kamarkecil

Green Groups Ingatkan Gubernur Baru soal Kerusakan Lingkungan

Posted on: September 4, 2008

Sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang tergabung dalam Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Eksekutif Daerah Bali mengingatkan Gubernur Bali terpilih, Made Mangku Pastika akan empat potensi kerusakan lingkungan besar di Bali. Hal ini disampaikan pada minggu pertama tugas Pastika sebagai gubernur melalui surat terbuka yang akan diberikan langsung.

Sebelumnya surat ini telah disebarkan ke publik melalui media dan mailing list. Empat masalah lingkungan besar tersebut adalah potensi kerusakan yang terjadi di hutan, pantai, dan danau.

Yaitu penguasahaan energi panas bumi atau geothermal di kawasan wisata Bedugul, Kabupaten Tabanan dan reklamasi muara sungai Yeh Poh di Kabupaten Badung. Selain itu alih fungsi lahan di Taman Wisata Alam (TWA) Hutan Dasong, Danau Buyan-Tamblingan, Kabupaten Buleleng dan pembangunan villa-villa mewah di areal Pantai Kelating, Kabupaten Tabanan.

Direktur Eksekutif Walhi Bali Agung Wardana mengatakan surat terbuka ini dibuat untuk mengumpulkan kasus-kasus lain perusakan lingkungan yang terjadi di Bali selain yang diadvokasi Walhi Bali. Selain itu memberi dukungan pada Pastika agar berbuat tegas pada perusak lingkungan Bali. Apalagi, dalam programnya, pemerintahan Bali yang baru ini berjanji akan menghentikan perusakan lingkungan di Bali atas nama pariwisata.

”Jangan sampai peningkatan pendapatan di bidang pariwisata ini berbasiskan pada penjualan murah dan habis sumber daya alam kepada investor yang ingin mengeksploitasi Bali secara berlebihan. Karena dalam pandangan kami, permasalahan lingkungan hidup di Bali sangatlah berhubungan dengan ekspansi industri pariwisata atas nama investasi,” paparnya.

Walhi Bali adalah organisasi lingkungan hidup terbesar di Bali dengan anggota 8 organisasi non-pemerintah dan puluhan individu. Anggotanya adalah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Bali, Yayasan Mitra Bali Fair Trade, Ashram Gandipuri, Yayasan LIMAS, Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Pembangunan Bali (LP3B) Buleleng, Pokja Bali Santi Tabanan, Yayasan Reksa Semesta dan puluhan anggota individu yang tersebar di seluruh Bali.

Dalam proyek geothermal di Bedugul itu Walhi berharap Pastika konsisten pada keputusan pemerintahan sebelumya yang menolak proyek ini.

Pada kasus reklamasi muara (loloan) Yeh Poh, masyarakat sekitar menolak pembangunan fasilitas pariwisata di areal muara sungai tersebut karena diyakini sebagai kawasan sakral dimana masyarakat biasa mengambil air suci untuk keperluan upacara adat. Selain itu, proyek tersebut dinilai berpotensi  menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan akan menutup akses masyarakat lokal untuk memanfaatkan pantai yang sebenarnya merupakan milik publik.

Pastika juga diminta menolak jika invenstor bersikeras meminta ijin pengelolaan kawasan TWA Hutan Dasong di Danau Buyan-Tambilangan. Investor telah memulai beberapa tahap pembangunan areal wisata karena telah mendapat ijin dari Bupati Buleleng dan Menteri Kehutanan. Gubernur Bali sebelumnya, Dewa Beratha belum berani mengeluarkan ijin karena penolakan sejumlah masyarakat.

Booming investasi pembangunan villa di Bali juga mendapat sorotan Walhi. Salah satu contohnya adalah proyek pembangunan villa mewah di Pantai Kelating, Tabanan. Agung memaparkan lebih dari 35 unit villa mewah mulai dibangun lengkap dengan kolam renang pribadi, memblok kawasan dan mencaplok sempadan pantai. ”Proyek ini diduga tidak memiliki ijin dan analisa dampak lingkungan (Amdal). Hal ini harus ditindak tegas,” tegas Agung Wardana.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Badung juga tengah merazia sejumlah villa liar yang tidak memiliki ijin. Kebanyakan villa dibuat di tepi pantai, lahan sawah produktif, dan kawasan hutan lindung.

Menurut data yang dirangkum Dinas Pariwisata Kabupaten Badung, hingga awal tahun lalu saja, jumlah vila di Badung sudah mencapai 711 unit. Baru 411 buah yang berijin. Kini semakin banyak vila didirikan di luar Badung seperti Tabanan yang memiliki sawah produktif terbesar di Bali. (telah dipublikasikan di The Jakarta Post, 2/9/2008)

Iklan

5 Tanggapan to "Green Groups Ingatkan Gubernur Baru soal Kerusakan Lingkungan"

eh emang JP nrima artikel bhs indonesia bu?!? *perasaan komen kok nanya mulu*

Wah bagus juga ide surat terbuka nya…
semoga bisa cepat di tanggapi sama bos…

salam

visit

didut: right. mestinya english man, but my english is so gud, karena itu ndak iso dimengerti my editor. huahaha…

dengan hati memendam kecewa, editor dengan sangat terpaksa memberikan aku nulis in bahasa. kamu juga bisa kirim artikel lepas kok. alamatkan ke editor wilayahmu.

ianbali: masih terkatung2 bli

[…] satu kresek berisi coklat *tengkyuh ya Mas* ama Noviar, disusul Anton sang Jendral bersama Mbok Lode dan Bani plus Novan, disusul Bang Yoskebe dan kemudian Bli Putu Adi sama istri. Wah lumayan rame […]

beneran udah masuk Jakarta Post???

lam kenal (udah kenal blum ya????)…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

RSS Bale Bengong

  • Dek Alon Kembali Terpilih Memimpin Muntig
    Setelah dinyatakan lulus, Dek Alon melenggang bebas. Dek Alin menjabat sebagai Kelihan Banjar Dinas Muntig yang kedua kalinya. Sebelumnya, dia bertarung secara bermartabat dengan pesaingnya yaitu Ni Luh Putu Suparwati, istri calon anggota DPRD Kabupaten Karangasem. Mereka bertarung untuk memperebutkan satu kursi kepemimpinan untuk memimpin Banjar Muntig, Des […]
  • Ngiring, antara Pemberontakan Kultural dan Pelarian
    Semoga maraknya orang beragama bukanlah pelarian belaka. Makin sering kita lihat orang Bali berpakaian putih-putih dengan senteng atau kain yang dililitkan di pinggang berwarna poleng (belang) putih-hitam. Ada juga yang berpakaian mencolok dan berbeda dengan penampilan masyarakat pada umumnya. Mereka dengan atribut seperti itu sering dikatakan sebagai orang […]
  • Kalau Bisa Ditunda, Kenapa Buru-Buru Menikah?
    MBA adalah istilah lumrah sekitar 2006 silam. Waktu itu usia saya menginjak 24 tahun. MBA alias married by accident adalah istilah yang lumrah menjadi alasan orang menikah muda. Ini sampai menjadi standar dalam memilih jodoh di antara kawan-kawan saya. Kalimat khas yang masih membekas hingga kini adalah “coba dulu, baru […] The post Kalau Bisa Ditunda, Kenap […]
  • Seminar Konten Digital untuk Generasi Kreatif
    Ada lomba penyiar radio dan seminar nasional September ini. Komunitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMIK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana akan menggelar rangkaian kegiatan Communication Events (COMMET) 2017. Kegiatannya lomba penyiar radio dan seminar memproduksi konten digital. Rangkaian COMMET 2017 akan diawali dengan lomba […]
  • Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari
    Bali pada pertengahan 1990-an sangat bergairah dengan kegiatan sastra dan teater. Penyair-penyair muda juga tumbuh semarak. Salah satu penyair muda yang sangat berbakat pada saat itu adalah Putu Vivi Lestari. Selain menulis puisi, dia juga aktif di Teater Angin SMA 1 Denpasar. Saat itu, bersama teman-temannya, dia rajin menghadiri acara-acara […] The post Wa […]

Blog Stats

  • 125,827 hits
%d blogger menyukai ini: