kamarkecil

Archive for Desember 2007

sampah-tpa3-resize.jpgSeharian penuh hujan lebat bikin otak adem. So, pas mikir tahun depan mau ngapain, langsung nyamber. Kami mau buat dua tong sampah besar. Tong sampah ini ntar digambar dulu ma anak-anak NAKNIK di gang kami. Terserah deh, mau corat-coret apa aja.

Kenapa tong sampah? Daerah mukim kami di Subak Dalem saat ini menjurus ke pembuangan sampah liar yang menyulut konflik. Sebagian orang buang di lahan terbuka, sebagian lagi buang ke sungai. Pokoknya bebas hambatan. Nah, buang ke lahan kosong ini biasanya jadi konflik karena sampah ga ada yang ngurus, cuma ditumpuk. Belum lagi kalau terbang kemana-mana. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Sekira 8.40 Wita, saya sudah sampai RS Puri Raharja. Tiga puluh menit sebelumnya, Pekak-nya Bani di Jalan Banteng menelepon. ”Jojo ngamar di Puri Raharja,” katanya. Saya tidak terlalu terkejut, karena malam sebelumnya sempat ke Banteng dan tahu kalau ponakanku itu lagi lemes, tiga hari ini diare.

Setelah dua puluh menit di kamar 328, tempa Jojo dirawat, Bapak mengajak ke RS Indera untuk periksa mata. Ia ingin memastikan bahwa mata kirinya yang tak lagi bisa melihat itu benar-benar katarak. Juga ingin memasstikan berapa biaya total untuk operasi. Sebelumnya Bapak dikasi tahu kalau biayanya Rp 900 ribu dengan operasi canggih. Baca entri selengkapnya »

Hampir seminggu ini saya metulungan (bantu) ke rumah sepupu yang mau nganten (nikah). Suasananya chaos—horor banget yee–, seperti bakal ada tsumani besok trus orang2 sibuk menyelamatkan dokumen rahasia keluarga.

Seminggu itu ada sekitar tiga puluh orang (70% perempuan) yang rutin metulungan. Setiap orang sibuk dengan kerjaaannya. Suntuk sekali. Kecuali para pria yang bekerja sangat rileks, tak pernah mereka mendiskusikan apa yang dilakukan. Mereka malah bisa ngobrol bebas hambatan. Maklum pekerjaan mereka memang standar, membuat tusuk sate dari bambu dan merajang bumbu untuk pelenkap nampah (motong) babi. Baca entri selengkapnya »

Mbabbbbaaaa…. Mbbbububuuuu… (geleng-geleng, angguk-angguk) bani teriak-teriak gak jelas. Sepuluh detik dibiarin, makin kenceng teriaknya… ba..bu..ba..bu…

Kalau udah gak jelas gini, jurusnya dikeluarin. Tunjuk tangan ke atas, nyanyi leng-geleng-geleng-geleng3x, guk angguk-angguk-angguk3x……

Nah, bani diem deh. Ikut angkat telunjuk (geleng-geleng, angguk-angguk).

Luh De Suriyani

Sudah lebih dari dua kali Ibu Jero, 36 tahun, melakukan testimoni di kantor DPRD Bali dan kantor gubernur. Terakhir, saya melihatnya kembali diundang untuk testimoni di Kantor Gubernur Bali akhir Oktober lalu. Perempuan dengan HIV/AIDS (Odha) itu masih saja menanyakan hal yang sama. Kenapa saya harus kena HIV? Adakah perempuan lain yang juga kena?

Ibu Jero adalah petugas pengangkut sampah di daerah Denpasar Timur. Setiap kali diundang testimoni ia tidak bisa menceritakan secara langsung bagaimana ia hidup dengan HIV selama beberapa tahun ini. Dengan Bahasa Bali, Jero hanya bisa menjawab paling banyak dua kata setiap kali pertanyaan dilontarkan padanya untuk membuat dia bicara.

Sangat beralasan kenapa Bu Jero selalu linglung jika ditanya asal muasal virus HIV yang kini dalam tubuhnya. “Kenapa harus saya yang kini menjelaskan, padahal saya tidak tahu apa-apa. Tanya suami saya yang sudah meninggal,” tukas perempuan yang kelihatan lebih tua dibanding usianya itu.

Baca entri selengkapnya »


if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.renderWidget('f7506fb9-0736-4d9f-b97e-86fa89449348');Get the Bali Blogger Community widget and many other great free widgets at Widgetbox! Not seeing a widget? (More info)

a

slide

Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

RSS Bale Bengong

  • Catatan Mingguan Men Coblong: Teror
    Belakangan ini hati dan perasaan Men Coblong terasa “rusuh”. Sepertinya hari-hari yang dijalani terasa berat dan “wagu”. Seolah ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang sangat mengganggu tetapi sulit diurai. Sesuatu yang mengusik tetapi tidak bisa diusik. Setiap membaca berita-berita daring Men coblong tercekat. Peristiwa teror di Surabaya, kota yang sangat […]
  • Karena Ikan Bukan untuk Dihabiskan, tapi Diwariskan
    Dengan sekuat tenaga, Hamdani melemparkan pakan ikan ke keramba. Begitu pelet-pelet jatuh ke air, ikan-ikan pun langsung naik ke permukaan. Air berkecipak ketika ikan-ikan kakap yang siap dipanen itu saling berebut makanan pada Kamis, 10 Mei 2018 lalu. Dibantu karyawan lain, Kepala Bagian Pembesaran di PT Bali Barramundi, itu kembali […] The post Karena Ikan […]
  • Bentara Budaya Gelar Obituari Penyair Vivi Lestari
    Sudah setahun lebih penyair Vivi Lestari berpulang sejak April 2017 lalu. Kini melalui program Dialog Sastra #60 Bentara Budaya Bali (BBB) akan mengetengahkan diskusi mengenai capaian karya-karya puisi Putu Vivi Lestari. Agenda yang akan berlangsung pada Jumat, 18 Mei 2018 itu, sekaligus sebentuk obituari bagi Vivi. Putu Vivi Lestari merupakan […] The post B […]
  • Aliansi Pemuda Bali Kecam Aksi Terorisme
    Di sisi lain, aksi terorisme justru menyatukan pemuda di Bali. Berbagai elemen masyarakat Bali yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Bali mengadakan aksi solidaritas pada Rabu, 16 Mei 2018, pukul 16.00 WITA di Lapangan Timur Monumen Perjuangan Rakyat Bali Renon Jalan Puputan Raya Renon, Denpasar. Aksi damai dalam keberagaman ini dipicu […] The post Aliansi Pem […]
  • Habis Sawah, Terbit Toko Modern, lalu Mati!
    Sebagai kota penyangga Denpasar, Tabanan berkembang cepat. Beberapa kawasan tampak berubah drastis seperti jalur By Pass Denpasar – Gilimanuk terutama di kawasan Kecamatan Kediri, Tabanan. Toko dan pusat perbelanjaan berjajar di sepanjang jalan penghubung Jawa – Bali ini. Perubahan ini tentunya berdampak langsung terhadap lingkungan di wilayah tersebut. Maki […]

Blog Stats

  • 132,530 hits
Iklan