kamarkecil

Nikmat Ramadhan di Pegayaman

Posted on: September 16, 2008

“Nama saya Nengah Panji Islam,” ujar seorang laki-laki setengah baya yang sedang memakai sarung dan kopiah, seusai menjalankan sholat Ashar di Masjid Jamik Safinatusalam, Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Saya kembali bertanya pada sejumlah orang yang saya temui di sekitar desa ini. Ketut Maulana, Ketut Kholidah, Nengah Maghfiroh, dan nyaris semua warga melekatkan nama khas Bali itu di depan nama-nama lengkap mereka yang berbahasa Arab itu.

Beberapa kali, anak-anak perempuan tersenyum lebar dan menyorongkan tangannya untuk bersalaman dan mencium tangan orang dewasa yang menyapanya. Hampir semua perempuan remaja dan dewasa berjilbab. Demikian juga laki-laki yang kebanyakan berkopiah.

Jam menunjukkan pukul 16.30 Wita, beberapa pria masih duduk berbincang di Masjid Safinatusalam, di tengah perkampungan bersih dan tertata baik di Desa Pegayaman ini. Menjelang buka puasa, warga memilih berkumpul di Masjid atau Mushola yang jumlahnya sangat banyak untuk satu desa. Ada sekitar 30 mushola tersebar di tiap jalan-jalan kampung.

Ketika waktunya sholat, suara azan bersahut-sahutan dari masing-masing mushola. Tak heran, sholat lima waktu jarang ditinggalkan oleh penduduk desa.

Bulan Ramadhan bagi warga Pegayaman sangat istimewa. Hari-hari yang biasa menjadi luar biasa karena kehidupan jadi berbalik. Siang jadi malam, dan sebaliknya malam adalah pusat aktivitas untuk anak-anak, remaja, dan orang tua. Mereka suntuk dengan kegiatannya masing-masing.

Lonceng tanda berbuka berbunyi. Jalan-jalan desa mendadak sepi untuk merayakan kemenangan setelah berpuasa hari itu. Satu jam kemudian, dengan cepat kerumunan anak-anak keluar dari rumah masing-masing. Ratusan anak-anak memenuhi lorong-lorong jalan desa untuk berbagi rejeki di pasar senggol.

Pasar ini khusus anak-anak. Beberapa anak menggelar meja berisi makanan kecil dan buah-buahan. Harganya pun cocok untuk kantong anak. Jeruk dijual Rp 300 per buah, demikian pula salak, sawo, dan apel. Sate usus dijual Rp 200 per tusuk.

Ada juga yang menggelar lotere dengan hadiah. Putu Ayu Maziyya dan kedua adiknya Made Eva dan Nyoman Alvin, membuat rancangan lotere sendiri yang berhadiah beraneka makanan kecil dan grandprize uang Rp 1000 rupiah.

Sementara itu, remaja dan para orang tua menjalankan tarawih. Masjid, mushola, dan sejumlah rumah warga masih akan ramai sampai jelang waktu sahur dengan kegiatan tadarusan. “Setiap hari menyelesaikan 3 juz. Jadi dalam satu bulan sampai khatam tiga kali,” ujar I Nengah Panji Islam, Sekretaris Desa Pegayaman

Ketut Ashgar Ali, Kepala Desa Pegayaman mengatakan tradisi ini sudah turun temurun ada dan dilaksanakan warga desa. “Hampir semua warga punya nama khas Bali seperti Wayan atau Ketut. Ini bentuk rasa saling menghargai dan berbagi kami saja,” ujarnya.

Secara kasat mata, ribuan warga ini adalah muslim yang sangat taat beribadah pun kebiasaannya. Mereka lahir dan besar di Bali, karenanya dengan bangga melekatkan mana-nama khas masyarakat Bali seperti Wayan, Nengah, Nyoman, dan Ketut.

Empat dusun di Desa Pegayaman juga bernama identik dengan istilah Bali. Yakni Dusun atau Banjar Dauh Margi (barat jalan), Banjar Dangin Margi (timur jalan), Banjar Kubu Madya, dan Banjar Amertasari. Dua desa terakhir dihuni banyak umat Hindu.

Sejumlah tradisi Bali pun bersinergi dalam setiap kegiataan keagamaan seperti perayaan Mauludan dan Isra Miraj. Pada Mauludan, ada Sekaa (kelompok) Zikir yang melantunkan risalah kerasulan dengan cara makidung, yakni cara melantunkan doa-doa umat Hindu.

Setelah itu perayaan masih berlanjut dengan istilah kegiatan khas umat Hindu ketika perayaan hari besarnya, seperti Penapean (membuat tape), Penyajaan (membuat beraneka jajan), dan Penampahan (memotong hewan). Istilah saja yang sama dengan umat Hindu, tapi materi kegiatannya tetap berpegang pada ajaran agama Islam.

Bahkan dari berbagai aspek, penduduk Pegayaman adalah muslim yang sangat disiplin menjalani keyakinannya. Tak hanya ritual, pun dalam nilai hidup. Banyak remaja yang bersekolah di pesantren, kebanyakan di Jombang.

Sejarah Pegayaman
Salah seorang tetua desa, almarhum Ketut Raji Jayadi, mengibaratkan Pegayaman sebagai Kota Santri di Bali. Ketut Raji disebut sebagai Ketua pelajar Islam Indonesia pertama di Bali pada tahun 1962-1965.

Ketut Raji dalam catatannya menulis Desa Pegayaman berdiri pada 1639, ekses dari masuknya agama Islam ke Buleleng sekitar 1587. Islam makin meluas, salah satunya melalui perkawinan. Istilah Nyama Selam (saudara umat Islam) lalu disebutkan oleh seorang sastrawan dan pendiri Kabupaten Buleleng, Panji Tisna untuk warga Pegayaman. Hubungan umat Hindu dan Islam khususnya di Buleleng disebut berjalan sangat harmonis. Barangkali ini yang menyebabkan akulturasi dengan cepat terjadi, dinamis, dan damai.

Pada tahun 1958, seorang Gubernur Sunda kecil dari Aceh, TM Daudsyah berkunjung ke Pegayaman. Ia terkesima dengan kehidupan warga dan menyebut desa ini laiknya Serambi Mekkah di Bali.

Sekitar 100 kilometer dari Kota Denpasar, dikelilingi sejumlah bukit, sekira 5000 warga di Desa Pegayaman, adalah patung hidup akulturasi agama dan adat di Indonesia. Desa seluas 1.584 kilometer persegi ini adalah kebanggaan ketika ide keberagaman dan pluralisme kerap mendapat batu sandungan di Indonesia. (untuk Mediahalo)

Iklan

7 Tanggapan to "Nikmat Ramadhan di Pegayaman"

terima kasih sharing info/ilmunya…
selamat Berpuasa… semoga segala ibadah kita diterima oleh Allah SWT, amin…

mengapa kita masih didera malas beribadah, baik mahdhah maupun ghayru mahdhah…? untuk itu saya membuat tulisan tentang
“Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”

silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/

jaga kerukunan tanpa mengkonversi orang yg telah beragama

memang nikmat tenan. 🙂

Kecil berjalan manis, besar mbuat bom!! Bali target yang empuk kaum ini

udah ke pegayaman ya pak?
kenalkan saya roy, anak pegayaman asli.
lam kenal ya !
contact me at ; royteguhmusa@gmail.com

SAYA JUGA ASLI PEGAYAMAN

assalammualaiku,wr.wb. maju dan jayalah pegayaman dan terus tingkatkan ukuwah islamiyah. dan tetap pertahankan adat istiadat serta budaya desa santri di bali (pegayaman). wassalam . warga tabanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

RSS Bale Bengong

  • Transisi King Of Panda di “Desember”
    Transisi “Desember” King of Panda pada Desember ini. Transisi, itulah yang dialami King Of Panda band pop-punk asal Bali. Semenjak album Me Vs Space Army (2010) dirilis dan membuat King Of Panda menyabet penghargaan sebagai Band Pendatang Baru Terbaik (ICEMA Award 2010).  King Of Panda akhirnya memperkenalkan single baru yaitu Desember. King […] The post Tra […]
  • Leak Sanur dan Mike Marjinal Bersih Pantai
    Solidaritas komunitas di Bali dan Mike Marjinal dari bersih pantai dan konser himpun donasi kemanusiaan bagi pengungsi  erupsi Gunung Agung. Bertempat di Pantai Karang – Sanur,  Kamis sore, 14 Desember 2017 Komunitas Cank Nak Bali Nolak Reklamasi – Leak Sanur melakukan kegiatan beach cleanup, membersihkan pantai dari sampah-sampah terutama sampah […] The pos […]
  • Uniknya Pura di Nusa Penida Berbentuk Candi Jawa
    Arsitektur masa lalu merupakan hasil karya mutakhir pada masanya. Begitu pula dengan bangunan Pura Prajepati di Batununggul, Nusa Penida, Klungkung. Uniknya, pura ini tidak biasa pada umumnya lebih besar menjulang tinggi berbentuk candi ala Jawa. Pura itu terletak samping pojok utara Lapangan umum Sampalan, Desa Pakraman Dalem Setra Batununggul. Keunikan […] […]
  • Mt Agung awakening: an environmental stress relief
    The threat of a Mt Agung volcano eruption in Bali has made the headlines worldwide, creating a sense of fear leading to trip cancellations. Better say it first, it is relatively safe to visit Bali. If an eruption would happen, only a small part of the island would be impacted […] The post Mt Agung awakening: an environmental stress relief appeared first on B […]
  • Kampanye Anti Kekerasan Lewat Enam Belas Film Festival
    Film menjadi salah satu media kampanye antikekerasan. Enam Belas Film Festival Bali yang diselenggarakan YLBHI-LBH Bali bekerja sama dengan Enam Belas Film Festival telah diselenggarakan selama satu minggu di Denpasar dan Badung. Festival ini dibuka pada Sabtu, 2 Desember 2017 lalu oleh Direktur YLBHI-LBH Bali, Dewa Putu Adnyana, S.H., bertempat […] The post […]

Blog Stats

  • 128,237 hits
%d blogger menyukai ini: