kamarkecil

Tum Nyawan Aman Bagi Perut Bule?

Posted on: Februari 3, 2009

Seorang turis, Matt dan istrinya dari Swedia, pekan lalu datang ke Pusat Informasi Turis di Dinas Pariwisata Denpasar, Jalan Surapati.

Ia membawa peta wisata kota Denpasar dan meminta petunjuk dari petugas di sana, dimana saja bisa mendapatkan makanan tradisional Bali. “Yang membuat saya tidak sakit perut, ya,” Matt dan istrinya nyengir. Mereka berpikir lebih mudah mendapatkan banyak varian makanan tradisional di Denpasar.

Saya lihat petugas menunjukkan Pasar Badung, yang memang dekat dengan lokasi Matt saat ini. Namun, agaknya Matt dan istrinya masih kebingungan.

“Saya baru saja dari pasar itu dan tidak melihat ada food stall makanan tradisional,” serunya. Saya pikir, wah pasti dua bule ini tidak sampai ke lantai III Pasar Badung yang menjadi food center.

Maklum, dia mengaku tidak suka dikuntit oleh “carry”, sebutan bagi guide dadakan di pasar Badung. Matt cs juga mungkin tidak tahu apa yang disebut makanan tradisional.

Di Pasar Badung, misalnya, yang paling banyak dijual di emperan adalah pesan (pepes), tum, lindung goreng, plecing, dan lainnya. Melihat penampilan makanan ini, Matt juga tak yakin apakah aman dimakan.

Saya tersenyum dalam hati. Lagi, istrinya si Matt mendesak untuk ditunjukkan kompleks makanan tradisional di seputar Gajah Mada, Puputan Badung, dan sekitarnya. Saya memberikan ancer-ancer sejumlah warung, namun karena jaraknya terpisah-pisah dan agak jauh mereka agaknya kurang tertarik.

Terakhir, saya tetap anjurkan dia ke Pasar Badung dan meyakinkan bahwa sejumlah makanan yang dijual disana selama ini aman dimakan. Entahlah, agaknya si Matt dan istrinya ini hanya butuh informasi resmi (harus dicantumkan juga di brosur) jenis makanan yang cukup aman bagi usus bule.

Pemerintah Kota Denpasar memang beberapa kali ingin mengenalkan Denpasar sebagai wisata kuliner. Masalahnya, festival makanan ini pun hanya seremonial disisipkan di sejumlah event seperti Gajah Mada Festival sebulan lalu.

Sebelumnya, ketika peluncuran brand Sightseeing Denpasar, dilaksanakan juga festival makanan tradisional di depan Inna Bali Hotel. Ini pun hanya sesaat.

“Kami kebingungan mencari lahan untuk kawasan makanan tradisional ini,”ujar I Putu Budiasa, Kepala Dinas Pariwisata Denpasar. Ia mengatakan ide traditional food corner ini dicoba di lobi Inna Bali Hotel itu, sekalian satu paket dengan obyek wisata heritage.

Inna Bali memang hotel tertua di Bali, dan yang saya sukai ketika kesana atau lewat adalah memandang dua buah dokar mini yang dipajang di lobi (sekarang disulap jadi counter makanan ala Tiara). Saya pikir, taksu hotel Bali agak memudar karena bagian wajahnya telah dijadikan warung makan yang kurang artistik atau pas dengan citra heritage hotel ini.

Lalu kenapa di Jogja, kita bisa leluasa memilih jalur-jalur lokasi makanan disana? Kalau gudeg di jalan A, bakpia di jalan B, dan seterusnya. Apakah sebelumnya pemerintah memang mengatur atau terbentuk dengan alamiah?

Iklan

10 Tanggapan to "Tum Nyawan Aman Bagi Perut Bule?"

Nah itu deh ya masalahnya…? pejabat2 kita banyak yang study tour jauh2 ke LN tapi balik2 kesini, gak terlalu mengesankan. okelah ada festival/pameran/sightseeing Denpasar kemaren tuh yang emang cukup membuat gebrakan dan menambah 1 nilai plus Pemkot kita, tapi itu rupanya belum cukup menjadi magnet wisatawan mancanegara.
I don’t know, what’s wrong???

Hey Hey Hey…. si oming selalu ngata-ngatain pejabat kalo lagi dibelakang saja. Coba kalo udah sua saya…. hmm… hmm…. hmm……. He…
Tentang stand makanan tradisonal yang ada di brosur yah ?
ide yang bagus….. tapi kalo seumpama saya yang dapet job ini, bisa dipastikan topik paling utama yang ingin saja sajikan pasti ‘Rujak Kuah Pindang’. Hmmm…. Yummy…. 🙂

oming: kalo ketemu bli pande, persenjatai diri dengan gadget terbaru. Dipastikan bli pande langsung luluh…
bli pande: kalo ketemu oming, bawa duit Rp 10k for the souvenir.

keknya kl di jogja memang sdh alamiah dan lagipula penjualnya jarang yg pindah pindah kalau yg sdh legendaris.

eh iya bikin nuku panduan kuliner untuk bali tuh …dijogja sudah banyak kelihatannya 😛

ayo bikin… bantuin yah… baru mau bikin balifoodmap.com ….. buat yang mau kasi artikel soal makanan bali, kirim ke email aja dewi_pinatih@yahoo.com …. tar di link ke blog masing2 dah 😀

*numpang info nya ya mbok 😀

ide yang baik tuh. cepet dieksekusi. ntar silakan link di balebengong.net aja. tiap kali ada menu baru yang unik pastinya diposting di sana

Loh, Dewi, domainnya udah lepas ya? Sayang… padahal saya bikin juga peta serupa di Google Maps disini: http://bit.ly/balifoodmap

Barangkali ada yang tertarik mau nyumbang informasi? Yang tercantum disana baru hasil hunting 1 tahunan, pastinya banyak sekali yang belum terliput.

apa yg anda kerjalan keren sekali. ayo rebut ruang publik untuk makanan tradisional. btw, kamr kecil baru saya di http://luhde.nawalapatra.com

semoga buku panduan wisata setiap daerah bisa di download gratis di internet

Untuk mengangkat kuliner Denpasar/Bali sebagai menu wisata, harus ada roadmap yang jelas; kalau ini sudah ada dan valid, kan tinggal diwujudkan tahap demi tahapnya…

Mungkin Denpasar perlu mencontoh Singapura dalam hal ini; ciptakan traditional food courts, kalau perlu bersubsidi dan seleksi ketat siapa yang boleh masuk jadi kualitasnya terjaga.

Subsidi perlu sehingga harga tidak mencekik untuk warga lokal maupun wisman; soalnya sia-sia buat food centre tapi yang mampu hadir cuma wisman. Coba ciptakan pengalaman makan yang otentik Bali, dengan harga terjangkau… pemerintah tinggal sediakan tempat dan atur regulasi, food bloggers siap bantu menyemarakkan 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

RSS Bale Bengong

  • 10 Scene Terbaik Nokas di Balinale 2017
    Akhir September kemarin, sebuah festival film tahunan kembali digelar di Bali. Tahun ini Balinale International Film Festival ke-11 mempersembahkan 108 Film dari 42 Negara. Ada 29 Film Asia, baik fiksi maupun juga dokumenter diputar selama festival di Cinemaxx Theatre, Lippo Mall, Kuta itu. Salah satu dokumenter Asia yang masuk dalam […] The post 10 Scene Te […]
  • AWAL: Nasib Manusia, yang Absen dari Kepulangan Sang Eksil
    Balinale kesebelas memutar beragam film mancanegara dengan genre cukup variatif. Film-film Indonesia yang dihadirkan mengangkat tema seputar orang-orang terpinggirkan dan kisah-kisah yang tidak banyak dibicarakan. Mulai dari Ziarah (BW Purba Negara, 2016), Nokas (Manuel Alberto Maia, 2016), hingga Awal : Nasib Manusia (Gilang Bayu Santoso, 2017). Pada 30 Sep […]
  • Hush: Perempuan dan Seks dalam Kegelisahan yang Sama
    “721000 sexual crimes were committed against women last year alone. Sexual violation can happen to anyone, anywhere...” Kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak menjadi lead HUSH, film karya kolaborasi Djenar Maesa Ayu dengan Kan Lume, sutradara asal Singapura. Isu yang cukup relevan hingga hari ini. Apalagi melihat maraknya kasus […] The post Hush: P […]
  • Saat Bunga Bermekaran di Jalan Pulau Bali
    Ada pemandangan lain pada Juli-Oktober di Pulau Bali. Terlihat warna-warni bunga bermekaran di sepanjang jalan protokol seperti berasa di taman. Warna merah, ungu, dan kuning menyejukkan mata walau berada di tengah kemacetan sekalipun. Semua ini tak lepas dari usaha Pemerintah Provinsi Bali menjadikan pulau ini clean and green, bersih dan […] The post Saat B […]
  • Minikino Dekatkan Film Pendek dengan Anak-anak
    Kebanyakan anak SD mungkin tak pernah membayangkan untuk membuat sebuah film. Mungkin mereka hanya menonton di televisi, atau sebagian lain punya kesempatan lebih untuk menonton film di bioskop. Namun, membuat sebuah film apalagi dari awal menyusun ide film hingga praktik merekam gambar sepertinya jarang. Atau bahkan belum pernah sekalipun mereka […] The pos […]

Blog Stats

  • 126,493 hits
%d blogger menyukai ini: