kamarkecil

Bloggers Day Out on Kuta Karnival

Posted on: Oktober 18, 2008

Fieldtrip Bali Blogger Community untuk Kuta Karnival
Jejak Pluralisme dan Industri Kuta

Kuta masa kini yang nampak adalah hingar bingar cafe, pub, surfing, dan gemuruh malamnya. Sangat sulit mendapatkan tawaran berwisata sejarah Kuta dari agen travelling atau bahkan karib sendiri. Salah satunya, karena jejak-jejak masa lalu Kuta mulai terkikis dan sumber informasinya pun minim.

Kuta bisa lebih berbangga hati karena dibesarkan oleh nilai-nilai pluralisme dari keberagaman etnis penduduknya dan saling pengertian. Nah, inilah pentingnya “monumen” pluralisme dan saling pengertian itu menjadi atraksi wisata tersendiri.

Soal pluralisme, amat banyak dan beragam jejak hidupnya. Misalnya tempat ibadah tempo dulu, kampung-kampung bugis, madura, dan lainnya. Penduduk multi etnis inilah yang kemudian mewarnai perdagangan dan industri Kuta kini.

Vihara Dharmayana Kuta

Vihara ini, sebelum 23 Februari 1980 bernama Tempat Ibadah Leeng Gwan Kuta atau biasa disebut kongco bio Kuta.

Berdasarkan peninggalan dan cerita sesepuh diyakini telah berdiri di Desa Kuta sekitar dua abad lalu. Lokasi sebelumnya di pojok Jalan Raya Singosarai, yang karena sesuatu isyarat spiritual dipindahkan ke lokasinya kini di pojok Jalan Blambangan dan Jalan Padri Kuta.

Sejumlah jejak perihal berdirinya vihara ini adalah empat pasang tui lian atau syair berpasangan dalam bahasa mandarin yang dipersembahkan oleh keluarga pengabdi pada tiga lembar tui lian pada tahun 1876, 1879, dan 1880.

Vihara atau kongco bio didirikan komunitas Tionghoa Kuta dan sekitarnya sebagai tempat bersemayamnya Yang Mulia Kongco Tan HU Cin Jin, yang diyakini dapat memberikan kebahagiaan dan kesejahtreaan bagi keluarga pengabdinya.

Adaptasi komunitas kongco ini pada masyarakat Kuta nampak pada keterlibatan dalam berbagai ritual adat dan komunitas suka duka Banjar Dharma Semadhi Kuta. Vihara ini makin diakui eksisitensinya sebagai tempat ibadah Agama Budha di Bali setelah mendapat kunjungan berbagai bikhu dari mancanegara untuk bermalam dan kunjungan Yang Mulia Dalai Lama XIV pada 7 Agustus 1982.

Bahan yang menarik untuk ditanyakan adalah bagaimana pengaruh vihara atau komunitas Tionghoa dalam perkembangan Kuta? Bagaimana bentuk akulturasi budaya Tionghoa dengan budaya Bali?

Jejak Pelabuhan Dagang Kuta

Pantai Jerman di bagian selatan Kuta, di dekat Tuban, pada awalanya adalah pelabuhan Kuta di mana para pedagang dari luar Bali berlabuh. Nama Tuban di daerah ini berawal dari adanya saudagar dari kota Tuban di Jawa Timur yang berlabuh dan membangun komunitas di sini. Mereka menambatkan perahu di pelabuhan lalu berdagang di kawasan Kuta sekitar pantai yang paling terkenal saat ini.

Adapun nama pantai Jerman muncul karena dulunya daerah ini merupakan perumahan warga Jerman di Kuta.

Tapi kini pelabuhan dan perumahan itu sudah tidak ada bekasnya sama sekali. Masih ada pura di mana mereka yang baru datang saat itu bersembahyang ketika baru sampai. Sedangkan bekas pelabuhan dan perumahan sudah habis dikikis air laut.

Sejarah soal pelabuhan ini bisa dibaca dari laporan Pierre Dubois, Wakil Pemerintahan Hindia Belanda yang tinggal di Kuta pada April 1827. Dalam laporannya itu, ia memberikan gambaran mengenai perkembangan politik di Bali dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Kuta.

Pierre Dubois dalam kedudukannya sebagai civiel gezaghebber Pemerintah Belanda, diizinkan untuk tinggal di Kuta yang merupakan pelabuhan yang terpenting di Bali Selatan waktu itu. Kuta (dahulu disebut Coutaen) merupakan pelabuhan tempat penyaluran pemasukan barang impor dan pengeluaran barang ekspor hasil bumi daerah Bali Selatan.

Daerah Kuta termasuk jurisdiksi kekuasaan kerajaan Kesiman. Dalam menjalankan tugasnya di Badung, Dubois mendapat bantuan dari Raja Kesiman. Dubois menceritakan bahwa pelabuhan Kuta di bagian pantai barat dan pantai timurnya dihuni oleh penduduk campuran yang terdiri dari orang-orang Bali yang kebanyakan nelayan dan para pedagang Cina dan Bugis.

Dalam laporannya, Dubois menceritakan bahwa pada saat itu Kuta dihuni kurang lebih 400 keluarga Bali dan 40 keluarga Cina dan Bugis. Diantara keluarga Bali yang bermukim di Kuta, banyak diantaranya adalah pelarian dari kerajaan lain karena tersangkut suatu perkara. Dengan bermukim di Kuta, berusaha agar terhindar dari hukuman yang dikenakan terhadap mereka. Oleh karena penduduknya terdiri campuran banyak suku, maka di Kuta sering terjadi tindak kejahatan seperti pencurian, perampokan dan pembunuhan.

Situasi Kuta lainnya juga diceritakan seorang pedagang Banyuwangi yang bernama Pak Jembrong. Pada tanggal 20 Mei 1835, ia berangkat dari Banyuwangi menuju Pulau Bali dan kemudian menuju Lombok. Ia tiba di pantai Barat Kuta pada tanggal 18 Agustus 1835.

Menurut laporan Pak Jembrong, Kuta pada waktu itu merupakan suatu pelabuhan yang ramai dan nampaknya menjadi pusat perdagangan Bali dengan Singapura. Pada saat tiba di sana dilihatnya ada sekitar 40 perahu berlabuh, di antaranya 16 perahu baru tiba dari Singapura.

Perahu-perahu tersebut membawa barang dagangan dari Singapura yang terdiri dari candu, barang-barang besi, kain, gambir, senjata api, mesiu, uang logam buatan Cina dan barang lainnya buatan Inggris. (sumber: harian baliaga).

Pada Abad 19, Mads Lange seorang pedagang asal Denmark juga menetap dan mendirikan markas dagang di Kuta. Melalui kemampuannya bernegoisasi, ia menjadi salah satu perantara perdagangan yang disegani.

Kini, Mads Lange adalah salah satu ikon tokoh Kuta yang jenasahnya dimakamkan di dalam area pemukiman penduduk

Iklan

1 Response to "Bloggers Day Out on Kuta Karnival"

Tulisannya mengalir banget..
Jadi enak bacanya..
Saya setuju banget dengan 3 paragraph pertama tulisan ini. Ngrasain bener susahnya..
😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RSS Bale Bengong

  • Transisi King Of Panda di “Desember”
    Transisi “Desember” King of Panda pada Desember ini. Transisi, itulah yang dialami King Of Panda band pop-punk asal Bali. Semenjak album Me Vs Space Army (2010) dirilis dan membuat King Of Panda menyabet penghargaan sebagai Band Pendatang Baru Terbaik (ICEMA Award 2010).  King Of Panda akhirnya memperkenalkan single baru yaitu Desember. King […] The post Tra […]
  • Leak Sanur dan Mike Marjinal Bersih Pantai
    Solidaritas komunitas di Bali dan Mike Marjinal dari bersih pantai dan konser himpun donasi kemanusiaan bagi pengungsi  erupsi Gunung Agung. Bertempat di Pantai Karang – Sanur,  Kamis sore, 14 Desember 2017 Komunitas Cank Nak Bali Nolak Reklamasi – Leak Sanur melakukan kegiatan beach cleanup, membersihkan pantai dari sampah-sampah terutama sampah […] The pos […]
  • Uniknya Pura di Nusa Penida Berbentuk Candi Jawa
    Arsitektur masa lalu merupakan hasil karya mutakhir pada masanya. Begitu pula dengan bangunan Pura Prajepati di Batununggul, Nusa Penida, Klungkung. Uniknya, pura ini tidak biasa pada umumnya lebih besar menjulang tinggi berbentuk candi ala Jawa. Pura itu terletak samping pojok utara Lapangan umum Sampalan, Desa Pakraman Dalem Setra Batununggul. Keunikan […] […]
  • Mt Agung awakening: an environmental stress relief
    The threat of a Mt Agung volcano eruption in Bali has made the headlines worldwide, creating a sense of fear leading to trip cancellations. Better say it first, it is relatively safe to visit Bali. If an eruption would happen, only a small part of the island would be impacted […] The post Mt Agung awakening: an environmental stress relief appeared first on B […]
  • Kampanye Anti Kekerasan Lewat Enam Belas Film Festival
    Film menjadi salah satu media kampanye antikekerasan. Enam Belas Film Festival Bali yang diselenggarakan YLBHI-LBH Bali bekerja sama dengan Enam Belas Film Festival telah diselenggarakan selama satu minggu di Denpasar dan Badung. Festival ini dibuka pada Sabtu, 2 Desember 2017 lalu oleh Direktur YLBHI-LBH Bali, Dewa Putu Adnyana, S.H., bertempat […] The post […]

Blog Stats

  • 128,237 hits
%d blogger menyukai ini: