kamarkecil

Craziest Jakarte

Posted on: Desember 20, 2008

Entah kenapa, saya gak pernah menikmati jakarta. Pertama karena macet tentu saja. Ketika baru beranjak dari bandara Solekarno Hatta, hati ini pasti langsung dagdigdug dan lalu berharap-harap. Please dong, kasi saya anugerah terindah di Jakarta yaitu jalanan lancar. Bolehlah macet bentar tapi cuman 10 menit, ga boleh lebih.

Pertanyaan kunci ke abang supir taxi, selalu sama. “Bang, berapa lama nyampe di hotel anu? Macet gak ya?” Jawabannya ya slalu sama, walau saya sudah bisa menebak.

Alasan kedua kenapa merasa ga pernah comfort di jakarte adalah karena beberapa kali terkurung kemacetan saya slalu sendiri. Tak ada teman, apalagi ayah di sampingku. Akhh..

Keluar dari tempat pertemuan, adalah musibah. Dada sesak karena terkurung taxi AC. Saya ndak bisa menikmati AC mobil, bawaannya pengen muntah, apalagi kalo ada pewangi.

Contohnya, ketika Kamis kemaren habis meeting singkat di Red Top, pengen ke Mangga Dua. Kebelet pengen beli koper murah. Itu aja. Koper-koper di Dps yang pernah saya liat, harganya di atas 300rebu smua.

Udah 5 temen yang saya tanya pertanyaan sama, “berapa lama ke Mangga Dua, macet gak?” Saya terintimidasi skali ma lalu lintas jakarte.

Setelah mastiin perjalanan ga akan lebih 30 jam, saya lets go. Baru keluar hotel, eh, udah tertahan di perempatan. Lampu lalin mati, dan kebayang dong, seradak seruduk aja smua kendaraan.

Dari Red Top, Mangga Dua itu sebenarnya sama dengan jarak Lapangan Renon-Ramayana di Denpasar. Kok bisa jadi 30 menit ya?? Kata mas taxi, ini sih udah lumayan. Eh, pulangnya malah lebih ancur, 1 jam! Jrit..

Karena itu, soal jarak dan waktu jalan raya itu beda pemahamannya ma orang Jkt. Dulu, pas kerja di detik.com, pernah ditanyain gini ma redaktur. “Luhde, kamu bisa liput kejadian X di denpasar skarang ga? Berapa lama sih Nusa Dua-Dps? Oh, 45 menit ya. Berarti deket dong. Bisa liput ke denpasar skarang kan?”

Saat itu aku lagi liputan meeting IMF di Westin Nusa Dua dan cuma bisa geleng-geleng. “Mas, jaraknya 40 kilo lho.”

Pelajarannya, jangan nyebut ukuran waktu kalau ditanya jarak ma orang Jkt. Bilang dalam kilometer aja. Wong 4 kilometer di jkt, sama dengan 40 kilo di dps.

Untuk skarang sih segitu ya perumpamaannya. Gak tahu ntar, 5 tahun lagi, denpasar mungkin nyaris sama macetnya ma jkt.

Fakta-faktanya sih sudah mendukung. Tiap ada motor baru, cepet banget lalu lalangnya di jalanan denpasar. Angkot-angkot sekarat, setahun lagi dah bablas deh. Gak ada regulasi antisipasi kepadatan jalan di masa depan, sementara pajak sektor kendaraan digenjot untuk peningkatan APBD.

Iklan

2 Tanggapan to "Craziest Jakarte"

Sabarlah neng.. namanay juga kota besar yang masih semrawut kebijakan transportasi umumnya (yang masih belum berppihakpada masyarakat umum).

Serupa dengan Monrovia, ibukota negeri si bau kelek ini, makin mampus aja macetnya, belum lagi disiplin berkendara kampret sontoloyo disini yang makin parah.

Coba aja menikmati kemacetan dengan mengamati mereka lainya, semoga perjalanan ke Jakarta selanjutnya berkesan positif. Hugs from West Africa.

sabar juga ya akang, menunggu perjumpaan dengan bunda dan bocahnya di kampung halaman ntar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

RSS Bale Bengong

  • 10 Scene Terbaik Nokas di Balinale 2017
    Akhir September kemarin, sebuah festival film tahunan kembali digelar di Bali. Tahun ini Balinale International Film Festival ke-11 mempersembahkan 108 Film dari 42 Negara. Ada 29 Film Asia, baik fiksi maupun juga dokumenter diputar selama festival di Cinemaxx Theatre, Lippo Mall, Kuta itu. Salah satu dokumenter Asia yang masuk dalam […] The post 10 Scene Te […]
  • AWAL: Nasib Manusia, yang Absen dari Kepulangan Sang Eksil
    Balinale kesebelas memutar beragam film mancanegara dengan genre cukup variatif. Film-film Indonesia yang dihadirkan mengangkat tema seputar orang-orang terpinggirkan dan kisah-kisah yang tidak banyak dibicarakan. Mulai dari Ziarah (BW Purba Negara, 2016), Nokas (Manuel Alberto Maia, 2016), hingga Awal : Nasib Manusia (Gilang Bayu Santoso, 2017). Pada 30 Sep […]
  • Hush: Perempuan dan Seks dalam Kegelisahan yang Sama
    “721000 sexual crimes were committed against women last year alone. Sexual violation can happen to anyone, anywhere...” Kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak menjadi lead HUSH, film karya kolaborasi Djenar Maesa Ayu dengan Kan Lume, sutradara asal Singapura. Isu yang cukup relevan hingga hari ini. Apalagi melihat maraknya kasus […] The post Hush: P […]
  • Saat Bunga Bermekaran di Jalan Pulau Bali
    Ada pemandangan lain pada Juli-Oktober di Pulau Bali. Terlihat warna-warni bunga bermekaran di sepanjang jalan protokol seperti berasa di taman. Warna merah, ungu, dan kuning menyejukkan mata walau berada di tengah kemacetan sekalipun. Semua ini tak lepas dari usaha Pemerintah Provinsi Bali menjadikan pulau ini clean and green, bersih dan […] The post Saat B […]
  • Minikino Dekatkan Film Pendek dengan Anak-anak
    Kebanyakan anak SD mungkin tak pernah membayangkan untuk membuat sebuah film. Mungkin mereka hanya menonton di televisi, atau sebagian lain punya kesempatan lebih untuk menonton film di bioskop. Namun, membuat sebuah film apalagi dari awal menyusun ide film hingga praktik merekam gambar sepertinya jarang. Atau bahkan belum pernah sekalipun mereka […] The pos […]

Blog Stats

  • 126,493 hits
%d blogger menyukai ini: