kamarkecil

Memburu Sulap, Eh Klenger

Posted on: Oktober 7, 2010

Ni Luh Paswati melewati perjalanan darat selama 3,5 jam dengan bus bersama puluhan anak lain dari dusun terpencil di Kubu, Karangasem untuk bisa menonton pertunjukkan sulap selama satu jam. Bus berhenti beberapa kali karena sebagian anak dan orang tua pendamping mabuk dan muntah di pinggir jalan.

Paswati menarik jaketnya dengan kedua tangannya. Kepala dan telapak tangannya sudah tertutup jaket baru berwarna merah itu. Wajahnya masih terlihat pucat walau beberapa kali nampak tersenyum menonton magic show, Sabtu (2/10) malam kemarin di The Westin International. Sebuah hotel mewah langganan konferensi internasional di Nusa Dua, Badung.

Di dua buah layar raksasa, pesulap bernama Rhomedal ini terlihat memperlihatkan trik-trik sulap sederhana yang direspon sorakan histeria anak-anak. Ratusan anak berusia rata-rata di bawah 15 tahun malah merangsek di bibir panggung dan berebut menjadi relawan pesulap di panggung. Suasana meriah diringi dentaman musik lagu-lagu Justin Beiber, penyanyi pop remaja yang sedang populer di Amerika Serikat.

Di barisan tempat duduk rombongan Paswati dan teman-temannya ini bau balsam dan minyak angin sangat menyengat. “Saya kedinginan dan masih merasa mual,” ujar Paswati lemah. Tak hanya Paswti, tapi wajah pucat terlihat di beberapa orangtua pendamping dari desa. Pendingin ruangan di ruang utama conference hall The Westin memang hal baru buat anak-anak dan orang tua dari Dusun Sukadana dan Tianyar ini.

Sementara di dalam ruangan dingin itu, sebagian penoton dan anak-anak lain malah mengggunakan tanktop atau baju tanpa berjaket. Sebagian besar anak dan penonton adalah orang asing yang ingin melewatkan malam minggu dengan pertunjukan sulap bertajuk A Magical Night with Rhomedal The Master.

“Saya sudah siap-siap lima hari sebelumnya biar bisa datang kesini. Ini kedatangan pertama saya ke Badung,” ujar Ni Nengah Juliartini. Untuk anak perempuan 10 tahun ini, perjalanan ke Nusa Dua untuk pertujukkan sulap adalah petualangan. “Seumur hidup mungkin hanya sekali ini saya bisa kesini dan nonton sulap,” katanya.

Yang memberikan petualangan baru untuk anak-anak ini adalah I’m An Angel (IAA), sebuah komunitas filantropis yang beberapa kali membuat program kemanusiaan di desa mereka. Asana Viebeke Lengkong, pendirinya, menyiapkan 50 tiket khusus untuk anak-anak dari Karangsem ini. Di tiket, tertera harga tiket untuk sesi magic lesson Rp 100.000 dan magic show Rp 50.000.

IAA juga menyiapkan transport, konsumsi, sampai jaket untuk mereka. “Saya yakin perjalanan mereka turun gunung dari rumahnya yang terpencil sangat berat,” ujar Asana. Menurutnya, anak-anak ini hidupnya sangat memprihatinkan. Setiap hari berjalan kaki lebih satu jam untuk sekolah, nutrisi buruk dan sangat rentan putus sekolah.

Sebelum pertunjukkan sulap mulai, IAA mengajak anak-anak bermain di pantai perairan Nusa Dua dan membuat berbagai games. “Bermain di pantai juga baru pertama kali buat saya. Pantai dari rumah saya jauh,” kata Paswati, anak perempuan 12 tahun ini. Ia malah baru merasakan pasir pantai putih di pantai yang dibersihkan oleh petugas hotel-hotel berbintang lima di Nusa Dua.

Menurut Asana, sangat sulit menjaga anak-anak dari desa miskin ini untuk tetap mau sekolah. Terlebih anak-anak yang tidak punya orangtua atau saudara. “Anak-anak yang ditinggal oleh orang tua dan di urus oleh tetangga, kita dekati dengan memberikan pakaian, uang saku, dan mendekati wali mereka agar mau mendukung ke sekolah,” kata Asana yang menyebut mendampingi lebih dari 20 ribu orang anak-anak miskin.

Karena itu pada 2010, IAA membuat program “earlychildhood education” untuk umur 1-5 tahun. Mendekatkan pendidikan sedini mungkin dan memaksa orang tuanya ikut bermain agar termotivasi bahwa pendidikan itu penting. Terutama di daerah daerah yang miskin dan terpencil.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Provinsi Bali, saat ini di seluruh Bali tercatat 129.848 orang anak usia sekolah (6-18 tahun) berasal dari keluarga miskin. Anak usia sekolah dari keluarga miskin inilah yang terancam putus sekolah atau tidak bisa sekolah. Kepala Disdikpora Provinsi Bali I Wayan Suasta mengatakan tiga kabupaten dengan anak usia sekolah dari keluarga miskin yang tinggi yakni, Buleleng, Karangasem dan Bangli.

Berdasarkan data tahun 2009 sebanyak 1898 siswa SD, SMP, dan SMA/SMK yang putus sekolah di Bali. Sementara jumlah warga berusia 15-44 tahun yang buta aksara sebanyak 16.441 orang. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) Bali, secara keseluruhan jumlah penduduk buta huruf sekitar 250 ribu orang.

Pemprov Bali mencegah bertambahnya putus sekolah dengan mengalokasikan dana pendamping Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Rp 10,74 miliar lebih untuk pendamping BOS SD dan Rp 8,79 miliar lebih untuk pendamping BOS SMP. Tiap siswa SMA mendapat uang tunai Rp 400 ribu per tahun dan siswa SMK Rp 500 ribu per tahun.

Menurut Asana, pemberian uang tunai tidak akan mencegah anak putus sekolah selama sarana dan prasarana pendukung belum ada. Misalnya kurangnya gedung sekolah, tak ada transport umum, dan jumlah guru yang cukup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Oktober 2010
S S R K J S M
« Agu   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

RSS Bale Bengong

  • Kain Tenun Rangrang Nusa Penida Kian Terlupakan
    Hal unik dari kain tenun Ranrang adalah, kita bisa mengenakannya di kedua sisi. Tak seperti kain lain, jika dijahit hanya kelihatan bagus di satu sisi. Potensi Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali sebagai penghasil Kain Tenun Rangrang kini makin tenggelam. Rangrang merupakan kain bebali berwarna-warni terang dengan inspirasi motif berasal […]
  • WALHI Bali Protes Draf Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional
    Konsultasi publik terkait penyusunan Perpres Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional (RZ KSN) kembali dilaksanakan pada Selasa, 25 Februari 2020 yang bertempat di Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Denpasar. Konsultasi publik ini merupakan lanjutan dari konsultasi yang sebelumnya diadakan oleh Kementerian Kelautan dan Peri […]
  • Perempuan Terdampak Skizofrenia Menumbuhkan Kehidupan
    Hindu, anggota Rumah Berdaya-Kelompok Peduli Skizofrenia Indonesia (RB-KPSI Simpul Bali) menggoreskan kuasnya dengan gambar sebuah pohon. Di antara pohon ada teks: Kami Berbicara Kami Mendengar. Kanvas ini direspon oleh seluruh peserta Kelas Jurnalisme Warga: Ekspresi ODGJ pada 17 Januari 2020 di sekretariat RB. Tanpa disangka, yang pertama kali maju adalah […]
  • Pajeromon, Umpatan ROLLFAST pada Ajik Berbadan Kekar
    Dua merek khas pria dalam satu lagu untuk mengkritik ajik-ajik. Digimon Adventure merupakan serial anime Jepang yang diproduksi sekitar akhir 1990-an dan awal 2000-an. Seingat saya hadir di layar kaca tiap Minggu. Anime ini mengisahkan petualangan tokoh-tokohnya di dunia digital. Tentu saja sekaligus persahabatannya dengan Digimon (Digital monster). Agomon, […]
  • Jelajah Wilayah Hokuriko dengan Hokuriko Area Pass
    Hokuriku area pass adalah layanan transportasi untuk digunakan secara eksklusif bagi wisatawan asing. Pelayanan ini menyediakan perjalanan selama empat hari berturut-turut tanpa batas dengan kereta JR (Japan Railway) dan jalur bus yang telah dipilih di wilayah Hokuriku, Jepang. Dengan menggunakan layanan transportasi ini, Anda dapat menjelajahi daerah sekita […]

Blog Stats

  • 139.245 hits
%d blogger menyukai ini: