kamarkecil

Mengenang Mari, Seniman Bali asal Jepang

Posted on: Juli 21, 2010

I Kadek Suardana, seniman kontemporer serba bisa ini masih menunjukkan sisa sembab di wajahnya. Pada para tamu yang datang silih berganti mengucapan duka cita, Ia memaksa untuk menyambut dengan senyuman. Kadek amat terpukul setelah kehilangan Mari Nabeshima, istrinya dan pasangan tarinya di rumah.

Begitu juga ketika Wakil Gubernur Bali, AA Puspayoga kembali datang melihat jenasah Mari Nabeshima, istrinya pada Senin. Sebelumnya Puspayoga dan istrinya menemani Mari ketika menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Daerah Wangaya, Denpasar pada Minggu (4/7) dini hari. Mari meninggal karena dengue shock syndrome (DSS), akibat serangan nyamuk demam berdarah yang membuatnya tiba-tiba kehilangan kesadaran dengan cepat.

“Dia bukan hanya setengah jiwa tapi 2/3 bagian diri saya. Saya sangat menyesal tak bisa menyelamatkannya,” ujarnya berkali-kali.  Pandangannya terus lekat ke foto Mari yang sedang tersenyum meneduhkan, di atas peti jenazah berwarna hitam. Di dalam peti itu, Mari berselimut kain kasa dan es.

Sesajen aneka rupa dan dupa menemani Mari di pembaringan terakhirnya. Di atas bale-bale di Timur rumahnya. Bale suci ini bahkan Ia siapkan untuk mertuanya, Ni Ketut Santi, 89 tahun yang telah membimbingnya berdaptasi dengan kultur kekerabatan dan ritual aneka rupa di Bali.

“Mari mengkhawatirkan jika suatu saat Ibu meninggal dan tak ada bale itu. Tapi sekarang malah dia dahulu yang menggunakannya,” sesal Suardana. Selain bale daja itu, Mari juga sudah menyiapkan sebuah cincin batu mirah untuk mertuanya kelak dan kini ia gunakan di jari tangannya.

Di bale itu pula, Mari belajar membuat sesajen dengan cara mencatat penjelasan mertua, memotret cara pembuatan dan hasil akhir, dan mempraktekannya.

Almarhum Mari Nabeshima, 38 tahun, seniman dan budayawan asal Jepang yang sudah lekat dengan sebutan seniman Bali ini dikremasi dalam upacara Ngaben, Jumat (9/7) di Setra Badung. Sebelumnya pada Kamis (8/7) hari ini, Mari akan menjalani rangkaian upacara sebelum kremasi. Yakni Ngeringkes dan Ngajum. Sebuah prosesi suci penuh emosi bagi umat Hindu di Bali ketika para keluarga dan handai taulan menyentuh jenasah dan memandikannya.

Para kerabat Mari dari Jepang juga sangat terkejut dengan kabar ini dan langsung terbang ke Denpasar untuk mengikuti rangkaian upacara Pitra Yadnya untuk Mari yang akan dilaksanakan oleh warga Banjar Taensiat, Denpasar Utara, tempat tinggalnya. Mari dan suaminya, Kadek Suardana hidup berdampingan dengan mertua serta saudara sehingga hubungan kekerabatan dan sosialnya terjalin baik.

“Beberapa pedagang di Pasar Satria yang akrab dengannya ketika berbelanja juga datang dan memberikan doa di bale itu,” kata Suardana. Demikian juga sejumlah wartawan yang kerap menulis berita seni budaya, Dinas Kebudayaan, Walikota, Wagub, dan peneliti dari Amerika dan Jepang.

Jadwal pentas dan diskusi kebudayaan Mari sesaat meninggal dan setelahnya sangat padat. Pada Sabtu, akhir pekan lalu Mari dan kelompok Abiyoga baru saja usai mementaskan drama tari bertajuk “Tajen” di Pesta Kesenian Bali. Ia memainkan piano dan flute malam itu.

Selanjutnya, Ia dan suaminya berangkat ke Jogjakarta untuk mengisi workshop seni yang dihelat oleh seniman dari Leiden, Belanda dan Tasmania. Jelang berangkat, suhu tubuhnya sudah mulai tinggi tapi Mari memaksa tetap berangkat untuk menghargai kerja keras rekan-rekannya yang telah menyiapkan perhelatan seni itu selama setahun. “Saya malu kalau tidak datang mengapresiasi kerja keras mereka,” Kadek Suardana mengingat alasan Mari ketika itu.

Mari juga tengah menyiapkan pentas Gong Kebyar Dharma Swara Negara dari New York yang dijadwalkan pentas di Pesta Kesenian Bali. Mari akan memainkan alat music Calung pada pagelaran itu nanti. Namun, semangat Mari tak mampu meredam virus DBD yang mulai melumpuhkan organ tubuhnya, walau tak menunjukkan gejala khas.

Menurut cerita Suardana, Mari hanya menunjukkan demam, tak ada ngilu atau muntah pada beberapa hari pertama. Bahkan sehari sebelum meninggal, Ia terlihat akan sembuh dengan cepat. “Komplikasi pada paru-parunya juga,” ujar Suardana.

Mari, seorang etnomusikolog dan pemikir budaya asal Jepang ini menemukan tambatan hatinya di Bali lalu menikah dengan Kadek Suardana, salah satu composer, penari, dan pendiri Arti Foundation pada 2002. Lembaga ini menghasilkan sejumlah karya tari, drama, music, dan teater dan menjadi barometer pagelaran seni klasik kontemporer di Bali.

Kecintaannya pada Bali membuat ia tak henti berkarya dan mengikuti dialog kebudayaan, baik di Bali maupun luar Bali. Ia tercatat aktif mengisi Pesta Kesenian Bali, membuat konsep dan naskah drama tari, serta ikut dalam Kongres Kebudayaan Bali.

Mari Nabeshima mengenal pertama kali gamelan Bali di kampusnya di Tokyo, Jepang, tempat ia mendapat gelar PhD untuk hasil riset soal Kidung dalam Bahasa Bali Kawi. Ia lalu menjadi ethnomusicologist lulusan Tokyo National University of Fine Art and Music. Ia juga belajar tabuh dan tari Bali setelah mendapat beasiswa dari Kementrian Kebudayaan Jepang.

Salah satu karyanya yang fenomenal adalah drama tari Sri Tanjung- The Scent of Innocence pada 2009. Ia membuat konsep music, tari, dan naskah yang diadopsi dari cerita klasik Banyuwangi, Jawa Timur itu.

Salah seorang penulis novel dan fotografer, Iwan Darmawan mengaku sangat kehilangan teman diskusi. “Ketemu terakhir saya masih dibuatkan kopi, sesaat sebelum pentas “Tajen” di PKB Sabtu lalu,” ujarnya.

Iwan mengatakan Mari adalah pembaca awal draf novelnya, Ayu Manda yang terbit tahun ini. “Setelah dia baca, dikomentari kelebihan dan kekurangannya. Lalu saya kontruksi ulang novel atas saran Mari,” kenang Iwan. Ia mengaku akan terus mengingat senyum ramah Mari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Juli 2010
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

RSS Bale Bengong

  • Mari Merayakan Nyepi di Google
    Mari merayakan dan memaknai Nyepi di Google, rumah bagi banyak orang, rumah kita yang baru. Google adalah ranah di mana segala narasi hidup kontemporer kita muarakan, tempat segala ketidaktahukan kita tanyakan, kita kembalikan, kita awalkan. Mesti diakui, Google telah bergerak menjadi “kawitan” baru bagi kita. Mari kita mulai merayakan dan memaknai Nyepi di […]
  • Switch Off 2017 Ajak Warga Bali Hemat Energi
    Komunitas Earth Hour mengadakan kembali Kampanye Switch Off.  Kegiatan tahunan ini dipusatkan di Lippo Mall Kuta Jalan Kartika Plaza, Kuta, Kabupaten Badung pada Sabtu (25/3) 2017. Switch Off merupakan kegiatan mematikan lampu selama satu jam. Waktunya dari pukul 20.30 WITA hingga 21.30 WITA. Kegiatan Swich Off serentak dilakukan di 35 Kota di Indonesia dan […]
  • Sambut Nyepi, Supersoda Rilis Lagu “Sunyi Senyap”
    Banyak cara menyambut hari raya Nyepi. Band asal Jimbaran Bali, Supersoda meluncurkan lagu berjudul “Sunyi Senyap”. Ini adalah peluncuran pertama selama tiga tahun, semenjak single “Kenari” memperoleh respon yang cukup baik di soundcloud (22,8K hits). Terinspirasi oleh film “The Secret Life of Walter Mitty”, ini adalah lagu ringan mengenai refleksi diri, seb […]
  • Danau Buyan Meluap, Petani Rugi Ratusan Juta
    Tak ada lagi tanaman stroberi di kebun Gede Sudarsana. Lahan seluas 3 hektar di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali itu kini terendam air. Sejak sekitar sebulan lalu, lahan ratusan petani di tepi Danau Buyan itu pun tak lagi berfungsi, seperti halnya Gede. Kebun itu kini lebih serupa rawa-rawa. Tidak ada lagi satu pun... The post Dan […]
  • Inilah Panduan Melihat Lumba-lumba di Lovina
    Puluhan jukung memecah kesunyian pagi di Pantai Lovina di bagian utara Bali. Mereka mulai dari sejumlah titik penjemputan turis. Titik-titik lumba-lumba mulai mencari makan dan muncul di permukaan perairan obyek wisata Lovina, Kabupaten Buleleng, Bali. Sekitar pukul 6.30 WITA, kerumunan jukung sudah berkumpul di titik kumpul populasi lumba-lumba ini. Dari be […]

Blog Stats

  • 120,928 hits
%d blogger menyukai ini: