membekas hingga kini adalah “coba dulu, baru […] The post Kalau Bisa Ditunda, Kenap […]
  • Seminar Konten Digital untuk Generasi Kreatif
    Ada lomba penyiar radio dan seminar nasional September ini. Komunitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMIK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana akan menggelar rangkaian kegiatan Communication Events (COMMET) 2017. Kegiatannya lomba penyiar radio dan seminar memproduksi konten digital. Rangkaian COMMET 2017 akan diawali dengan lomba […]
  • Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari
    Bali pada pertengahan 1990-an sangat bergairah dengan kegiatan sastra dan teater. Penyair-penyair muda juga tumbuh semarak. Salah satu penyair muda yang sangat berbakat pada saat itu adalah Putu Vivi Lestari. Selain menulis puisi, dia juga aktif di Teater Angin SMA 1 Denpasar. Saat itu, bersama teman-temannya, dia rajin menghadiri acara-acara […] The post Wa […]

Blog Stats

  • 125,827 hits
%d blogger menyukai ini: