kamarkecil

Ibu Ayu, I Cant do What u Did

Posted on: Desember 16, 2009

Jumaendah, demikian nama gadis Ibu Ayu, 50 tahun. Sejak 2005, Ayu telah menemani  sedikitnya 100 pasien miskin dari berbagai wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat yang mencari pengobatan ke Bali. Pada Selasa (15/12), Ayu menemani Riyan Saputra, remaja 15 tahun dari Selong, Lombok Timur.

Riyan saat ini membutuhkan bantuan karena mengidap tumor kelenjar getah bening di lehernya. Riyan terlihat lemah dengan benjolan besar di leher kirinya. Besarnya hampir menyamai ukuran kepala remaja kelas III SMP ini. Ia dirawat di kamar kelas III RS Sanglah Denpasar setelah Rumah Sakit Mataram menyerah dan merujuknya ke Denpasar.

Sri Hartini, Ibu Riyan minta bantuan Dinas Sosial di Lombok untuk mendampingi ke Denpasar, namun gagal. “Dinas sosial bilang tak bisa bantu karena biayanya besar,” keluh Sri.

RS Mataram, menurut Sri tidak memiliki alat kemoterapi. Karena itu dirujuk ke Denpasar. Ia terlihat masih kebingungan membaca rekam medis Riyan dan jenis obat-obatan yang tertulis di sejumlah dokumen yang dipegangnya.

Dari informasi mulut ke mulut, ia mengetahui ada Ibu Ayu, perempuan dermawan yang kerap membantu pasien-pasien miskin yang dirujuk ke Denpasar. Ayu menyanggupi permintaan Sri.

“Sayang sekali, Riyan sudah divonis tumor stadium III dan penyakitnya sudah sangat parah. Saya terlambat mengetahuinya,” ujar Ayu. Namun, Ayu masih bersemangat dengan mengurus administrasi surat miskin untuk Riyan dan mencarikan tempat kos di Denpasar. “Riyan akan menjalani kemoterapi dan akan sangat mahal kalau bolak balik Denpasar-Lombok,” katanya.

Benjolan tumor di leher kanan Riyan memang sudah terlihat delapan bulan lalu. Benjolan itu diobati selama 1,5 bulan di Lombok dan sempat hilang. Tiba-tiba tiga benjolan sekaligus malah muncul di leher sebelah kiri. Kini sudah sangat besar karena didiamkan dengan alasan takut ke Bali sendiri.

Ayu mengakui sebagian besar pasien yang didampinginya adalah pasien dengan tumor atau kanker yang tak bisa diobati di Lombok. Pasien pertama yang dibantunya adalah anak kecil berusia 8 bulan dengan tumor di kepala.

Ayu menyimpan sejumlah nomor telepon wartawan media lokal di Bali untuk menggalang bantuan bagi pasien yang didampinginya di RS Sanglah. “Saya tidak punya banyak uang dan butuh donasi sukarela,” katanya.

Ikhwal kegiatan pendampingannya ini karena anak perempuannya kerap sakit ketika kecil. “Saya kesulitan bolak-balik mengobati anak saya, jadi saya selalu trenyuh melihat peristiwa seperti ini,” tambah Ayu.

Ketika mengantar Riyan, Ayu tumben didampingi suaminya, Kamaluddin ZA yang telah pensiun sebagai dosen di Universitas Islam Indonesia. “Anak-anak saya juga sering ke Bali tapi bukan untuk liburan. Namun nganter pasien juga,” katanya sambil tertawa.

Banyak pasien miskin yang butuh pendampingan, menurut Ayu untuk mengurus administrasi surat miskin, pengurusan obat, dan pengurusan operasi. Karena itu Ayu dengan fasih hapal nama-nama dokter bedah dan dokter penyakit dalam di RS Sanglah.

Pengabdian Ayu memperlihatkan masih sulitnya warga mengakses sarana kesehatan khususnya untuk kasus darurat dan berbiaya tinggi.

Iklan

7 Tanggapan to "Ibu Ayu, I Cant do What u Did"

Ada orang-orang yang tak perlu dunia tahu bahwa ia juga menggerakkan dunia dengan cara yang luar biasa…, dan itu memang sungguh luar biasa.

yes, kan ku kejar orang2 luar bias itu untuk kupinta secuil kisahnya… tell me if u find them

Salut atas pengabdian Ibu Ayu, semoga tetep menginspirasi ayu-Ayu muda lainnya diluar sana. Fakta getir dunia kesehatan kita memang masih memprihatinkan, ya mbak …

Terus sebarluaskanlah perihal ini melalui tulisan di blog agar lebih banyak khalayak yang bisa sadar dan kemudian dapat memberdayakan pelayanan sosial (dan kesehatan) kita.

Salam hangat dari afrika barat!

hai mas domba,

apa kabar dunia di afrika?? dah demam piala dunia ya. kapan bisa ke afrika ya?

Sungguh luar biasa Ibu Ayu itu…saya kapan bisa seperti itu!!

Mbok Luh De, saya pengen bisa nulisa seperti ini…pelatihan dong!!

tunggu kelas jurnalisme warga ntar lagi di-launch..

saya juga mau nulis tentang orang-orang seperti itu mbok…. T.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

RSS Bale Bengong

  • Dek Alon Kembali Terpilih Memimpin Muntig
    Setelah dinyatakan lulus, Dek Alon melenggang bebas. Dek Alin menjabat sebagai Kelihan Banjar Dinas Muntig yang kedua kalinya. Sebelumnya, dia bertarung secara bermartabat dengan pesaingnya yaitu Ni Luh Putu Suparwati, istri calon anggota DPRD Kabupaten Karangasem. Mereka bertarung untuk memperebutkan satu kursi kepemimpinan untuk memimpin Banjar Muntig, Des […]
  • Ngiring, antara Pemberontakan Kultural dan Pelarian
    Semoga maraknya orang beragama bukanlah pelarian belaka. Makin sering kita lihat orang Bali berpakaian putih-putih dengan senteng atau kain yang dililitkan di pinggang berwarna poleng (belang) putih-hitam. Ada juga yang berpakaian mencolok dan berbeda dengan penampilan masyarakat pada umumnya. Mereka dengan atribut seperti itu sering dikatakan sebagai orang […]
  • Kalau Bisa Ditunda, Kenapa Buru-Buru Menikah?
    MBA adalah istilah lumrah sekitar 2006 silam. Waktu itu usia saya menginjak 24 tahun. MBA alias married by accident adalah istilah yang lumrah menjadi alasan orang menikah muda. Ini sampai menjadi standar dalam memilih jodoh di antara kawan-kawan saya. Kalimat khas yang masih membekas hingga kini adalah “coba dulu, baru […] The post Kalau Bisa Ditunda, Kenap […]
  • Seminar Konten Digital untuk Generasi Kreatif
    Ada lomba penyiar radio dan seminar nasional September ini. Komunitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMIK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana akan menggelar rangkaian kegiatan Communication Events (COMMET) 2017. Kegiatannya lomba penyiar radio dan seminar memproduksi konten digital. Rangkaian COMMET 2017 akan diawali dengan lomba […]
  • Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari
    Bali pada pertengahan 1990-an sangat bergairah dengan kegiatan sastra dan teater. Penyair-penyair muda juga tumbuh semarak. Salah satu penyair muda yang sangat berbakat pada saat itu adalah Putu Vivi Lestari. Selain menulis puisi, dia juga aktif di Teater Angin SMA 1 Denpasar. Saat itu, bersama teman-temannya, dia rajin menghadiri acara-acara […] The post Wa […]

Blog Stats

  • 125,827 hits
%d blogger menyukai ini: