kamarkecil

Sad Ending

Posted on: Februari 19, 2008

Kunjungan saya ke kantor KPA Bali, Jl Melati pada Senin (18/2) Februari lalu itu benar-benar menjadi klimaks. Sad ending. Penyesalan dan kekecewaan saya membuncah.

Padahal hari itu saya membawa semangat yang bertumpuk ke KPA. Saya merencanakan akan membuat beberapa artikel Lentera media cetak dengan tenang sambil makan siang. Saya mengemas makan siang dari rumah, lengkap dengan air minumnya. Tumben banget, padahal saya biasanya selalu minta air di Rai-IHPCP. Nggak tahu, mungkin saking semangatnya mau menghabiskan setengah hari itu di KPA.

Sepuluh menit dari rumah, saya sudah sampai di KPA. Sampai di depan pintu masuk ruang Kulkul (dulu), saya terperanjat. Ruangan itu sudah bersih dari tumpukan majalah, media jaringan HIV/AIDS dari luar Bali, makalah2 bank data HIV/AIDS selama tiga tahun, dan tentu saja majalah Kulkul.

Perasaan saya limbung karena rasa khawatir yang tinggi. Saya langsung menyambar gagang pintu lemari arsip majalah Kulkul selama tiga tahun yang ada di pojok ruangan. Hati saya mencelos… Benar saja, semua arsip Kulkul lenyap. Lemari segi lima kecil tempat arsip Kulkul selalu berjejalan (karena saking kecil dan bentuknya persegi lima-nggak match dengan Kulkul yang segi empat) itu kini hanya ruang hampa.

Saya melolong mengajukan pertanyaan beruntun pada Pak Yahya, PO KPA, satu-satunya orang dalam ruangan itu. ”Pak, arsip Kulkul kemana? Kok saya nggak dikasi tahu ada pembersihan kaya gini? Kalau tahu kan saya yang ngepak arsip2 itu dulu?” saya bertanya dengan nada gusar.

Pak Yahya menjawab bahwa yang membersihkan petugas kebersihan karena waktu itu ada pemeriksaan di kantor. Saking gusarnya saya tak ingin kembali bertanya, apa hubungannya pembersihan arsip Kulkul dengan pemeriksaan? Emangnya Kulkul itu Buku Bumi Manusia-Pramudya Ananta Toer yang harus dibakar pada jaman orba.

Nafas saya tersengal. Saya langsung menyimpulkan dengan penuh emosi. Oke, inilah puncak pembiaran KPA pada kerja-kerja tim Kulkul. Bahwa memang benar Kulkul tidak berarti apa pun untuk KPA, dan tidak ada yang akan peduli dengan jejak-jejak Kulkul sebagai asset informasi KPA. Gimana peduli, menyimpan arsipnya pun tidak ingin.

Padahal saya berpikir, Kulkul bisa jadi salah satu oleh-oleh kalau ada kunjungan kerja dari KPA atau lembaga HIV/AIDS lain ke KPA Bali. Tak apalah cuma jadi pajangan, yang penting ada jejak yang tertinggal bahwa KPA pernah membuat media.

Ternyata pengulangan sejarah terjadi. Sebelum Kulkul pun, KPA pernah membuat majalah soal HIV/AIDS yang didanani AusAid. Saya baru tahu KPA pernah membuat majalah seperti ini setelah tiga bulan saya membuat Kulkul. Itu pun tahuanya tidak sengaja.

Padahal majalah itu sangat berguna untuk melihat riwayat pennaggulangan AIDS pada awal epidemi ini di Bali. Tentu saja sangat berguna untuk kami di redaksi, melihat apa yang bisa disempurnakan dari majalah ini agar Kulkul bisa tampil lebih baik.

Selama beberapa menit saya hanya membatin dan memikirkan (berasumsi) cueknya KPA pada Kulkul. Sambil merenung itu saya membuka beberapa file Kulkul di komputer yang kini dipakai PO KPA (memang sudah selayaknya, walau saya juga tak diberi tahu bahwa semua sarana operasional Kulkul sudah dialihkan. Karena belum ada pernyataan resmi pada kami bahwa Kulkul telah dihentikan).

Saya tak jadi mengambil data untuk artikel Lentera karena saya igin secepatnya membongkar gudang untuk mengunpulkan arsip sebelum semuanya dijual. Saya takut sekali kalau sudah dijual atau dibuang. Untuk data-data Kulkul di komputer, saya lalu menelepon Warsa, desainer Kulkul untuk mengamankannya dalam hardisk lain. Soal ini, Pak Yahya sudah saya beritahu. Saya bisa gila jika data-data dan naskah HIV/AIDS di Kulkul selama tiga tahun hilang.

Saya memanggil Mbok Wayan, yang biasa membersihkan kantor untuk mengajaknya ke gudang. Ia sendiri tak tahu dimana semua barang di ruangan Kulkul dibawa karena yang membersihkan temannya, Mbok Nyoman.

Dengan nafas tertahan saya membolak-balik majalah2 yang tertumpuk tak karuan. Upss, saya juga melihat bundelan Kulkul satu tahun yang sudah dipress itu tergeletak. Oh, arsip yang sudah dibundel rapi pun tak sudi disimpan. Saya meminta berkali-kali ke Mbok Wayan agar semua majalah Kulkul jangan dijual ke pemulung. Saya bilang mungkin saja Bu Dayu tiba-tiba minta untuk laporan keuangan. Ini hanya trik saya saja menakut-nakuti agar tidak dijual. Kalau saya yang minta, ah, siapa yang denger?

Saya sungguh takut semua majalah itu dijual. Padahal, masih banyak yang minta. Tiga sepupu saya yang kelas I SMA aja kemarin minta Kulkul di rumah saya untuk buat tugas sekolah nggak tak kasi. Cuma untuk dipinjamkan, dan minta dibalikin seminggu lagi.

Saya menumpuk beberapa arsip yang saya temukan di kardus kecil. Saya tak berharap berhasil mengumpulkan 30 edisi arsip Kulkul karena sudah nggak jelas lagi dimana. Akhirnya saya menumpuk Kulkul di dua kardus. Saya bingung juga mau naruh dimana, sampai akhirnya pasrah untuk menyelusupkan arsip itu kembali ke KPA, dalam lemari kayu tempat berbagai alat komputer yang tak terpakai.

Ratusan sisa majalah lain yang tidak terkirim karena petugas distributor tak ada, saya minta ijin ke Mercya untuk dibagi-bagi ke sejumlah siswa di rumah saya. Pokoknya jangan dijual dulu sebelum dimanfaatkan orang.

Dengan nelangsa saya meninggalkan kantor KPA. Pikiran saya berkecamuk. Saya ingin membalas kekecewaan dan frustasi ini dengan membuat sesuatu untuk melanjutkan apa yang telah Kulkul hasilkan. Saya pikir sebagian informasi soal Odha, pengobatan HIV, suka duka petugas lapangan, dll, masih cukup bermakna untuk dibagi.

Saya akan membagi semua data dan informasi HIV/AIDS di Kulkul ini lewat blog saja untuk langkah awal. Dana ratusan juta itu tak boleh lenyap hanya oleh pembiaran institusi. Informasi memang harus dikuasai untuk dibagi.

Iklan

14 Tanggapan to "Sad Ending"

Duh, sadis banget tuh KPA?
emang KPA itu apa ya? kok gak pengertian banget, gak ngerti arti arsip, gak kerti literatur, gak ngerti tulisan, gak pernah makan bangku sekolah ya…?

KPA=Korps Pasukan Aserehe, ya? pantes aja, main sikat aja. Aku jadi jengkel…
Ayo De.. bertindak yang tegas, marahin saja siapa yang kasih perintah beres2 tanpa informasi itu…

jadi sebel aku…!

huh … tak bertanggung jawab 😀 *injek injek KPA*

blom ngeh apa itu KPA ?
apa institusi tentang AIDS kali ya.

ya semoga datanya masih bisa di pake buat yang memerlukan mbok.

*Lempar Granat ke KPA*

to all: KPA = KOmisi Penanggulangan AIDS (Aduh, emang gak gaul ya KPA ini. Atau isu ini tidak digauli, padahal hasil dari menggauli. Ih, maksa banget. hik…hikk..)

Dilemparin kondom, wah terima kasih sekalee… jangan yang bekas ajah

wuih kok bisa keto di nah mbok? sadis sajan. alasan ne ga nyambung sekali. pemeriksaan. kayak mau sweeping gen nok.

winyo: ini masuk kategori bullying gak bli?

Termasuk donk mbok 🙂
Kan mbok sudah disiksa ne artine hahahaha …
Mbok juga sering di-bully sama bli Anton kan 😛

Masa sih KPA seperti itu? Kalau tidak salah KPA ada dibawah wagub yang sering nongol di teve masalah penanggulangan HIV/AIDS.

Saya sempat membaca Kulkul yang dikirimi secara misterius ke klinik tempat saya bekerja, isinya memang sangat bermanfaat. Sayang majalah seperti itu memang ‘tidak layak jual’ dan tidak menghasilkan duit.

wah, aku lambat banget dengar berita.
Sori lode, lama gak buka blog mu.
Btw, gak usah deh ngarepin KPA untuk kasi info soal AIDS. Ayo lode, lanjutin rencana Kulkul modal dengkul. Aku siap bantu kok. Maju terus pantang mundur………….

blogdokter: Ini bukan representasi KPA secara kelembagaan tapi manajemennya. Saya sih salut ma relawan KPA yang semangat banget ngurus KPA. Secara mereka cuma relawan dan tokoh sibuk kaya dokter IMCW juga. seperti prof wirawan, dr. tuti, dr. mangku karmaya, dll.

ervie: ah, beneran? awas syibuk gak bisa di ganggu di sindo bali.

maaf aku telat bacaNya…

koq segitunya sih KPA…jadi ill fell bacanya

gimana Mbok…
Kul-Kul Modal Dengkul ????

aku siap kapanPun….!!
Let`s Get Started…

Beberapa bendel arsip kulkul ada dibawa Mercya ke tempat saya, tapi kok saya nggak tahu kalau tempatnya arsip kulkul di KPA dibersihkan ya? Weleh, untung sempat baca artikel blog ini. Gmn tuh jadinya? jangan-jangan no money, no action jadinya kulkul juga dilupakan KPA..belum lagi nanti wagub ganti…

Saya dukung Kulkul bisa masuk web, paling nggak di blog.kan keren juga…Siap bantu buat Kulkul Modal Dengkul nya…

Contact me ya mbak Lode..

widari: tunggu tanggal mainnya

dok oka: arsip kulkul yang dibawa ke PKBI itu bukan arsip yg saya maksud. itu kulkul baru yang memang selayaknya didistribusikan. thx dokter…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

RSS Bale Bengong

  • Merayakan Perpisahan Dua Monyet Kecil Secara Paripurna.
    Kicau burung hari ini terdengar begitu meriah, seperti gegap gempita para penonton sepak bola yang sedang merayakan gol ke gawang tim lawan, entah mereka sedang merayakan apa hari ini. Sepertinya mereka sedang berbincang tentang sesuatu yang saya sendiri tak tahu itu apa. Bicara soal burung, fauna yang begitu banyak ragam jenisnya ini, ada sebuah cerita... T […]
  • Pameran Kreatif tentang Pasar dan Kota Denpasar
    Interaksi dan kolaborasi para seniman dan desainer di DenPasar 2017. DenPasar adalah program baru di CushCush Gallery (CCG) yang bertujuan mengangkat kota Denpasar dalam pemetaan pergerakan seni dan desain di Bali. Dibentuk berupa pameran bersama yang akan dilakukan setiap tahun, DenPasar diharapkan dapat mewakili aspirasi-aspirasi generasi kreatif di masa k […]
  • Tahap Awal Pengelolaan Sampah di Tulamben
    Oleh Nyoman Suastika Pada hari Minggu, 21 Mei 2017 Bank Sampah Bersehati Tulamben mulai dibuka untuk pendaftaran nasabah, jumlahnya 40 nasabah. Tahap baru pengelolaan sampah di Dusun Tulamben, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem dimulai. Untuk tahap awal, operasional menabung di bank sampah akan dibuka setiap bulan pada hari Minggu ke-4. Pembukaan bank […]
  • Online To Offline Store Berrybenka Pertama di Bali
    Saat ini, offline selling yang berubah menjadi online selling merupakan hal yang biasa dan cukup terbilang sukses. Namun lain halnya dengan Berrybenka. Setelah sukses dengan penjualan secara online kini Berrybenka mengembangkan gerai offline di beberapa daerah di Indonesia. Sudah hampir 2 tahun Berrybenka fokus membuka gerai offline untuk menunjukkan keseriu […]
  • Dukungan untuk Program Perlindungan Air Tanah di Bali
    The Body Shop® Indonesia bergabung dengan IDEP dalam program perlindungan air tanah di Bali. Kami sangat senang karena IDEP memiliki pendukung perintis baru untuk program Penyelamatan Air Tanah Bali (BWP): The Body Shop® Indonesia. Disamping donasi yang diberikan, Body Shop® akan berkolaborasi bersama dengan IDEP mengembangkan BWP secara jangka panjang untuk […]

Blog Stats

  • 122,758 hits
%d blogger menyukai ini: