kamarkecil

Warnai World Silent Day dengan Caramu Sendiri

Posted on: April 1, 2010

Novia Claudia Wijaya, 16 tahun, sibuk menjawab pertanyaan kenapa harus mematikan handphone selama empat jam, Minggu, di Vihara Vimalakirti, Kabupaten Badung. Remaja perempuan ini sudah tak asing dengan pertanyaan seperti itu karena hal yang sama juga dihadapinya seminggu ini di sekolahnya, SMAK Harapan Denpasar.

Sejak seminggu terakhir ini ia giat menggalang 10 juta tanda tangan untuk World Silent Day (WSD). “Karena sulit meminta orang menonaktifkan handphone, walau cuma 4 jam hari ini, kami akan memungut sampah plastik saja dia areal vihara,” ujar Novia.

Novia mengaku lebih mudah menggerakkan para orang tua di vihara dari pada teman-teman dan guru di sekolahnya. Karena itu, ia memanfaatkan kegiatan rutin diskusi umat Budha di Vihara Vimalakirti untuk menceritakan kenapa ia tertarik dengan ide WSD.

Saat itu di Vihara, umat yang datang tengah mendiskusikan soal kemandirian dan kemampuan personal. Sekitar 200 orang umat membuat tiga kelompok diskusi. Kelompok pria mendiskusikan mengenai kemandirian wanita, demikian sebaliknya. Sementara kelompok anak-anak dan remaja juga mendiskusikan persolan sekolah dan lainnya.

Novia menyeruak di tengah-tengah diskusi dan membawa isunya sendiri soal WSD. “Saya berhasil mendapatkan 350 tanda tangan dari sekolah dan ingin lebih banyak lagi dari umat di vihara saya ini,” katanya.

Jadilah, siang itu para umat sepakat untuk melakukan kerja bakti memungut sampah plastik di halaman dan luar Vihara. “Pokoknya hal sederhana soal penyelamatan lingkungan saja,” kata Ivy Sudjana, salah seorang pengurus vihara.

Menurutnya ide WSD ini bisa membumikan konteks Hari Nyepi di Bali yang lebih sarat dengan nilai ritual keagamaan. “Bahkan ketika Nyepi orang-orang kalap belanja, seperti dunia mau runtuh saja,” sentil Ivy. WSD bisa mendukung gagasan soal Nyepi ke seluruh dunia dan membuatnya sebagai gerakan global.

Sementara Lia Djohan, seorang ibu rumah tangga juga punya cara lain. “Suami dan anak-anak saya biasa sarapan di luar pada Hari Minggu. Saya ajak sarapan di rumah saja untuk empat jam WSD,” katanya. Akhirnya mereka sekeluarga membuat sarapan sendiri di rumah dan membaca. Lia sepakat bahwa kesadaran harus datang dari keluarga tentang lingkungan. “Semua orang punya cara sendiri, dan asik sekali kalau tau apa yang dilakukan orang lain,” ujarnya soal WSD.

Sejumlah LSM dan individu yang tergabung dalam Bali Collaboration for Climate Change (BCCC), pencetus WSD sebelumnya pada Sabtu melakukan kampanye dengan rali sepeda menelusuri Denpasar dan cleanup sungai, Tukad Badung.

Sedikitnya 100 remaja mengikuti kegiatan ini. Selama dua jam bersepeda mereka menyusuri jalanan Denpasar sambil memungut sampah plastik. Dilanjutkan memungut sampah di beberapa ruas Tukad Badung dan Pasar Badung, pasar tradisional terbesar di Bali.

Kegiatan ini diakhiri dengan pembacaan petisi di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. “Kami, penandatangan dan pendukung World Silent Day (Hari Hening Sedunia) dengan ini meminta agar pemerintah provinsi Bali dan pemerintah pusat Republik Indonesia untuk mengadopsi 21 Maret sebagai World Silent Day dan menyampaikan gagasan Hari Hening Sedunia agar diadopsi oleh PBB,” demikian bunyi petisi yang dibacakan Siska Kusumadewi, seorang remaja, Koordinator aksi WSD tahun ini. Petisi itu dilampiri dengan 9000 buah tanda tangan masyarakat hasil penggalangan dukungan selama dua tahun ini.

Menurut Siska, ada beberapa perusahaan dan lembaga yang menyatakan siap mengurangi aktivitas selama empat jam pada 21 Maret. Misalnya jaringan swalayan Hardys di Bali, komunitas web developer, dan lainnya.

WSD diputuskan dilaksanakan setiap 21 Maret sebagai respon terhadap Konferensi Internasional tentang Perubahan Iklim pada akhir Desember 2007 di Bali. WSD pertama pada 21 Maret 2008, dengan menyerukan kepada publik untuk mengurangi penggunaan peralatan elektronik selama empat jam, pada jam 10.00 – 14.00 waktu setempat.

Tak hanya di Bali, WSD juga mendapat respon dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri melalui website http://www.worldsilentday.org.

http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/22/bali-residents-observe-world-silent-day.html

Iklan

6 Tanggapan to "Warnai World Silent Day dengan Caramu Sendiri"

Hmm…, 10 juta tanda tangan…? Targetnya bukan main-main Mbak 🙂

10 juta gampang kok mas cahya. Saya saja bisa kok membuat 10 tandatangan. Tinggal goras-gores saja.

Tapi, salut untuk semangat para penggagas dan penggalak WSD. Semoga sukses..

betul, tapi salut sama semangatnya
sertakan tanda tangan saya, bisa gak jarak jauh? 😉

wah, salut sama adek Novia ini…benar-benar salut!

Salut sama Novia deh,
gak kaya aku yang kadang masih suka cuek sama lingkungan

Salam kenal ya Kak luh De..
titiang Blogger Bali

salam kenal dik purnama. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

RSS Bale Bengong

  • Merayakan Perpisahan Dua Monyet Kecil Secara Paripurna.
    Kicau burung hari ini terdengar begitu meriah, seperti gegap gempita para penonton sepak bola yang sedang merayakan gol ke gawang tim lawan, entah mereka sedang merayakan apa hari ini. Sepertinya mereka sedang berbincang tentang sesuatu yang saya sendiri tak tahu itu apa. Bicara soal burung, fauna yang begitu banyak ragam jenisnya ini, ada sebuah cerita... T […]
  • Pameran Kreatif tentang Pasar dan Kota Denpasar
    Interaksi dan kolaborasi para seniman dan desainer di DenPasar 2017. DenPasar adalah program baru di CushCush Gallery (CCG) yang bertujuan mengangkat kota Denpasar dalam pemetaan pergerakan seni dan desain di Bali. Dibentuk berupa pameran bersama yang akan dilakukan setiap tahun, DenPasar diharapkan dapat mewakili aspirasi-aspirasi generasi kreatif di masa k […]
  • Tahap Awal Pengelolaan Sampah di Tulamben
    Oleh Nyoman Suastika Pada hari Minggu, 21 Mei 2017 Bank Sampah Bersehati Tulamben mulai dibuka untuk pendaftaran nasabah, jumlahnya 40 nasabah. Tahap baru pengelolaan sampah di Dusun Tulamben, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem dimulai. Untuk tahap awal, operasional menabung di bank sampah akan dibuka setiap bulan pada hari Minggu ke-4. Pembukaan bank […]
  • Online To Offline Store Berrybenka Pertama di Bali
    Saat ini, offline selling yang berubah menjadi online selling merupakan hal yang biasa dan cukup terbilang sukses. Namun lain halnya dengan Berrybenka. Setelah sukses dengan penjualan secara online kini Berrybenka mengembangkan gerai offline di beberapa daerah di Indonesia. Sudah hampir 2 tahun Berrybenka fokus membuka gerai offline untuk menunjukkan keseriu […]
  • Dukungan untuk Program Perlindungan Air Tanah di Bali
    The Body Shop® Indonesia bergabung dengan IDEP dalam program perlindungan air tanah di Bali. Kami sangat senang karena IDEP memiliki pendukung perintis baru untuk program Penyelamatan Air Tanah Bali (BWP): The Body Shop® Indonesia. Disamping donasi yang diberikan, Body Shop® akan berkolaborasi bersama dengan IDEP mengembangkan BWP secara jangka panjang untuk […]

Blog Stats

  • 122,758 hits
%d blogger menyukai ini: