kamarkecil

Spa Berjalan Men Tunjung

Posted on: Maret 10, 2008

Hampir 30 tahun ini Men Tunjung membawa kesegaran dari rumah ke rumah. Berbekal dua toples ramuan tradisional ia menyusuri jalan-jalan seputaran Denpasar. Peluhnya berbuah wangi kenanga di tubuh pelanggannya.

Sekitar pukul 10 pagi ia bersiap dari rumahnya di kawasan Batubulan, Gianyar, menuju sejumlah tempat tinggal pelanggan jasa kecantikannya. Men Tunjung sendiri tak menunjukkan citra sebagai seorang ahli kecantikan. Tubuhnya terbalut kamen (sarung tradisional Bali), baju kebaya lusuh plus sehelai handuk yang kadang terlilit di kepalanya.

Ia meraba-raba usianya sekitar 70-an tahun. “Sing nawang unduk, pidan kaden lahir,” ujarnya soal tak ada tanda petunjuk kapan ia lahir. Rambutnya setengah memutih. Tapi jangan tanya berapa kilometer ia betah berjalan keliling menjajakan jasa luluran dan pijatnya.

Jl Banteng, Denpasar Utara, adalah salah satu lokasi tempat tinggal sejumlah pelanggannya. Di kawasan ini sekitar empat perempuan ditemuinya minimal sebulan sekali. Salah satunya, Nengah Wati. Perempuan pedagang daging babi di Pasar Badung ini selalu kangen wangi bunga sandat (kenanga) dan cempaka lulur Men Tunjung.

Layaknya spa, Men Tunjung punya tiga jurus untuk menyegarkan pelanggannya. Pertama, tubuh pelanggan dipijat ringan, khususnya sekitar kaki dan tangan. Kemudian dibubuhi minyak zaitun. Minyak dilumuri hampir di semua kulit, sambil terus dipijat ringan.

Minyak ini berfungsi untuk melemaskan kulit yang kaku, agar daki-daki kulit dapat mudah terangkat. Agar daki maksimal terangkat dari kulit, Men Tunjung melumurkan lulur khusus. Lulur inilah yang banyak digandrungi pelanggannya, seperti halnya Nengah Wati.

Lulur daki ini terbuat dari sejumlah rempah seperti kunyit, temulawak, dan kemiri. Semua bahan ditumbuk halus. “Selain daki terangkat, tubuh jadi rileks,” ujar Wati. Bau lulur pun nyaman di hidung, bagai aromaterapi.

Proses pengurutan daki ini cukup lama karena dikerjakan Men Tunjung secara merata di seluruh tubuh. Waktu yang diperlukan sedikitnya satu jam. Secara perlahan, tangan dan kaki diurut sambil ditekan-tekan. Lulur ini dilumurkan berkali-kali ke bagian tubuh yang diurut, untuk memastikan semua daki terangkat. Tangan Men Tunjung sungguh kuat dan terlatih melakukan semua pijatan dan luluran.

Ia tak risih ketika pelanggannya masih muda dan harus mengurut bagian kaki atau pantat. Biasanya, orang Bali, terlebih orang tua punya norma atau pantangan menyentuh bagian yang dianggap kotor seperti kaki dari orang yang lebih muda.

Setelah daki terangkat oleh lulur, Men Tunjung menyudahinya dengan melumurkan lulur wangi untuk menyegarkan kulit. Lulur inilah yang terbuat dari campuran bunga sandat dan cempaka. Kedua bunga ini biasanya dipakai orang Bali untuk membuat canang, sesajen dari janur dan bunga. Bunga-bunga itu juga bernilai ekonomis tinggi karena harumnya yang semerbak dan wanginya lama.

Oleh Men Tunjung, kedua bunga ditumbuk dan ditambahkan bubuk putih. Setelah dicampur sedikit air, lulur akan menempel setelah dioleskan di kulit.

Nengah Wati mengaku sangat nyaman dengan lulur ini. Terlebih sepanjang hari ia bekerja dengan bau daging dan anyir darah yang menyengat di Pasar Badung.

Melihat pelayanan dan metode pelulurannya, Men Tunjung tak kalah ahli dan modernnya dari spa-spa yang ada. “Saya belajar sendiri ketika jadi pembantu,” katanya. Ketika itu, Men Tunjung mengaku disayang majikannya yang seorang bangsawan karena keahliannya memijat dan membuat lulur.

Men Tunjung lahir di Karangasem bagian timur Bali. Ia lahir dan besar di kalangan petani. Dia pun pernah jadi anak angkat seorang muslim di tempat kelahirannya. Ketika remaja dia jadi pembantu di Denpasar, di rumah salah seorang bangsawan. Di sanalah dia untuk pertama kali belajar memijat dan memberi lulur.

Selain memberi pijat dan lulur ala spa, Men Tunjung juga memberi pijatan kesehatan untuk menyembuhkan orang sakit.

Kini, hidup Men Tunjung bergantung pada hasil pijatan dan lulurannya. Dia tidak mau bergantung pada anak-anaknya meski tinggal serumah dengan mereka. “Karena saya masih suka bekerja sendiri dan telanjur cinta dengan pekerjaan ini,” katanya.

Spa tradisional Bali ala Men Tunjung ini makin lama makin banyak penggemar. Men Tunjung sendiri tak memasang tarif khusus. Ia menyerahkan soal biaya pada pelanggannya. Jika dirata-ratakan, per pelanggan memberinya uang Rp 20 ribu. Setiap hari ia melayani sekitar enam pelanggan.

Men Tunjung senang, karena di usia senjanya tak tergantung pada anak, dan sambil bekerja ia bisa jalan-jalan. Peluh dan aroma kenanga tersebar di jalan-jalan yang dilaluinya.

(Lagi nyari2 no telepon rumahnya dong tunjung. Pengen banget diurut daki2nya nie)

Iklan

3 Tanggapan to "Spa Berjalan Men Tunjung"

Mbok Lode mau juga dong lelepon no-nya & alamat jelasnya …:D

arie: men tunjung, Jl. batuyang 1A No 5 Batubulan. Telp: 291063.
aku juga mau booking….hmm..

klo saya tinggal di daerah ubung/green kori mo ga dia datang ya *mengharap*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

RSS Bale Bengong

  • Merayakan Perpisahan Dua Monyet Kecil Secara Paripurna.
    Kicau burung hari ini terdengar begitu meriah, seperti gegap gempita para penonton sepak bola yang sedang merayakan gol ke gawang tim lawan, entah mereka sedang merayakan apa hari ini. Sepertinya mereka sedang berbincang tentang sesuatu yang saya sendiri tak tahu itu apa. Bicara soal burung, fauna yang begitu banyak ragam jenisnya ini, ada sebuah cerita... T […]
  • Pameran Kreatif tentang Pasar dan Kota Denpasar
    Interaksi dan kolaborasi para seniman dan desainer di DenPasar 2017. DenPasar adalah program baru di CushCush Gallery (CCG) yang bertujuan mengangkat kota Denpasar dalam pemetaan pergerakan seni dan desain di Bali. Dibentuk berupa pameran bersama yang akan dilakukan setiap tahun, DenPasar diharapkan dapat mewakili aspirasi-aspirasi generasi kreatif di masa k […]
  • Tahap Awal Pengelolaan Sampah di Tulamben
    Oleh Nyoman Suastika Pada hari Minggu, 21 Mei 2017 Bank Sampah Bersehati Tulamben mulai dibuka untuk pendaftaran nasabah, jumlahnya 40 nasabah. Tahap baru pengelolaan sampah di Dusun Tulamben, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem dimulai. Untuk tahap awal, operasional menabung di bank sampah akan dibuka setiap bulan pada hari Minggu ke-4. Pembukaan bank […]
  • Online To Offline Store Berrybenka Pertama di Bali
    Saat ini, offline selling yang berubah menjadi online selling merupakan hal yang biasa dan cukup terbilang sukses. Namun lain halnya dengan Berrybenka. Setelah sukses dengan penjualan secara online kini Berrybenka mengembangkan gerai offline di beberapa daerah di Indonesia. Sudah hampir 2 tahun Berrybenka fokus membuka gerai offline untuk menunjukkan keseriu […]
  • Dukungan untuk Program Perlindungan Air Tanah di Bali
    The Body Shop® Indonesia bergabung dengan IDEP dalam program perlindungan air tanah di Bali. Kami sangat senang karena IDEP memiliki pendukung perintis baru untuk program Penyelamatan Air Tanah Bali (BWP): The Body Shop® Indonesia. Disamping donasi yang diberikan, Body Shop® akan berkolaborasi bersama dengan IDEP mengembangkan BWP secara jangka panjang untuk […]

Blog Stats

  • 122,758 hits
%d blogger menyukai ini: