kamarkecil

Pekerja Seks dan Pelanggan: Mencegah HIV/AIDS Masuk Rumah

Posted on: Februari 29, 2008

foto-blog-psk1.jpgfoto-blog-psk1.jpg

Lokasi transaksi seks (lokalisasi?) itu nyata ada dan telah hidup menghidupi masyarakat sekitarnya sejak 1975. Di tengah pemukiman penduduk, sekolah dasar, SMA, SMP, tempat ibadah, hotel, dan remaja yang menikmatinya.

Daerah transaksi seks ini akrab disebut Carik, karena dulu berdiri di tengah-tengah sawah. Persawahan itu kini menjadi perumahan yang padat. Saking padatnya, ruas-ruas gang semrawut dan sepeda motor kesulitan melaluinya.

Sebuah klinik kesehatan yang dibuat Yayasan Kerti Praja berdiri di kawasan itu. Ruangan sangat sederhana, berukuran sekitar 5×5 meter yang dibuka dua kali seminggu itu memberi wajah lain di kawasan ini.

Ruangan berlantai semen ini barangkali sudah menolong puluhan nyawa. Tak hanya bagi pelanggan dan pekerja seks di sekitar itu. Tapi juga menyelamatkan pasangan mereka, suami, istri, anak-anak, dan keluarga para pelanggan seks itu di rumah. Tahukah, mungkin kita adalah salah satu yang diselamatkan. Karena bisa jadi salah seorang kerabat laki-laki pelanggan seks itu saudara atau kita sendiri.

Klinik kecil ini memberikan jasa pemeriksaan dan pengobatan khususnya untuk infeksi menular seksual (IMS), tes HIV, dan pemeriksaan kesehatan reproduksi umum. Hasilnya, banyak yang terinfeksi IMS, dari gejala ringan sampai berat. IMS juga bisa menulari pasangan seksual dan berpengaruh pada janin yang dalam kandungan.

Seperti yang dirasakan Made Rai, sebut saja demikian. Pria muda ini datang ke klinik dan mengeluhkan luka yang datang tiba-tiba tiap kali seusai berhubungan seks. “Apang seken nawang penyakitne, harus periksa. Nyak periksa?” tanya Gusti Ayu Wahyuni, perawat yang bertugas di klinik itu membujuknya untuk memeriksa kepastian jenis penyakit apa yang diidap Made.

Made terlihat bimbang. Ia mengatakan penyakitnya bisa sembuh kalau dikompres dengan air hangat dicampur garam. Wahyuni merasakan kebimbangan Made dengan menganjurkan ia melakukan pemeriksaan di Klinik Amerta, klinik milik YKP juga yang berada di Jalan Raya Sesetan, Denpasar itu. “Di sana ada dokter cowok, silakan periksa di sana ya, kan sudah tahu tempatnya,” ujar Wahyuni pada Made.

Wahyuni memaklumi kadangkala pelanggan seks laki-laki malu diperiksa oleh perempuan. Namun soal cara mengobati IMS yang kerap memusingkan perawat yang telah bekerja di YKP sejak 1976 ini. Banyak sekali cara-cara salah yang dilakukan untuk mengobati IMS. Praktik perawatan dan pengobatan yang biasanya berkembang dari mulut ke mulut itu malah seringkali membuat IMS makin parah dan kebal pada obat.

Hal ini yang mengakibatkan IMS datang terus setiap kali usai berhubungan seks dan tidak pernah sembuh. Seperti yang diakui Made.

Memberikan informasi yang benar dan menganjurkan pengobatan pada laki-laki pelanggan seks bukan perkara mudah. Hal ini diakui Wahyuni dan petugas lapangan penjangkau pelanggan seks di Bali.

“Krama Bali kebanyakan maboya. Laki-laki pelanggan seks menganggap dirinya sakti bisa menghindari HIV atau IMS padahal mereka tahu banyak yang sudah kena. Disuruh pakai kondom tidak mau. Akhirnya menularkan ke istri atau anak-anaknya,” papar Novita E. Wuntu, salah seorang pendamping orang yang terinfeksi HIV (Odha) di Bali.

Menurut penelitian Prof dr. Dewa Nyoman Wirawan, MPH, pendiri YKP, karena masih ada pelanggan seks yang menolak menggunakan kondom maka pada 2008 ini diperkirakan akan ada 800 orang pelanggan seks yang terinfeksi HIV. Jumlah ini meningkat karena sebelumnya diperkirakan ada 800 orang pelanggan seks terinfeksi HIV selama tiga tahun (2003-2006).

Tak heran, kasus HIV dan AIDS kini didominasi karena akibat hubungan heteroseksual (antar laki-perempuan). Menurut data Dinas Kesehatan Bali, akhir November 2007 lalu jumlah kasus HIV dan AIDS di Bali melonjak menjadi 1.782 kasus. Sebagian dari jumlah itu diidap oleh anak muda berusia 20-29 tahun (920 orang), dan 44 remaja berusia 14-19 tahun.

Sebanyak 53% orang tertular melalui hubungan seks laki-laki dan perempuan (heteroseksual). Sekitar 34% terinfeksi karena penggunaan narkoba suntik. Padahal sebelumnya kasus tertinggi selalu akibat penggunaan narkoba suntik. Dua puluh anak-anak dan bayi terinfeksi HIV tertular dari ibunya.

Sejumlah pekerja seks di kompleks Carik dengan sadar kini selalu memaksa pelanggannya untuk memakai kondom. Beberapa di antaranya juga dengan rutin memeriksakan kesehatan ke klinik YKP, dan ada yang telah sukarela tes HIV. “Saya tidak mau banyak yang kena penyakit. Makanya saya selalu minta pelanggan pakai kondom. Saya sendiri juga nggak mau tertular,” ujar Indah, sebut saja demikian, salah satu pekerja seks di sana.

Kadang-kadang mereka berkumpul di klinik itu untuk bagi-bagi pengalaman cara pencegahan HIV dan IMS. Juga berbagi trik cara merayu pelanggan agar mau pakai kondom. Para petugas lapangan YKP, perawat, dan perempuan pekerja dipaksa kondisi untuk terus menjangkau pelanggan seks. Mencegah penularan HIV dan IMS dari pelanggan ke keluarga mereka di rumah.

12 Tanggapan to "Pekerja Seks dan Pelanggan: Mencegah HIV/AIDS Masuk Rumah"

Carik itu daerah mana mbok luh?

devari: carik di kawasan gatsu tengah. silakan mampir kesana ya. jangan bawa istri

nah loch,ketahuan ni bli made ini..!!
mau ngapain nanyain tempatnya ???

bukannya disana lebih manstabs bli… 😆

Ngomongin seks memang tidak akan ada habisnya.

@lodegen,ady gondronk, wakakak
beh nak metakon gen:)

boleh gak aku main2 ke sana, bu?
sekali aja. hihihi..

blogdokter: sedap dok….

devari: di karibia udah puasss ya liat ML dimana-mana

ayah: tentu ayah, jangan bawa bani ya. *basa-basi

tanpa bermaksud memarginalkan pekerja seks (PS), tetapi memang perlu sekali mengikis ambivalensi, misalnya banyak yang anti lokalisasi PS tapi tahunya selingkuh atau malah nyari PS juga. saya punya klien konseling sekarang 2 anak SMA padahal anak orang kaya yang juga nyari duit dengan berjualan tubuh, berarti ini masuk yang indirect lho, lebih susah lagi pendampingannya, syukur mau konseling. nah, estimasi tahun 2003 pekerja seks yang terinfeksi HIV sekitar 9%, tahun 2007 estimasinya menjadi 14%.sangat tepat memang harus ada pendampingan yang efektif ya…edukasi juga harus jalan terus, yang perlu banget adalah mengikis mitos, ya kayak tadi..masih ada juga yang ngakunya kebal sama penyakit. kebal dari hongkong!

Nah….namanya sex pekerjaan sampingan haaa??

Duh..segitunya. Apakah memperkerjakan diri sendiri hanya dengan mengeksploitasi tubuh dan mengumbar hawa nafsu saja ? Intinya pencegahan sebenarnya dari diri kita kaaaan. Mau apa nggak. Yang jelas pekerjaan itu bisa dicarii, yang penting halal.

bagusnya lokalisasi ditempatkan disamping gedung DPR

huahahahaha… bapak emang cerdas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

RSS Bale Bengong

  • Perdagangan Penyu di Bali Kembali Marak
    Bali darurat perdagangan penyu.  Betapa tidak? Dalam waktu 1,5 bulan terakhir setidaknya terdapat empat kasus penggagalan penyelundupan 124 ekor penyu hijau ke Bali oleh penegak hukum. Karena itulah perlu upaya untuk memperkuat para aktor dalam melestarikan penyu di Bali. Pada 6 April 2016, Direktorat Kepolisian Perairan (Ditpolair) Polda Bali berhasil mengg […]
  • Merayakan World Fair Trade dengan Nglawar
    Karena nglawar pun bagian dari sikap perlawanan. Maka, pengrajin dan pelaku bisnis perdagangan berkeadilan (fair trade) di Bali pun merayakan World Fair Trade Day 2016 dengan masak menu tradisional dan makan bersama. Nglawar adalah pilihan untuk menumbuhkan kebersamaan. Nglawar menjadi salah satu bagian dari perayaan Hari Perdagangan Berkeadilan Sedunia oleh […]
  • Membaca Indonesia Melalui Film Pendek
    Film pendek itu bukan sinetron. Karena itu, Minikino menentukan 20 menit sebagai batas terpanjang durasi film untuk bisa masuk seleksi program Indonesia Raja. Film pendek memiliki format bertutur berbeda dengan film panjang, layaknya karya cerpen atau puisi yang berbeda dengan novel. Sejak 2002 Minikino telah menyatakan fokus kegiatannya pada film pendek. Sa […]
  • Sejarah Klungkung di Semarapura City Tour
    Klungkung termasuk ketinggalan dalam pariwisata di Bali. Dibandingkan daerah-daerah lain di Bali selatan, kabupaten ini tak terlalu terdengar suaranya. Klungkung kurang dikenal sebagai tujuan wisata. Dari 10 obyek wisata paling populer di Bali, tak satu pun dari Kabupaten Klungkung. Padahal, Klungkung juga memiliki sesuatu yang tidak dimiliki daerah lain di […]
  • Moralitas yang Membelenggu Tubuh Perempuan
    Pagi ini saya mengenakan kamisol dibalut jaket batik. Entah karena saya memang agak pecicilan atau karena hal lain, kamisol itu agak melorot. Sedikit banget. Tak banyak. Seorang ibu peserta pelatihan lalu menghampiri saya dan mengingatkan. “Mbak, maaf. Bajunya agak dinaikkan.” Seandainya saja si ibu berhenti sampai di sini, saya akan sangat berterima kasih. […]

Blog Stats

  • 112,590 hits
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: