kamarkecil

Belajar dari (alm) Tangkas dan Oktaf tentang Rabies

Posted on: Januari 14, 2009

Ketut Orta, 48, bapak Ketut Tangkas Adi Wirawan (4) yang diberitakan meninggal karena dugaan rabies di The Jakarta Post kemarin hanya bisa pasrah dengan kematian anaknya.

Hingga kini ia tak tahu penyebab kenapa anaknya tiba-tiba meninggal. Dinas Kesehatan Kabupaten Badung menyatakan tidak ada konfirmasi penyebab kematian Tangkas karena tidak ada observasi khusus untuk melihat gejala rabies.

“Anak itu baru diketahui punya sejarah gigitan anjing enam bulan lalu. Sebelumnya dokter di RS Sanglah memeriksa atas dasar keluhan sakit panas. Kita tidak bisa mengkonfirmasi karena tidak melakukan observasi,” ujar Kadis Kesehatan Badung dokter AA Gede Agung Mayun Darma Atmaja.

Orta menceritakan Tangkas meninggal 30 Desember lalu di rumahnya ketika tiba-tiba kejang dan akan dibawa ke rumah sakit.

Anak 4 tahun ini tidak punya riwayat sakit tertentu sebelumnya. “Enam bulan lalu anak saya digigit anjing peliharaan sendiri. Setelah dijahit sehat, tidak ada masalah,” ujar Orta yang peternak sapi ini.

Ia mengatakan tidak tahu sama sekali gejala rabies. Gejala-gejala yang bisa diingat Orta pada anaknya sebelum meninggal adalah sering kedinginan, takut angin, kadang-kadang menghindar ketika diberi makan. “Anak saya tidak bisa makan dan minum, tenggorokannya seperti tersekat,” katanya.

Orta sangat sulit menjelaskan perilaku Tangkas sebelum ia menghadap Tuhan. “Saya menyesal, tidak bisa memaksanya untuk bisa makan,” ujarnya lirih.

Dokter Ken Wirasandhi, Kepala Seksi Pelayanan Rawat Jalan RS Sanglah mengatakan tidak bisa mengkonfirmasi kondisi Tangkas karena diperiksa hanya dengan keluhan demam. “Kami tidak tahu ada sejarah gigitan anjing sebelumnya,” katanya.

Kisah Tangkas sangat mirip dengan yang terjadi pada Muhamad Oktaf Rahmana, bocah 4 tahun yang meninggal akhir November lalu setelah digigit anjing sebelumnya. Oktaf tinggal di kawasan paling rawan yakni Ungasan, Kuta Selatan, dimana banyak kasus kematian karena gigitan ditemukan.

Oktaf meninggal sebulan setelah digigit anjing pada wajahnya. “Setelah dijarit, ia sehat dan bisa bermain seperti biasa. Sebulan kemudian menampakkan gejala aneh seperti ketakutan dan kadang-kadang mengigigil,” cerita Alfisanah, ibunya.

Berawal ketika usai syukuran di rumahnya. Sampah bekas makanan menumpuk depan rumah dan mengundang seekor anjing liar yang berjalan tertatih-tatih. Ayah Oktaf segera mengusirnya. Anehnya, si anjing tak takut sama sekali, malah seolah menantang. Sialnya, Oktaf kecil tengah bermain di depan rumah, dan anjing yang nampak linglung itu menggigit bagian wajahnya.

Sebulan berlalu, Oktaf yang terlihat sehat walafiat tiba-tiba menunjukkan perilaku berbeda. Ia menjadi pendiam, dan kadang merenung sendiri.  Kadang ketakutan jika sendirian. “Setelah Sholat Dhuhur, saya merangkulnya karena dia seperti habis mimpi buruk,” kata bundanya.

Siang hari, ketika bermain di luar, Oktaf tak berani menatap matahari. Saat naik motor, ia menggigil kedinginan. Orang tuanya mengira ia kena “sesuatu”, dan mengajak untuk rukyah ke orang pintar.

Berikutnya, Oktaf tak bisa makan dan minum.  Seperti tersekat tenggorokannya, padahal ia seperti pengen sekali mencoba es krim yang dibelikan. Ketika mandi, Oktaf meringkuk ketakutan. Ia tiba-tiba takut air. Bahkan takut ketika bundanya bernafas di dekatnya. “Ibu, jangan ditiup,” elaknya. Oktaf juga senang mempermainkan lidah, seperti orang nginang.

Sampai akhirnya Oktaf koma dan meninggal dalam perjalanan ke RS Kasih Ibu Jimbaran.

Alfisanah sangat menyesal tidak mengatahui soal rabies dan bagaimana pencegahannya. Ia mengaku sempat minta vaksin anti rabies di rumah sakit yang menjahit luka Oktaf namun tidak diberikan karena Bali dinyatakan bebas sejarah rabies waktu itu.

“Pemerintah harusnya bisa lebih transparan dan memberikan penyuluhan secara terbuka. Harus ada selebaran soal rabies ke rumah-rumah penduduk khususnya di Ungasan ini. Padahal katanya sabun saja bisa jadi obat pertama kalu digigit,” sesalnya.

Gejala rabies pada Oktaf diberitahu dokter di RS kasih Ibu Jimbaran sesaat setelah Oktaf meninggal. Sementara anjing yang mengigit tak bisa dites otaknya karena dibunuh sesaat setelah mengigit Oktaf.

Sejak November 2008 pemerintah mencatat ada empat orang yang meninggal akibat gigitan anjing. Semuanya tinggal di Ungasan dan Kedonganan, Kuta Selatan. Hanya satu orang, Made Wirata yang dinyatakan mempunyai gejala spesifik rabies karena sempat diobservasi sebelum meninggal.

Puskesmas Pembantu Ungasan hingga kemarin masih kedatangan sejumlah orang yang digigit anjing. Setiap hari, rata-rata tiga orang yang meminta vaksin anti rabies.

“Anjing liar masih cukup banyak di jalanan. Saya takut juga,” ujar Suwerta yang mengantar anaknya, Agus (11) tahun untuk divaksin. Tiap orang yang pernah digigit anjing mendapat empat kali suntikan anti rabies dalam waktu berbeda.

7 Tanggapan to "Belajar dari (alm) Tangkas dan Oktaf tentang Rabies"

Teyata anjing juga berbaya juga ya,bisa menyebabkan Rabies..

wah, ini lomba blog apa pak? ga bisa dibuka url-nya

maka dari itu, islam melarang anjing dipelihara. kalo dibilangin masih ngeyel sih.

Wah serem juga yah – mesti diberlakukan pendataan pemilik anjing2 itu dan penertiban anjing liar yang tidak bertuan agar wabah rabies bisa terkendali..

sedih yaa….. aku juga kadang takut loh deket-deket anjing gara-gara berita ini…

ahead: me too…

kalo dah divaksin sih kayaknya fine-fine aja,ya mbok lode?
Ming sih gak parno,karena kebetulan guguk di rumah lucunya bukan maen.. Jadi kayaknya gak mungkin kena rabies,hehehe… (narsis banget..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

RSS Bale Bengong

  • Peluncuran Album Relung Kaca Berlangsung Meriah
    Sasana Budaya Buleleng terlihat pecah. Tadi malam ratusan krama di Kota Singaraja, Buleleng memadati wantilan tersebut. Peluncuran album bertajuk Pang Ping Pung dari band folk Relung Kaca mampu menarik animo masyarakat untuk hadir. Warga, musisi, dan aktivis menyanyi bersama mereka. Pada sore hari sebelum acara peluncuran album, mereka mengikuti kegiatan ber […]
  • Kelas Spesial Merayakan Lima Tahun Akber Bali
    Mari merayakan menjadi relawan dalam Kelas 55. Desember 2011, Akademi Berbagi (Akber) Bali lahir dan hadir di tengah kita semua. Desember 2016, Akademi Berbagi Bali masih tetap hadir hingga kelas ke-53. Mari merayakan lima tahun Akber Bali bersama pendiri dan kepala sekolahnya. Januari 2017, kami memilih bulan pertama di tahun baru untuk merayakannya bersama […]
  • Langgam Keroncong Bentara: Orkes Soneta Bali
    Agenda Langgam Keconcong Bentara kembali datang. Grup yang akan tampil adalah Orkes Keroncong Soneta Bali, sebuah grup keroncong yang juga aktif dalam Komunitas Pecinta Keroncong (KPK) Bali. Pertunjukan akan berlangsung Kamis besok di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar. Paguyuban Keroncong yang dipimpin Supardi Hadiwiyono ini rutin berlatih dan mengisi ac […]
  • Bagi Relung Kaca, Lirik Lagu adalah Senjata
    Kreativitas seni anak muda Bali semakin menggeliat. Kali ini datang dari utara Bali tepatnya Singaraja. Tiga anak muda yang tergabung dalam band Relung Kaca akan meluncurkan album perdana bertajuk Pang Ping Pung. Album yang berisi peringatan tentang lingkungan di Bali. Band Relung Kaca terdiri dari Aristiana Jack pada vokal dan gitar, Konot pada vocal dan gi […]
  • Band ultrAwide Luncurkan Single Pertama di Bali
    Band pendatang baru dari Jakarta melepas single pertama mereka. Bertajuk Through The Rain, setelah sebelumnya dirilis pertama di Jakarta, pada Jumat (13/1) malam, lagu ini pun ditampilkan di Old’s Man, Canggu, Kuta Utara, Bali. Dari Bali, selanjutnya mereka akan tampil di kota-kota lain. Ya, untuk kali kedua peluncuran single pertama mereka, trio dengan genr […]

Blog Stats

  • 119,027 hits
%d blogger menyukai ini: