kamarkecil

Bali Masih Dihantui Ribuan Anak Putus Sekolah

Posted on: Juli 21, 2010

Ni Kadek Sinta, anak perempuan 13 tahun ini bekerja sebagai tukang suun (buruh angkut) di Pasar Badung selama 11 jam per hari.  Dari tengah hari sampai tengah malam, tanpa waktu libur. Ia hanya mengenyam bangku sekolah dasar sampai kelas 4.

Demikian juga dua adik perempuannya, yang harus membantu ibunya yang juga tukang suun di pasar terbesar di Bali dan beroperasi 24 jam itu.

Sedikitnya ada 50 tukang suun anak putus sekolah atau tak sekolah sama sekali di Pasar Badung saja. Belum lagi sekitar 100 anak lain yang bekerja sebagai pedagang buah keliling di seputaran Denpasar dan Badung.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali I Gusti Ngurah Widiartha mengatakan diperkirakan jumlah anak putus sekolah tahun ajaran baru ini lebih dari 1000 orang. “Kami belum mendapat data pasti karena tahun ajaran baru dimulai 12 Juli ini,” ujarnya.

Seperti pengalaman sebelumnya, untuk mengetahui jumlah siswa putus sekolah, jumlah lulusan SMP misalnya akan dibandingkan dengan jumlah siswa baru SMA atau SMK serta kerja paket C. Demikian juga untuk siswa SD dan SMP.

Berdasarkan data tahun lalu saja, pada 2009 sebanyak 1898 siswa SD, SMP, dan SMA/SMK yang putus sekolah di Bali. Jumlah ini adalah data yang dilaporkan Dinas Pendidikan per kabupaten dari sekolah swasta dan negeri saja. “Kemiskinan dan akses jumlah tempat duduk di sekolah menjadi penyebab banyaknya siswa putus sekolah di Bali,” kata Widiartha.

Sementara jumlah warga berusia 15-44 tahun yang buta aksara terakhir sebanyak 16.441 orang. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) Bali, secara keseluruhan jumlah penduduk buta huruf sekitar 250 ribu orang.

Widiartha melihat investasi dumber daya manusia di Bali memang belum maksimal. Misalnya melalui pendanaan pendidikan dan life skill. “Pariwisata masih menjadi program unggulan, padahal bisnis pariwisata sangat labil,” katanya.

Masih tingginya angka buta aksara dan putus sekolah ini membuat pemerintah merancang wajib sekolah 12 tahun mulai tahun ini. Widiartha menjelaskan, secara teknis dilakukan dengan tiga strategi. Pertama, menambah ruang kelas baru di kabupaten yang  jumlah kursinya lebih kecil dari siswa.

Kedua, memberikan dana operasional pendidikan untuk siswa SMA Rp 400 ribu per orang dan Rp 500 ribu untuk siswa SMK. Dana operasional ini diberikan ke sekolah dan sebagai subsidi pengurangan biaya sekolah. Dana ini diberikan bagi siswa sekolah negeri maupun swasta.

Ketiga, pembangunan unit sekolah baru di daerah terpencil yang secara geografis sulit dijangkau warga. “Yang membuat banyak anak putus sekolah kan karena juga kesulitan mengakses sekolah karena jauh dari desa,” jelas Widiartha.

Ia mencontohkan di Dusun Klumpu, Nusa Penida, Klungkung. Sebanyak 42 kepala keluarga sulit mengakses sekolah karena jaraknya jauh. “Pemberian hewan ternak untuk menyokong ekonomi keluarga tak cukup berhasil untuk memastikan ratusan anak-anak di sana bisa sekolah,” katanya.

Pembangunan unit sekolah di daerah terpencil ini diprioritaskan untuk Kabupaten Buleleng, Karangasem, Klungkung, dan Bangli. “Kami akan menandatangani MoU dengan seluruh pimpinan daerah untuk strategi wajib belajar 12 tahun yang dimulai tahun ajaran baru ini,” tambahnya.

Widiartha mengatakan membutuhkan partisipasi masyarakat luas untuk ikut mengentaskan buta huruf dan putus sekolah. “Masyarakat Bali tak punya kebiasaan untuk mendonasikan uang untuk membantu orang lain. Ini yang harus digerakkan,” ujarnya.

Iklan

2 Tanggapan to "Bali Masih Dihantui Ribuan Anak Putus Sekolah"

Keren semua postingannya.
keren tulisannya..
salam kenal ya..

kalo saya boleh bilang, ini merupakan salah satu kegagalan dalam merealisasikan uu no 23 th 2002, Hak anak untuk mendapatkan pendidikan belum bisa terpenuhi hingga saat ini. Sungguh ironi ketika Bali mendapatkan peringkat Nilai Ujian tertinggi (bahkan di Indonesia), namun di balik itu pendidikan secara merata belum dilaksanakan. Kemana janji pemerintah untuk berkomitmen meningkatkan pendidikan anak indonesia? Hendaknya bantuan pendanaan diberikan tepat sasaran. ya dan memang…tentunya semua pihakpun diharapkan berpartisipasi aktif untuk mendukung program pendidikan yg ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Juli 2010
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

RSS Bale Bengong

  • Dek Alon Kembali Terpilih Memimpin Muntig
    Setelah dinyatakan lulus, Dek Alon melenggang bebas. Dek Alin menjabat sebagai Kelihan Banjar Dinas Muntig yang kedua kalinya. Sebelumnya, dia bertarung secara bermartabat dengan pesaingnya yaitu Ni Luh Putu Suparwati, istri calon anggota DPRD Kabupaten Karangasem. Mereka bertarung untuk memperebutkan satu kursi kepemimpinan untuk memimpin Banjar Muntig, Des […]
  • Ngiring, antara Pemberontakan Kultural dan Pelarian
    Semoga maraknya orang beragama bukanlah pelarian belaka. Makin sering kita lihat orang Bali berpakaian putih-putih dengan senteng atau kain yang dililitkan di pinggang berwarna poleng (belang) putih-hitam. Ada juga yang berpakaian mencolok dan berbeda dengan penampilan masyarakat pada umumnya. Mereka dengan atribut seperti itu sering dikatakan sebagai orang […]
  • Kalau Bisa Ditunda, Kenapa Buru-Buru Menikah?
    MBA adalah istilah lumrah sekitar 2006 silam. Waktu itu usia saya menginjak 24 tahun. MBA alias married by accident adalah istilah yang lumrah menjadi alasan orang menikah muda. Ini sampai menjadi standar dalam memilih jodoh di antara kawan-kawan saya. Kalimat khas yang masih membekas hingga kini adalah “coba dulu, baru […] The post Kalau Bisa Ditunda, Kenap […]
  • Seminar Konten Digital untuk Generasi Kreatif
    Ada lomba penyiar radio dan seminar nasional September ini. Komunitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMIK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana akan menggelar rangkaian kegiatan Communication Events (COMMET) 2017. Kegiatannya lomba penyiar radio dan seminar memproduksi konten digital. Rangkaian COMMET 2017 akan diawali dengan lomba […]
  • Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari
    Bali pada pertengahan 1990-an sangat bergairah dengan kegiatan sastra dan teater. Penyair-penyair muda juga tumbuh semarak. Salah satu penyair muda yang sangat berbakat pada saat itu adalah Putu Vivi Lestari. Selain menulis puisi, dia juga aktif di Teater Angin SMA 1 Denpasar. Saat itu, bersama teman-temannya, dia rajin menghadiri acara-acara […] The post Wa […]

Blog Stats

  • 125,827 hits
%d blogger menyukai ini: